Upaya Indonesia untuk mengurangi ketergantungan pada dollar Amerika Serikat (AS) kini membuahkan hasil yang cukup signifikan. Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa volume transaksi Local Currency Transaction (LCT) menunjukkan tren kenaikan yang tajam.
Pada periode Januari hingga April 2026, nilai transaksi dengan mata uang lokal ini berhasil menyentuh angka 22,61 miliar dollar AS atau setara Rp400,19 triliun. Capaian tersebut mencerminkan lonjakan sebesar 309 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Dominasi China dalam Transaksi Mata Uang Lokal
Kenaikan drastis ini menjadi sinyal kuat bahwa penggunaan mata uang domestik kian diminati dalam perdagangan antarnegara. Hal ini sejalan dengan ambisi pemerintah untuk memperkuat stabilitas ekonomi di tengah situasi global yang tidak menentu.
Ruth A. Cussoy Intama, selaku Direktur Departemen Pendalaman Pasar Keuangan BI, mengungkapkan harapannya agar tren positif ini terus berlanjut. Ia berharap baik volume transaksi maupun jumlah pelaku usaha yang terlibat akan semakin meningkat sepanjang tahun ini.
Rincian kontribusi negara mitra dalam penggunaan skema LCT :
- China: Menjadi mitra utama dengan kontribusi mencapai 89 persen dari total transaksi.
- Jepang: Menyumbang sebesar 6 persen dari keseluruhan aktivitas transaksi lokal.
- Malaysia: Memberikan kontribusi sebesar 3 persen dalam skema kerja sama ini.
Data tersebut menunjukkan bahwa China memegang peranan kunci dalam efektivitas penggunaan mata uang lokal bagi Indonesia. Sebagian besar pelaku usaha kini mulai beralih meninggalkan dollar AS untuk transaksi bilateral dengan Negeri Tirai Bambu tersebut.
Efisiensi Transaksi Tanpa Perantara Dollar AS
Menurut Ruth, banyak negara mitra mulai menyadari pentingnya efisiensi dalam perdagangan internasional. Ketegangan perdagangan global sering kali memaksa negara-negara untuk mempercepat realisasi kerja sama mata uang lokal guna menekan biaya operasional.
Beberapa negara yang sebelumnya ragu kini mulai mengambil langkah nyata untuk segera mengimplementasikan skema ini. Mereka menilai bahwa penggunaan mata uang domestik jauh lebih menguntungkan dibandingkan harus melalui proses konversi ke dollar AS terlebih dahulu.
Daftar negara yang telah resmi menjalankan kerja sama LCT dengan Indonesia :
- Malaysia dan Thailand
- Jepang dan China
- Korea Selatan
- Singapura
Kehadiran skema LCT memungkinkan para eksportir dan importir untuk bertransaksi secara langsung. Proses ini dinilai lebih praktis karena memangkas rantai perantara atau middleman yang biasanya muncul saat menggunakan dollar AS.
Dollar AS Tetap Relevan dalam Sistem Global
Meski penggunaan mata uang lokal terus dipacu, Bank Indonesia menegaskan bahwa dollar AS tidak akan ditinggalkan sepenuhnya. Mata uang Negeri Paman Sam tersebut dipastikan tetap memegang kendali utama dalam sistem keuangan dunia.
Namun, untuk negara-negara yang memiliki hubungan dagang langsung dan intens dengan Indonesia, LCT menjadi pilihan yang jauh lebih efisien. Dengan cara ini, risiko fluktuasi kurs yang terlalu tinggi dapat diminimalisir demi menjaga kestabilan harga barang.
Saat ini, Bank Indonesia juga tengah berupaya memperluas jaringan kerja sama serupa ke wilayah lain. Negara-negara besar seperti India dan Arab Saudi menjadi target selanjutnya dalam perluasan implementasi transaksi mata uang lokal ini.