Pemerintah China mulai menunjukkan sikap melunak dalam menghadapi ketegangan perdagangan dengan Amerika Serikat (AS). Beijing memberikan sinyal bahwa mereka bersedia menerima kenaikan tarif impor tertentu yang diterapkan oleh Washington.
Kesediaan ini memiliki syarat khusus, yakni besaran tarif tidak boleh melampaui batas yang telah disepakati kedua negara pada tahun lalu. Langkah kompromi ini diambil sebagai upaya nyata untuk menjaga kelangsungan pembicaraan mengenai perpanjangan gencatan senjata dagang.
Sikap kooperatif China ini menjadi indikator positif bahwa hubungan antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia tersebut mulai bergerak ke arah yang lebih stabil. Hal ini diharapkan dapat memberikan kepastian lebih bagi pasar global yang sempat terguncang akibat konflik dagang yang berkepanjangan.
Kementerian Perdagangan China dalam pernyataan resminya mendesak agar AS tetap memegang teguh komitmen yang telah dibuat sebelumnya. Mereka menegaskan bahwa apa pun alasan pemberlakuan atau perubahan tarif di masa depan, nilainya harus tetap berada dalam koridor kesepakatan.
Poin penting terkait sikap resmi pemerintah China yang dikutip dari Bloomberg pada Kamis (21/5/2026):
- China bersedia mentoleransi penyesuaian tarif selama masih di bawah batas maksimum yang disepakati.
- Permintaan agar AS menghormati hasil negosiasi sebelumnya tanpa memandang alasan perubahan kebijakan.
- Upaya menjaga stabilitas hubungan ekonomi antara Beijing dan Washington.
- Komitmen untuk melanjutkan dialog demi memperpanjang masa damai perdagangan.
Pernyataan tersebut merujuk langsung pada hasil negosiasi yang berlangsung di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Oktober tahun lalu. Saat itu, kedua belah pihak berhasil merumuskan poin-poin krusial guna meredam eskalasi konflik yang merugikan banyak sektor.
Selain itu, Kementerian Perdagangan China mengonfirmasi bahwa tim perdagangan dari kedua negara akan segera bertemu kembali. Agenda utamanya adalah mendiskusikan perpanjangan perjanjian satu tahun yang telah dirumuskan sebelumnya agar tidak kedaluwarsa.
Kesepakatan besar ini awalnya diumumkan pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Pemimpin Negara di Busan, Korea Selatan. Keberhasilan negosiasi tersebut telah membawa dampak signifikan bagi arus logistik dan industri manufaktur global.
Beberapa poin krusial yang berhasil disepakati dalam pertemuan di Busan meliputi:
- Penangguhan sejumlah pemberlakuan tarif impor baru yang sempat direncanakan.
- Pembatalan pembatasan ekspor dan impor material logam tanah jarang (rare earth).
- Penghentian sementara penyelidikan terhadap sektor galangan kapal milik China.
- Masa berlaku kesepakatan yang dijadwalkan berakhir hingga November tahun ini.
Kesepakatan tersebut sangat krusial mengingat logam tanah jarang merupakan komponen vital dalam industri teknologi tinggi. Dengan adanya gencatan senjata ini, rantai pasok global dapat beroperasi dengan lebih lancar tanpa bayang-bayang hambatan birokrasi yang berat.
Meski sinyal perdamaian sudah terlihat, tantangan besar tetap membayangi kedua negara menjelang akhir tahun 2026. Fokus saat ini tertuju pada bagaimana tim negosiasi dapat merumuskan kerangka kerja baru yang saling menguntungkan bagi kedua belah pihak.