Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, memberikan catatan penting kepada Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengenai pergerakan nilai tukar rupiah. Ia menyoroti bagaimana sejarah mencatat mata uang Garuda pernah menguat tajam meski di tengah kondisi ekonomi yang sangat sulit.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam rapat kerja antara DPR dan BI di Jakarta pada Senin, 18 Mei 2026. Misbakhun merujuk pada performa rupiah di masa kepemimpinan Presiden B.J. Habibie yang mampu bangkit dari keterpurukan pasca-krisis moneter.
Pelajaran dari Masa Krisis 1998-1999
Menurut Misbakhun, Indonesia memiliki sejarah yang membuktikan bahwa nilai tukar rupiah bisa ditekan ke angka yang rendah. Saat itu, fundamental ekonomi nasional sedang dalam tekanan hebat akibat guncangan krisis moneter tahun 1997-1998.
Ia menceritakan bahwa kurs rupiah sempat menyentuh level tertingginya di angka Rp16.600 hingga Rp17.000 per dolar AS. Namun, secara mengejutkan, nilai tukar tersebut berhasil menguat hingga mencapai kisaran Rp6.000 per dolar AS.
Misbakhun menekankan bahwa penguatan luar biasa itu terjadi justru ketika negara sedang menghadapi krisis ekonomi yang sangat dalam. Hal ini membuktikan bahwa strategi yang tepat dapat membawa perubahan besar pada stabilitas mata uang.
Harapan Penguatan Rupiah di Tahun 2026
Konteks sejarah ini diangkat karena nilai tukar rupiah saat ini telah melampaui asumsi yang ditetapkan oleh Bank Indonesia. Pada perdagangan hari ini, posisi rupiah tercatat berada di level Rp17.660 per dolar AS.
Angka tersebut sudah melampaui target rata-rata yang disepakati sebelumnya oleh pemerintah dan DPR. Berikut adalah rincian perbandingan target asumsi dengan kondisi riil saat ini:
Rangkuman asumsi nilai tukar rupiah dan realitas pasar :- Asumsi Awal Bank Indonesia: Berkisar di angka Rp16.200 hingga Rp16.800 per dolar AS.
- Kesepakatan Rata-rata 2026: Target politik untuk rerata tahunan dipatok pada Rp16.500 per dolar AS.
- Realisasi Kurs Hari Ini: Nilai tukar menembus angka Rp17.660 per dolar AS.
Data di atas menunjukkan adanya selisih yang cukup signifikan antara proyeksi ekonomi dengan kondisi lapangan saat ini. Hal inilah yang mendorong DPR untuk meminta langkah nyata dari otoritas moneter.
Misbakhun berharap agar Bank Indonesia segera menemukan formula yang efektif untuk menarik kembali nilai tukar ke zona aman. Ia optimis bahwa peluang penguatan masih ada dalam beberapa bulan ke depan jika strategi yang diambil sudah tepat.
Pemerintah dan DPR menaruh harapan besar agar pada periode Juli, Agustus, hingga September mendatang, nilai tukar mulai menunjukkan tren positif. Pelajaran dari era tahun 1999 diharapkan menjadi motivasi bagi BI untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global.