Ekspor SDA Satu Pintu Danantara: Asosiasi Emiten Kaji Dampak Terbaru 2026

Ekspor SDA Satu Pintu Danantara: Asosiasi Emiten Kaji Dampak Terbaru 2026
Foto: Ekspor SDA Satu Pintu Danantara: Asosiasi Emiten Kaji Dampak Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) berencana segera menggelar diskusi mendalam guna menjaring aspirasi dari para emiten. Langkah ini diambil menyusul adanya rencana pemerintah Indonesia untuk memperketat tata kelola ekspor komoditas sumber daya alam (SDA).

Fokus utama dari diskusi tersebut adalah mengkaji dampak kebijakan ekspor satu pintu yang akan dikelola oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. AEI merasa perlu mendengarkan langsung kekhawatiran dan masukan dari perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa.

Direktur Eksekutif AEI, Gilman Pradana, menyampaikan bahwa sampai saat ini para emiten belum memberikan pernyataan resmi terkait kebijakan tersebut. Karena hal itu, AEI masih perlu waktu untuk memetakan risiko yang mungkin muncul akibat pembentukan anak usaha baru Danantara.

Gilman menjelaskan bahwa pihaknya akan melakukan survei untuk melihat persepsi dan masukan yang bisa dibantu untuk diadvokasikan. Ia menekankan bahwa karena kebijakan ini baru saja diresmikan, belum ada laporan kendala yang masuk dari anggota asosiasi.

Pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia

Sebagai bagian dari penguatan tata kelola ekspor, BPI Danantara secara resmi telah membentuk entitas baru bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Perusahaan ini diharapkan menjadi motor utama dalam mengawasi arus ekspor komoditas mentah milik negara.

Berdasarkan data dari Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (AHU) Kementerian Hukum, struktur manajemen perusahaan baru ini sudah mulai terlihat. Nama-nama besar di industri keuangan dan pertambangan mengisi posisi kunci di perusahaan tersebut.

Daftar jajaran manajemen yang memimpin PT Danantara Sumberdaya Indonesia:

  • Luke Thomas Mahony menjabat sebagai Direktur, yang sebelumnya dikenal sebagai mantan direktur di PT Vale Indonesia Tbk. (INCO).
  • Harold Jonathan Dharma TJ menempati posisi Komisaris, dengan latar belakang profesional sebagai mantan direktur PT Mandiri Sekuritas.

Penunjukan figur-figur berpengalaman tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengelola sektor SDA. Transisi manajemen ini juga menjadi perhatian para pelaku pasar modal karena keterkaitannya dengan emiten besar.

Reaksi Pasar Saham Terhadap Kebijakan Baru

Kabar mengenai pengetatan ekspor melalui satu pintu ini langsung direspons negatif oleh pasar modal pada perdagangan Kamis (21/5/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat seiring kekhawatiran investor terhadap prospek emiten tambang.

Pada penutupan perdagangan, IHSG harus terkoreksi sebesar 0,82% dan mendarat di level 6.318,50. Bahkan pada sesi pertama perdagangan, pelemahan sempat terasa lebih dalam hingga mencapai angka 2,76%.

Berikut adalah daftar emiten sumber daya alam yang mengalami penurunan signifikan:

  • PT Barito Pacific Tbk. (BRPT): Mengalami penurunan tajam sebesar 10,18% ke posisi Rp1.720 per lembar saham.
  • PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN): Terkoreksi hingga 9,23% dan menetap di level harga Rp590.
  • PT Bumi Resources Tbk. (BUMI): Turun sebanyak 6,99% ke level Rp173, terdampak langsung sentimen ekspor batu bara.
  • PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN): Melemah 6,31% ke level Rp2.970 seiring kebijakan baru Danantara.
  • PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk. (ADMR): Terdepresiasi sebesar 6,21% dan parkir di level Rp1.435.

Penurunan harga saham ini mencerminkan kegelisahan investor terhadap ketidakpastian mekanisme ekspor di masa mendatang. Sektor energi dan bahan baku menjadi kontributor utama yang menyeret indeks ke zona merah.

Ringkasan performa indeks sektoral di Bursa Efek Indonesia:

Sektor Indeks Persentase Penurunan Keterangan Dampak
IDX Basic (Bahan Baku) 6,49% Terdampak isu hilirisasi dan ekspor satu pintu
IDX Energy (Energi) 5,02% Dipengaruhi sentimen komoditas batu bara dan migas

Data di atas menunjukkan bahwa sektor yang berkaitan langsung dengan kekayaan alam mengalami pukulan paling telak. Hal ini menjadi alasan kuat bagi AEI untuk segera bertindak dan mencari solusi bagi para emiten.

Koordinasi Lintas Asosiasi dan Langkah Advokasi

Meskipun pasar merespons dengan kepanikan, Gilman Pradana mengaku belum bisa memberikan penilaian menyeluruh terkait dampak jangka panjangnya. Pihaknya masih memantau dinamika yang berkembang di lapangan sebelum mengambil keputusan organisasi.

AEI menyadari bahwa masalah ini tidak hanya menyentuh aspek pasar modal, tetapi juga aspek operasional pertambangan. Oleh karena itu, koordinasi dengan asosiasi pengusaha lainnya dianggap sangat krusial dalam waktu dekat.

Gilman menyebutkan rencananya untuk melakukan koordinasi lintas asosiasi, seperti dengan para pengusaha batu bara. Hal ini dikarenakan peran AEI hanya terbatas pada sudut pandang perusahaan yang sudah menjadi emiten di bursa.

Dengan adanya sinergi antar asosiasi, diharapkan pemerintah mendapatkan gambaran yang lebih utuh mengenai kondisi riil industri. Masukan kolektif ini diharapkan bisa menjaga iklim investasi tetap kondusif di tengah perubahan regulasi.

Tantangan Pemenuhan Kewajiban DMO

Selain masalah ekspor, kehadiran PT Danantara Sumberdaya Indonesia juga membawa tugas baru dalam hal pemenuhan Domestic Market Obligation (DMO). Menteri Perdagangan sebelumnya mengungkapkan bahwa PT DSI akan mengambil alih pengawasan kewajiban ini.

Perubahan wewenang ini menimbulkan pertanyaan besar di kalangan pengusaha mengenai kontrak jangka panjang yang sudah berjalan. Transisi aturan yang terlalu cepat dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas operasional emiten di sektor SDA.

Namun, di sisi lain, Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa memiliki pandangan yang cenderung optimistis. Ia meyakini bahwa jika tata kelola ini berhasil diperbaiki, valuasi emiten SDA justru berpotensi naik dalam jangka panjang.

Debat mengenai efektivitas kebijakan ini diperkirakan akan terus berlanjut hingga mekanisme teknisnya benar-benar jelas. AEI berkomitmen untuk terus menjadi jembatan antara kepentingan emiten dan kebijakan strategis pemerintah.

Disclaimer: Seluruh informasi dalam artikel ini tidak dimaksudkan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual instrumen saham tertentu. Keputusan untuk melakukan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi pembaca, dan redaksi tidak bertanggung jawab atas potensi kerugian atau keuntungan yang muncul.

Artikel terkait

Rekomendasi