Dolar AS Nyaris Rp18.000, Analis MUFG Soroti Risiko Fiskal RI Terbaru 2026

Dolar AS Nyaris Rp18.000, Analis MUFG Soroti Risiko Fiskal RI Terbaru 2026
Foto: Dolar AS Nyaris Rp18.000, Analis MUFG Soroti Risiko Fiskal RI Terbaru 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat hingga mendekati angka psikologis baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan data pasar, mata uang Garuda sempat merosot hingga ke level Rp17.910 per dolar AS pada pembukaan perdagangan sesi Asia.

Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,61% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya yang berada di level Rp17.801 per dolar AS. Lonjakan nilai tukar dolar ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku pasar mengenai kekuatan fundamental ekonomi nasional saat ini.

Analisis Risiko Fiskal dan Makroekonomi

Lloyd Chan, Senior Currency Analyst & Global Markets Research dari MUFG, menjelaskan bahwa faktor internal Indonesia menjadi pemicu utama tren negatif ini. Ia menyoroti beberapa poin krusial yang membuat posisi rupiah kian rentan di mata investor global.

Dalam laporan riset yang dirilis pada Rabu (28/5), Chan memaparkan sejumlah tantangan domestik yang membebani nilai tukar. Berikut adalah beberapa faktor utama yang menjadi perhatian serius pihak MUFG:

  • Melebarnya defisit transaksi berjalan yang memberikan tekanan pada neraca pembayaran Indonesia.
  • Meningkatnya risiko fiskal yang membuat pelaku pasar cenderung bersikap waspada.
  • Sentimen negatif terhadap arah kebijakan pemerintah yang dinilai kurang memberikan kepastian bagi pasar.
  • Rencana pengendalian ekspor komoditas yang dianggap memengaruhi persepsi investor terhadap iklim investasi di tanah air.

Berbagai faktor tersebut secara akumulatif menurunkan kepercayaan investor terhadap stabilitas mata uang rupiah dalam jangka pendek. Kondisi ini diperparah dengan dinamika pasar global yang terus bergerak fluktuatif.

Respons Kebijakan Bank Indonesia

Meskipun berada dalam tekanan, terdapat upaya dari otoritas moneter untuk menahan kejatuhan rupiah lebih dalam. Langkah Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin pada bulan Mei mulai memberikan dampak pada daya tarik aset domestik.

Pihak MUFG mencatat adanya peningkatan signifikan pada carry valas tenor tiga bulan di Indonesia. Kenaikan ini menunjukkan bahwa instrumen keuangan rupiah mulai menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif bagi para pemodal asing.

Berikut adalah ringkasan indikator pasar dan kebijakan terkini terkait posisi rupiah:

Indikator Ekonomi Status / Kondisi
Level Terendah Sesi Asia Rp17.910 per dolar AS
Kenaikan Suku Bunga (Mei) 50 Basis Poin
Akumulasi Pelemahan (YTD) Hampir 7%
Batas Defisit APBN Tetap maksimal 3% dari PDB

Data di atas memperlihatkan gambaran mengenai besarnya tekanan yang dihadapi rupiah sejak awal tahun. Walaupun terjadi depresiasi tajam, pemerintah ditegaskan masih berkomitmen menjaga disiplin anggaran dengan tidak mengubah batas defisit APBN.

Menjelang sore hari sekitar pukul 15.35 WIB, laju pelemahan rupiah terpantau mulai sedikit melandai ke posisi Rp17.845 per dolar AS. Meski ada sedikit penguatan dari level terendah harian, secara keseluruhan rupiah telah terpangkas hampir 7% sepanjang tahun berjalan ini.

Analisis dari MUFG juga menyebutkan bahwa secara teknikal dan penilaian valuasi, potensi pembalikan arah atau koreksi pada pasangan mata uang USD/IDR kini mulai meningkat. Investor saat ini tengah menanti langkah konkret selanjutnya untuk memastikan stabilitas ekonomi tetap terjaga.

Artikel terkait

Rekomendasi