Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara sedang dalam proses menyusun laporan menyeluruh mengenai kinerja keuangan dan rekapitulasi dividen Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tahun buku 2025.
Kepala BPI Danantara sekaligus Chief Operating Officer (COO), Dony Oskaria, menjelaskan bahwa publikasi data tersebut masih menunggu penyelesaian pembukuan dari seluruh anak usaha.
Fokus pada Perbaikan Laporan Keuangan
Dony mengungkapkan bahwa saat ini pihaknya tengah melakukan evaluasi mendalam, termasuk proses penurunan nilai aset atau impairment guna merapikan pencatatan keuangan yang ada.
Targetnya, seluruh laporan yang telah diaudit dan diperbaiki akan siap untuk dipublikasikan kepada publik paling lambat pada akhir Juni 2026 mendatang.
Langkah ini diambil agar Danantara bisa memastikan transparansi dan akurasi data sebelum melaporkannya secara resmi kepada pemegang saham dan masyarakat.
Ia menekankan bahwa tahun ini merupakan periode krusial untuk melakukan aksi "bersih-bersih" terhadap berbagai catatan keuangan yang dinilai belum sesuai standar.
Proses internal yang tengah berjalan mencakup beberapa poin krusial sebagai berikut:
- Penyelesaian audit dan pembukuan keuangan di tingkat anak perusahaan BUMN.
- Pembersihan data akuntansi untuk memperbaiki laporan keuangan yang bermasalah atau tidak akurat.
- Pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) untuk menetapkan besaran dividen yang akan dibagikan.
Upaya perbaikan ini dianggap penting agar performa finansial perusahaan plat merah di masa depan menjadi lebih sehat dan dapat dipertanggungjawabkan secara profesional.
Tren Setoran Dividen BUMN ke Negara
Meski rekapitulasi tahun 2025 masih diproses, performa setoran dividen BUMN pada periode sebelumnya menunjukkan tren positif yang cukup signifikan bagi pendapatan negara.
Hingga November 2024, total setoran dividen perusahaan plat merah tercatat telah mencapai Rp 85,5 triliun atau sudah memenuhi 100 persen dari target yang ditetapkan pemerintah.
Angka tersebut mengalami kenaikan dibandingkan realisasi tahun 2023 yang berada di level Rp 81,2 triliun, mencerminkan pertumbuhan profitabilitas di beberapa sektor utama.
Beberapa institusi keuangan dan perusahaan energi tetap mendominasi daftar penyumbang dana terbesar bagi kas negara melalui skema pembagian laba ini.
Berikut adalah ringkasan data sepuluh besar BUMN yang memberikan kontribusi dividen tertinggi kepada negara:
| Nama Perusahaan BUMN | Nilai Dividen (Rupiah) |
|---|---|
| PT Bank Rakyat Indonesia (BRI) | 25,7 Triliun |
| PT Bank Mandiri | 17,1 Triliun |
| MIND ID | 11,2 Triliun |
| Pertamina | 9,3 Triliun |
| Telkom Indonesia | 9,2 Triliun |
| PT Bank Negara Indonesia (BNI) | 6,2 Triliun |
| PLN | 3 Triliun |
| Pupuk Indonesia | 1,2 Triliun |
| Pelindo | 1 Triliun |
| PT Bank Tabungan Negara (BTN) | 420 Miliar |
Data di atas memperlihatkan bahwa sektor perbankan, khususnya bank-bank besar milik pemerintah, masih menjadi pilar utama dalam menyokong penerimaan negara melalui dividen.
Dony Oskaria berharap masyarakat dan pemangku kepentingan dapat bersabar menunggu hasil final laporan terbaru yang sedang difinalisasi oleh manajemen Danantara.