Dominasi BUMN China di 55 Proyek Listrik RI, Ini Daftar Lengkap Terbaru 2026

Dominasi BUMN China di 55 Proyek Listrik RI, Ini Daftar Lengkap Terbaru 2026
Foto: Dominasi BUMN China di 55 Proyek Listrik RI, Ini Daftar Lengkap Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Perusahaan milik negara asal China, China City Environment Protection Engineering Limited (CCEPC), dilaporkan telah mengelola puluhan proyek pembangkit listrik di Indonesia. Kapasitas total dari seluruh proyek tersebut hampir menyentuh angka 14 gigawatt (GW).

Gao Hai selaku Direktur Eksekutif PT CCEPC menjelaskan bahwa pihaknya telah membangun 55 unit pembangkit listrik yang tersebar di berbagai wilayah tanah air. Selain pembangunan fisik, perusahaan ini juga fokus pada pengembangan teknologi serta pemberdayaan tenaga kerja lokal.

Hingga saat ini, CCEPC tercatat mengantongi total kapasitas pembangkit sebesar 13.975 megawatt atau setara 13,98 GW. Dari angka tersebut, sebanyak 7,59 GW sudah beroperasi secara komersial, sementara sisanya masih dalam proses pembangunan.

Kapasitas proyek yang ditangani CCEPC di Indonesia tergolong sangat besar karena hampir menyamai setengah dari total proyek mereka di negara asalnya. Di China sendiri, anak usaha Metallurgical Corporation of China (MCC) ini telah membangun pembangkit dengan total kapasitas 26 GW.

Dominasi IPP dalam Sektor Kelistrikan Nasional

Masuknya investor asal China ini semakin mempertegas dominasi pihak swasta atau Independent Power Producer (IPP) di sektor kelistrikan Indonesia. Saat ini, mayoritas pembangkit listrik di tanah air memang tidak dimiliki langsung oleh negara.

Direktur Manajemen Pembangkitan PLN, Rizal Calvary, mengungkapkan bahwa sekitar 70 hingga 75 persen pembangkit listrik saat ini dikelola oleh IPP. Menurutnya, skema kerja sama dengan pihak swasta ini sangat membantu beban keuangan negara.

Keterlibatan pihak asing dan swasta dinilai krusial mengingat besarnya kebutuhan investasi untuk memenuhi kebutuhan listrik nasional. PLN mengakui bahwa pendanaan internal mereka tidak akan mencukupi untuk membiayai seluruh rencana pembangunan infrastruktur energi.

Berikut adalah rincian kebutuhan investasi PLN dalam kurun waktu 10 tahun ke depan:

  • Pembangunan pembangkit listrik baru membutuhkan dana sekitar Rp2.600 triliun.
  • Pembangunan infrastruktur transmisi dan gardu induk memerlukan biaya sekitar Rp300 triliun.
  • Pengembangan jaringan distribusi listrik diestimasi membutuhkan anggaran sebesar Rp100 triliun.

Secara keseluruhan, Indonesia membutuhkan dana sekitar Rp3.000 triliun berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) periode 2025-2034. Besarnya nilai proyek ini dipandang sebagai peluang besar bagi para pengusaha dan investor di sektor energi.

Ringkasan data proyek pembangkit listrik yang dikelola oleh CCEPC di Indonesia:

Kategori Data Detail Informasi
Jumlah Pembangkit 55 Unit
Total Kapasitas 13.975 Megawatt (13,98 GW)
Kapasitas Beroperasi 7,59 GW
Status Lainnya Masih dalam tahap konstruksi

Data di atas menunjukkan betapa masifnya peran investor China dalam mendukung ketersediaan pasokan listrik di Indonesia melalui skema kemitraan. Kehadiran mereka diharapkan dapat mempercepat akselerasi pembangunan infrastruktur energi yang merata di seluruh nusantara.

Artikel terkait

Rekomendasi