Industri Keramik Desak PGN Transparan soal Struktur Harga Gas Terbaru 2026

Industri Keramik Desak PGN Transparan soal Struktur Harga Gas Terbaru 2026
Foto: Industri Keramik Desak PGN Transparan soal Struktur Harga Gas Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki) mendesak pemerintah untuk segera turun tangan mengatasi persoalan harga dan pasokan gas bumi. Faktor ini dinilai krusial dalam menjaga daya saing industri keramik nasional di tengah tekanan global.

Ketua Umum Asaki, Edy Suyanto, mengungkapkan bahwa tren kenaikan harga gas sebenarnya juga melanda negara-negara pesaing. Fenomena ini menjadi tantangan bersama bagi para produsen keramik di kawasan Asia Tenggara.

Perbandingan Harga Gas di Negara Tetangga

Berikut adalah rincian estimasi kenaikan harga gas bumi di beberapa negara pesaing Indonesia:

Negara Harga Lama (per MMBTU) Harga Saat Ini (per MMBTU)
Thailand 9 Dollar AS 12 Dollar AS
Malaysia 9,4 Dollar AS 10 - 11 Dollar AS
Indonesia (Rata-rata) - 15 Dollar AS

Data di atas menunjukkan bahwa meskipun negara tetangga mengalami kenaikan, posisi harga gas di Indonesia tetap menjadi yang tertinggi. Hal ini tentu memberikan beban tambahan bagi biaya operasional pabrik di dalam negeri.

Tantangan Pasokan dan Utilisasi Industri

Edy menjelaskan bahwa kondisi di Indonesia saat ini tergolong cukup menantang bagi para pelaku usaha. Saat ini, industri keramik hanya mendapatkan alokasi gas sebesar 40 persen dengan harga khusus 7 dollar AS per MMBTU.

Untuk menutupi kekurangan tersebut, industri harus membeli gas dengan harga pasar yang jauh lebih mahal. Akibatnya, rata-rata biaya gas yang harus ditanggung produsen mencapai kisaran 15 dollar AS per MMBTU.

Situasi ini memicu kekhawatiran serius karena dapat menghambat target peningkatan utilisasi produksi industri nasional. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Edy Suyanto dalam keterangan resminya pada Sabtu (6/6/2026).

Kebutuhan energi dipastikan akan melonjak seiring dengan upaya pabrik untuk meningkatkan volume produksinya. Tanpa dukungan harga energi yang kompetitif, produk lokal akan sulit bersaing dengan produk impor yang membanjiri pasar.

Ancaman Produk Impor dan Tuntutan Transparansi

Pelaku usaha juga memberikan peringatan mengenai potensi lonjakan impor akibat kelebihan kapasitas produksi global. Kondisi ini diprediksi akan membuat banyak negara mengalihkan target ekspor mereka ke pasar Indonesia.

Oleh karena itu, pemerintah diminta fokus membenahi sisi hulu, terutama terkait jaminan pasokan dan stabilitas harga gas. Langkah ini dianggap vital demi menjaga kelangsungan hidup industri keramik dari hulu ke hilir.

Selain persoalan biaya, Asaki juga menuntut adanya transparansi dari pihak pemasok gas, khususnya PT Perusahaan Gas Negara Persero Tbk (PGN). Industri ingin mengetahui secara jelas struktur harga yang dibebankan kepada konsumen manufaktur.

Edy menegaskan bahwa pihaknya tidak melulu menuntut fasilitas khusus dari pemerintah. Fokus utama mereka adalah terciptanya iklim industri yang sehat agar tetap bisa bertumbuh dan kompetitif di pasar internasional.

Asaki berharap ada kejelasan mengenai perbandingan harga gas ekspor dengan harga yang diberikan untuk kebutuhan industri domestik. Transparansi ini diharapkan mampu menjadi landasan kebijakan energi yang lebih adil bagi pelaku usaha nasional.

Artikel terkait

Rekomendasi