PT Buana Finance Tbk (BBLD) resmi mengumumkan rencana ekspansi bisnis besar di tahun mendatang. Perusahaan multifinance ini bakal merambah pasar syariah dengan mendirikan Unit Usaha Syariah (UUS) baru.
Keputusan strategis tersebut telah mendapatkan lampu hijau dari para pemegang saham. Persetujuan diberikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang diselenggarakan pada Senin (18/5/2025).
Fokus Strategi Bisnis Syariah Buana Finance
Direktur Marketing Buana Finance, Herman Lesmana, menjelaskan bahwa unit syariah ini nantinya akan lebih banyak menyasar sektor business-to-business (B2B). Langkah ini diambil setelah melihat peluang besar di pasar syariah Indonesia yang belum tergarap maksimal.
Menurut Herman, saat ini baru sekitar 12 persen masyarakat yang menggunakan produk keuangan syariah. Padahal, potensi warga yang sudah memahami sistem ekonomi berbasis syariah mencapai angka 45 persen.
Pihak manajemen berharap proses perizinan dari regulator dan pembentukan Dewan Pengawas Syariah (DPS) bisa segera rampung. Jika berjalan sesuai rencana, unit usaha baru ini ditargetkan mulai beroperasi pada kuartal III tahun 2026.
Target Pertumbuhan dan Pembiayaan Tahun 2026
Secara keseluruhan, Buana Finance mematok target kenaikan penyaluran pembiayaan sebesar 10,66 persen pada tahun 2026. Perusahaan memproyeksikan angka pembiayaan tumbuh dari Rp 4,29 triliun menjadi Rp 4,75 triliun secara tahunan.
Salah satu pilar utama pertumbuhan perusahaan berasal dari sektor pembiayaan refinancing atau multiguna. Sektor ini diprediksi akan mengalami lonjakan sebesar 16,89 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Hingga akhir tahun 2026, Buana Finance menargetkan pembiayaan refinancing bisa menyentuh angka Rp 3,63 triliun. Jumlah tersebut meningkat signifikan jika dibandingkan dengan realisasi tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp 3,01 triliun.
Berikut adalah rincian target kinerja keuangan PT Buana Finance Tbk untuk tahun 2026:
- Total penyaluran pembiayaan ditargetkan mencapai Rp 4,75 triliun.
- Estimasi total aset perusahaan diharapkan mampu menyentuh angka Rp 7,59 triliun.
- Jumlah ekuitas atau modal sendiri dibidik sebesar Rp 1,4 triliun.
- Target laba bersih yang ingin dicapai adalah sebesar Rp 44,61 miliar.
- Menurunkan tingkat pembiayaan bermasalah (NPF) hingga ke level 2,61 persen.
Proyeksi angka-angka tersebut sudah mencakup kalkulasi potensi pendapatan dari unit usaha syariah yang sedang dipersiapkan. Perusahaan berkomitmen untuk terus menjaga kualitas portofolio demi meningkatkan nilai bagi pemegang saham.
Penerapan Prinsip Kehati-hatian
Dalam menjalankan roda bisnisnya sepanjang tahun 2026, Buana Finance akan menerapkan prinsip manajemen risiko yang sangat ketat. Fokus utama perusahaan adalah mempertahankan kualitas aset di tengah ekspansi yang dilakukan.
Direktur Keuangan Buana Finance, Mariana Setyadi, menekankan pentingnya menjaga kualitas piutang pembiayaan untuk mendongkrak Return of Equity (ROE). Manajemen akan lebih selektif dalam meninjau rekam jejak serta kapasitas bayar calon debitur.
Selain fokus pada profitabilitas, perusahaan juga memprioritaskan perbaikan rasio pembiayaan macet di akhir 2026. Dengan strategi yang matang, Mariana optimis unit syariah dapat berkontribusi positif bagi kinerja keuangan grup secara menyeluruh.
| Indikator Keuangan | Realisasi 2025 | Target 2026 |
|---|---|---|
| Total Pembiayaan | Rp 4,29 Triliun | Rp 4,75 Triliun |
| Pembiayaan Refinancing | Rp 3,01 Triliun | Rp 3,63 Triliun |
| Tingkat NPF | - | 2,61% |
Tabel di atas merangkum perbandingan pertumbuhan antara pencapaian tahun sebelumnya dengan target ambisius perusahaan di masa depan. Kenaikan ini didorong oleh fokus pada layanan multiguna yang saat ini porsinya melampaui pembiayaan kendaraan baru.