Fenomena masyarakat yang mulai menguras isi tabungan dan menambah pinjaman utang kini menjadi sorotan utama. Kondisi ini mencerminkan daya tahan ekonomi masyarakat yang kian melemah di tengah situasi global yang tidak menentu.
Teuku Riefky, Peneliti Makroekonomi LPEM FEB Universitas Indonesia, mengungkapkan kekhawatirannya dalam diskusi bertajuk "5,61 Persen Tumbuh Tapi Rapuh". Ia menyebutkan bahwa kecenderungan masyarakat untuk menarik utang semakin meningkat tajam belakangan ini.
Ketimpangan Pertumbuhan Ekonomi dan Upah Riil
Penyebab utama dari fenomena ini adalah adanya kesenjangan yang lebar antara angka pertumbuhan ekonomi nasional dengan daya beli masyarakat. Riefky memberikan perbandingan data yang signifikan antara dua periode kepemimpinan ekonomi yang berbeda.
Berikut adalah ringkasan perbandingan pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam dua periode terakhir:
| Indikator Pertumbuhan | Periode 2009 - 2016 | Periode 2017 - 2025 |
|---|---|---|
| Produk Domestik Bruto (PDB) | 5,6 persen | Kisaran 5 persen |
| Upah Riil (Daya Beli) | 6,3 persen | Hanya 2 persen |
Data tersebut menunjukkan bahwa pada masa lampau, masyarakat dapat menikmati hasil pertumbuhan ekonomi secara nyata melalui kenaikan gaji. Namun saat ini, pertumbuhan ekonomi yang mencapai angka 5 persen seolah tidak berdampak signifikan bagi kesejahteraan warga.
Kondisi ini menjelaskan alasan mengapa banyak orang merasa taraf hidup mereka tidak membaik meski data makro ekonomi terlihat stabil. Masyarakat terpaksa menggunakan cadangan dana mereka untuk sekadar memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Penurunan Signifikan Populasi Kelas Menengah
Hal lain yang memicu kekhawatiran adalah berkurangnya jumlah kelompok kelas menengah di Indonesia secara drastis dalam lima tahun terakhir. Kelompok ini dianggap sebagai mesin penggerak utama bagi konsumsi domestik nasional.
Poin-poin penting mengenai kondisi kelas menengah saat ini:
- Jumlah kelas menengah menyusut dari 57 juta jiwa pada 2019 menjadi hanya 47 juta jiwa pada 2025.
- Penurunan jumlah ini berdampak langsung pada pelemahan motor pertumbuhan ekonomi nasional.
- Konsumsi masyarakat kelas bawah belum cukup kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi secara mandiri.
- Hanya belanja dari kelas menengah dan kelas atas yang mampu mendorong roda ekonomi secara signifikan.
Penurunan jumlah kelas menengah ini mengonfirmasi bahwa masyarakat semakin sulit mempertahankan stabilitas keuangan mereka. Tanpa perbaikan daya beli, target pertumbuhan ekonomi di masa depan akan semakin sulit dicapai secara berkualitas.
Kondisi ini menjadi peringatan bagi pemerintah untuk segera mengevaluasi kebijakan yang berkaitan dengan upah dan stabilitas harga. Kesejahteraan masyarakat yang merosot dapat berdampak panjang pada ketahanan sosial dan ekonomi nasional.