Pasar saham di kawasan Asia-Pasifik mengawali perdagangan Selasa (2/6/2026) dengan tren negatif. Melemahnya bursa regional ini dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian seputar dialog perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran.
Meskipun bursa Wall Street sempat mencetak rekor tertinggi pada sesi sebelumnya, para investor di Asia memilih untuk bersikap waspada. Sentimen geopolitik yang memanas menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan indeks pagi ini.
Kondisi Bursa Saham Utama di Asia
Di Jepang, indeks Nikkei 225 tercatat turun sebesar 0,52%. Sementara itu, indeks Topix mengalami koreksi yang lebih signifikan dengan pelemahan mencapai 0,98%.
Kondisi serupa terjadi di Korea Selatan, di mana indeks Kospi melemah 0,32%. Penurunan lebih tajam dialami oleh indeks saham berkapitalisasi kecil, Kosdaq, yang anjlok hingga 2,5%.
Bursa Australia juga tidak luput dari tekanan dengan indeks S&P/ASX 200 yang tergelincir 0,67%. Di Hong Kong, kontrak berjangka Hang Seng berada di posisi 25.207, turun dari penutupan sebelumnya di level 25.398,18.
Berikut adalah ringkasan performa indeks saham di kawasan Asia-Pasifik pada pembukaan perdagangan:
- Nikkei 225 (Jepang): Turun 0,52%
- Topix (Jepang): Turun 0,98%
- Kospi (Korea Selatan): Turun 0,32%
- Kosdaq (Korea Selatan): Anjlok 2,5%
- S&P/ASX 200 (Australia): Turun 0,67%
Data di atas menunjukkan mayoritas bursa utama di wilayah tersebut kompak bergerak di zona merah. Investor cenderung menarik diri dari aset berisiko karena situasi diplomatik yang buntu.
Faktor Geopolitik AS-Iran Jadi Pemicu Utama
Pasar saat ini tengah memantau ketat pernyataan terbaru dari Presiden AS Donald Trump mengenai negosiasi dengan Teheran. Trump secara terbuka meremehkan potensi kegagalan pembicaraan damai tersebut dalam wawancara dengan CNBC.
"Saya tidak peduli jika pembicaraan itu berakhir, sejujurnya saya benar-benar tidak peduli," ungkap Trump. Ia juga menambahkan bahwa proses negosiasi yang berlarut-larut sudah mulai terasa membosankan.
Pernyataan ini muncul menyusul laporan bahwa negosiator Iran sedang mempertimbangkan untuk menarik diri dari dialog dengan Washington. Ketegangan semakin meningkat seiring adanya ancaman dari Iran untuk memblokir Selat Hormuz.
Langkah tersebut dipertimbangkan Iran sebagai respons atas operasi militer Israel di Lebanon yang menyasar kelompok Hizbullah. Meski demikian, Trump menegaskan bahwa pihak Iran belum memberikan pernyataan resmi terkait penghentian negosiasi.
Kontradiksi Performa Wall Street
Kekhawatiran global ini juga mulai merambat ke pasar berjangka Amerika Serikat. Kontrak futures S&P 500 dan Nasdaq 100 terpantau turun, sementara futures Dow Jones terkoreksi sekitar 122 poin.
Kondisi ini berbanding terbalik dengan performa Wall Street pada penutupan Senin waktu setempat. Sektor teknologi berhasil membawa indeks utama AS mencetak rekor tertinggi sepanjang masa.
Rangkuman kinerja indeks utama Wall Street pada perdagangan sebelumnya:
| Indeks Saham | Level Penutupan | Persentase Kenaikan |
|---|---|---|
| S&P 500 | 7.599,96 | +0,26% |
| Nasdaq Composite | 27.086,81 | +0,42% |
| Dow Jones | 51.078,88 | +0,09% |
Kenaikan ini didorong oleh lonjakan saham-saham teknologi, khususnya Nvidia yang merilis chip baru untuk perangkat komputer pribadi. Hal ini membuktikan minat investor pada sektor kecerdasan buatan masih sangat tinggi.
Optimisme di sektor teknologi tersebut sempat menjadi penyeimbang di tengah gejolak harga minyak dunia. Namun, ketegangan geopolitik yang semakin nyata kini mulai menekan sentimen pasar secara keseluruhan.