Strategi Unilever (UNVR) Hadapi Pelemahan Rupiah 2026, Ini Jurus Terbarunya

Strategi Unilever (UNVR) Hadapi Pelemahan Rupiah 2026, Ini Jurus Terbarunya
Foto: Strategi Unilever (UNVR) Hadapi Pelemahan Rupiah 2026, Ini Jurus Terbarunya. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

PT Unilever Indonesia Tbk. sedang berupaya menghadapi tantangan pelemahan nilai tukar rupiah yang berdampak pada kenaikan biaya bahan baku. Sepanjang tahun ini, perusahaan akan dihadapkan pada kenaikan biaya yang tidak terhindarkan. Nilai tukar rupiah yang melemah juga mempengaruhi prospek kinerja perusahaan ke depan.

Neeraj Lal, Direktur Keuangan Unilever Indonesia, menjelaskan bahwa perang antara Iran dan AS yang memengaruhi harga energi serta pelemahan rupiah, menjadi faktor utama kenaikan biaya pada tahun ini. "Nilai tukar mata uang adalah salah satu faktor yang menimbulkan tekanan inflasi terhadap bisnis kami," ujarnya pada paparan publik Unilever.

Untuk merespons tantangan tersebut, Unilever mengambil langkah-langkah strategis seperti penyesuaian harga, disiplin biaya, optimalisasi investasi, dan adopsi strategi hedging. Langkah-langkah ini diharapkan bisa membantu mengelola risiko inflasi yang dihadapi perusahaan.

Strategi Unilever Mengatasi Tantangan Nilai Tukar:

  • Melakukan penyesuaian harga untuk menyesuaikan dengan kenaikan biaya.
  • Menerapkan disiplin biaya guna menjaga efisiensi operasional.
  • Optimalisasi investasi agar lebih efisien dan tepat sasaran.
  • Adopsi strategi hedging mengurangi dampak negatif dari fluktuasi nilai tukar.

Unilever juga menyatakan, meski ada eksposur terhadap mata uang asing, kegiatan ekspor perusahaan membantu mengimbangi sebagian dampaknya. Presiden Direktur Benjie Yap menyebut tekanan inflasi dari konflik Iran-AS akan lebih terasa pada paruh kedua 2026, terutama di segmen Home Care yang paling terdampak.

Untuk menjaga pertumbuhan, Benjie menekankan pentingnya peningkatan volume penjualan dan inovasi produk. Penyesuaian harga di kategori Home Care juga akan dilakukan pada paruh kedua tahun ini. Fokus utama Unilever adalah meningkatkan pertumbuhan penjualan dan memperbaiki margin secara moderat.

Menurut Muhammad Wafi dari KISI Sekuritas, pelemahan rupiah dapat membebani Unilever dari segi biaya bahan baku impor dan royalti yang harus dibayar dalam dolar AS. Unilever dinilai memiliki resiliensi terbatas, mengingat impor bahan baku mencapai 40-45% dari COGS. Meski begitu, efisiensi pabrik dapat membantu mengelola biaya energi yang meningkat.

Wafi menyarankan percepatan penggunaan bahan baku lokal dan memperluas segmen value-for-money untuk mengatasi tantangan tersebut. Jika kurs rupiah terhadap dolar AS dapat turun di bawah Rp17.500, ini akan menjadi katalis positif bagi Unilever. KISI merekomendasikan untuk menahan saham Unilever dengan target harga Rp2.100 per saham.

Abdul Azis Setyo dari Kiwoom Sekuritas berpendapat bahwa meskipun menghadapi tantangan baru, prospek Unilever tetap stabil. Namun, pelemahan rupiah dan kenaikan biaya energi bisa menekan margin perusahaan di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Inovasi produk dan penambahan kemasan terjangkau dinilai penting untuk mempertahankan dan meningkatkan penjualan.

Untuk menjaga margin, Unilever perlu memperkuat penjualan digital dan menjaga efisiensi biaya. Dengan rekomendasi trading buy, target harga saham Unilever berada di kisaran Rp1.730—Rp1.750 dengan support di Rp1.530.

Artikel terkait

Rekomendasi