Anggapan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah secara otomatis memberikan keuntungan besar bagi sektor ekspor dinilai sebagai persepsi yang kurang tepat. Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menegaskan bahwa kondisi saat ini justru menunjukkan hal sebaliknya.
Menurut Bhima, depresiasi rupiah yang terjadi belakangan ini justru memicu lonjakan biaya produksi yang cukup signifikan. Hal tersebut pada akhirnya menjadi beban berat bagi para pelaku usaha di dalam negeri.
Pelemahan nilai tukar ini berdampingan dengan kenaikan harga di berbagai komponen penting, mulai dari bahan baku hingga sektor logistik. Kondisi ini diperparah karena banyak industri nasional yang masih memiliki ketergantungan tinggi pada komponen impor.
Bhima menyebutkan bahwa kenaikan biaya produksi, biaya bahan baku, hingga ongkos logistik semuanya mengalami penyesuaian harga ke atas secara bersamaan. Fenomena ini tentu menekan margin keuntungan para eksportir.
Dampak Kenaikan Biaya Produksi pada Sektor Pertanian
Sektor pertanian menjadi salah satu contoh nyata yang terdampak langsung oleh kenaikan harga berbagai input produksi. Petani kini harus menghadapi lonjakan harga pupuk nonsubsidi, plastik, pestisida, hingga alat-alat pertanian.
Bahkan, Bhima mencatat bahwa lonjakan biaya input produksi di sejumlah sektor tertentu telah mencapai angka 30 persen. Angka yang sangat besar ini dipicu secara langsung oleh terpuruknya nilai tukar kurs rupiah.
Beberapa komponen biaya produksi yang mengalami kenaikan drastis meliputi:
- Pupuk nonsubsidi dan obat-obatan pertanian untuk perawatan tanaman.
- Alat-alat mekanisasi pertanian serta plastik pendukung industri.
- Biaya logistik pengiriman barang baik domestik maupun internasional.
- Bahan baku industri yang komponennya masih harus didatangkan dari luar negeri.
Kenaikan harga pada poin-poin di atas membuat efisiensi operasional terganggu dan menurunkan daya saing produk lokal. Beban biaya ini seringkali tidak mampu ditutupi oleh nilai jual barang di pasar global.
Hilangnya Keuntungan dari Sektor Komoditas
Kondisi ekonomi saat ini menyebabkan Indonesia tidak mendapatkan keuntungan besar atau windfall dari sektor komoditas ekspor. Meskipun rupiah melemah, profitabilitas sektor unggulan justru tergerus oleh biaya operasional yang mahal.
Salah satu fakta di lapangan yang disoroti Bhima adalah nasib harga tandan buah segar (TBS) sawit di tingkat petani. Walaupun sawit merupakan komoditas ekspor utama, harga di tingkat petani justru terus mengalami tren penurunan.
Kenyataan ini membuktikan bahwa para petani justru terbebani oleh biaya-biaya yang meningkat secara masif. Keuntungan dari peningkatan permintaan ekspor ternyata tidak mampu mengompensasi lonjakan pengeluaran tersebut.
Sebagai informasi tambahan, nilai tukar rupiah saat ini terus berada dalam tekanan dan sempat menyentuh kisaran Rp 17.600 per dollar AS. Jika nilai tersebut terus merosot hingga Rp 20.000, para ekonom memprediksi tekanan pada ekonomi domestik akan semakin gawat.
Perlambatan Volume Ekspor di Tengah Pelemahan Rupiah
Bhima juga mengungkapkan data mengenai volume ekspor Indonesia yang justru melambat sejak awal tahun 2026. Pertumbuhan ekspor pada kuartal pertama tahun ini tercatat hanya berada di angka 0,7 persen secara tahunan.
Angka pertumbuhan ekspor tersebut berbanding terbalik dengan nilai impor yang justru melonjak tajam hingga lebih dari 7 persen. Hal ini menunjukkan bahwa pelemahan kurs saat ini lebih banyak merugikan ekonomi secara umum.
Ringkasan data perbandingan performa perdagangan Indonesia pada Kuartal I 2026:
| Kategori Perdagangan | Persentase Pertumbuhan (YoY) |
|---|---|
| Volume Ekspor Nasional | 0,7 Persen |
| Volume Impor Nasional | 7 Persen |
| Kenaikan Input Produksi | Hingga 30 Persen |
Data tersebut memperlihatkan adanya ketimpangan yang lebar antara biaya yang dikeluarkan dengan pendapatan yang diterima negara. Impor yang lebih tinggi di tengah kurs yang lemah tentu menambah beban neraca perdagangan.
Daya Saing Indonesia Dibandingkan Negara Tetangga
Bhima menegaskan bahwa menilai dampak rupiah tidak boleh hanya sekadar melihat angka nilai tukar di atas kertas. Struktur biaya produksi yang ditanggung oleh pelaku industri harus menjadi pertimbangan utama dalam analisis ekonomi.
Ia mengkritik pendapat yang menyebut pelemahan rupiah otomatis memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Baginya, pemikiran tersebut tidak sejalan dengan realita teori ekonomi dasar yang mempertimbangkan biaya input.
Kenyataannya, daya saing produk ekspor Indonesia saat ini dinilai masih tertinggal jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Posisi Indonesia masih berada di bawah bayang-bayang negara tetangga dalam hal kompetisi global.
Beberapa produk ekspor unggulan Indonesia kalah bersaing dengan barang serupa dari Vietnam, Thailand, dan Malaysia. Kondisi ini menjadi sinyal waspada bagi industri dalam negeri untuk segera melakukan pembenahan struktur biaya.
Tanpa adanya penguatan pada sisi efisiensi produksi, pelemahan rupiah hanya akan menjadi beban tambahan bagi pengusaha. Sektor ekspor pun terancam mengalami penurunan performa jika ketergantungan terhadap komponen impor tidak segera dikurangi.