BI Rate Naik, Emiten Pilih Selektif Ekspansi dan Utang Baru di 2026

BI Rate Naik, Emiten Pilih Selektif Ekspansi dan Utang Baru di 2026
Foto: BI Rate Naik, Emiten Pilih Selektif Ekspansi dan Utang Baru di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menuju level 5,25% memberikan dampak signifikan bagi dinamika dunia usaha di tanah air. Kondisi ini memaksa sejumlah perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) untuk menerapkan strategi yang lebih hati-hati dalam rencana ekspansi mereka.

Meskipun bunga pinjaman meningkat, para emiten diprediksi tetap akan mencari pendanaan dari sektor perbankan. Kebutuhan untuk pembiayaan modal kerja, refinancing utang lama, hingga dukungan terhadap rencana pengembangan bisnis tetap menjadi alasan utama bagi perusahaan untuk tetap aktif di pasar kredit.

Daya Tahan Domestik dan Kebutuhan Pembiayaan

Head of Research RHB Sekuritas, Andrey Wijaya, memberikan pandangannya mengenai situasi pasar saat ini. Menurutnya, meskipun ada kenaikan pada biaya dana atau cost of funds, aktivitas pendanaan korporasi diproyeksikan tidak akan berhenti begitu saja.

Faktor utamanya adalah permintaan pasar domestik yang dinilai masih cukup tangguh. Selain itu, perusahaan memiliki keharusan untuk tetap menjaga pertumbuhan bisnisnya meskipun berada di bawah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global yang masih berlanjut.

Andrey juga menyoroti bahwa fluktuasi yang terjadi di pasar modal saat ini membuat opsi pendanaan murah menjadi sangat terbatas. Oleh karena itu, fasilitas kredit dari perbankan masih dipandang sebagai pilihan utama yang paling masuk akal bagi sebagian besar perusahaan saat ini.

Beberapa sektor industri tertentu diprediksi tetap akan bergerak agresif dalam melakukan ekspansi. Sektor-sektor tersebut meliputi perbankan, energi, infrastruktur, serta komoditas, yang dianggap masih memiliki prospek bisnis yang menjanjikan dalam jangka menengah.

Fokus pada Kualitas Neraca dan Stabilitas Kas

Meski tetap aktif, Andrey menegaskan bahwa para emiten kini cenderung lebih selektif sebelum memutuskan untuk mengambil utang baru. Strategi perusahaan ke depan akan lebih diarahkan pada upaya menjaga kesehatan neraca keuangan serta memastikan stabilitas arus kas tetap terjaga.

“Kami memperkirakan ke depannya emiten akan lebih berhati-hati dalam menambah pinjaman. Fokus utama mereka adalah memperkuat kualitas neraca serta mengamankan arus kas operasional,” tutur Andrey dalam keterangannya pada Kamis (28/5/2026).

Ada beberapa langkah strategis yang kemungkinan besar akan diambil oleh para pelaku pasar :

  • Mengoptimalkan penggunaan dana internal perusahaan untuk mendanai operasional harian maupun pengembangan.
  • Melakukan efisiensi besar-besaran pada biaya operasional agar margin keuntungan tetap terjaga.
  • Melakukan refinancing utang lama dengan mencari tenor yang lebih panjang guna meringankan beban pembayaran tahunan.
  • Menganekaragamkan sumber pendanaan, misalnya melalui penerbitan obligasi atau aksi penambahan modal lewat rights issue jika situasi pasar memungkinkan.
  • Menunda pelaksanaan proyek-proyek yang dianggap bukan menjadi prioritas utama saat ini.

Langkah-langkah tersebut diambil karena kenaikan BI Rate berpotensi meningkatkan beban bunga secara langsung. Jika tidak dikelola dengan baik, hal ini akan menggerus tingkat profitabilitas perusahaan, terutama bagi emiten yang memiliki tingkat utang (leverage) yang tinggi.

Sektor yang Paling Rentan Terhadap Kenaikan Suku Bunga

Kenaikan suku bunga tidak berdampak seragam bagi seluruh jenis usaha. Beberapa sektor dinilai memiliki sensitivitas yang sangat tinggi terhadap perubahan kebijakan moneter ini, terutama sektor properti, konstruksi, dan barang konsumsi mewah (consumer discretionary).

Selain sektor tersebut, perusahaan yang tengah berada dalam fase ekspansi yang sangat masif juga akan merasakan tekanan yang kuat. Sebaliknya, emiten dengan cadangan likuiditas yang melimpah dan memiliki porsi pinjaman berbunga tetap (fixed rate) diprediksi akan lebih mampu bertahan.

Salvian Fernando, Kepala Departemen Riset dan Informasi Pasar PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI), juga sependapat mengenai potensi peningkatan tekanan operasional. Naiknya biaya dana secara otomatis akan mempersempit ruang gerak perusahaan dalam mengelola margin mereka.

Meski demikian, Salvian melihat emiten tidak akan langsung memangkas pinjaman bank mereka secara drastis dalam waktu singkat. Kebutuhan dana untuk menjaga kelangsungan investasi dan aktivitas bisnis inti tetap menjadi prioritas utama perusahaan.

Emiten kemungkinan besar hanya akan mengubah pendekatan mereka dalam mengeksekusi proyek. Fokus pinjaman baru hanya akan dialokasikan pada proyek-proyek yang memiliki potensi keuntungan tinggi serta kejelasan arus kas di masa depan.

“Pertumbuhan penyaluran pinjaman kemungkinan besar tidak akan berjalan seagresif tahun lalu saat suku bunga masih berada di level yang lebih rendah,” jelas Salvian menambahkan analisisnya.

Dilema Sektor Konsumsi dan Teknologi

Head of Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Wisnubroto, memaparkan bahwa efek kenaikan suku bunga akan sangat terasa di sektor-sektor tertentu. Sektor properti, otomotif, teknologi, pembiayaan (multifinance), hingga industri konsumsi dengan bahan baku impor menjadi yang paling terdampak.

Rully menjelaskan bahwa di sektor-sektor ini, kenaikan bunga menciptakan tantangan dari dua sisi sekaligus. Di satu sisi, biaya pendanaan perusahaan membengkak, dan di sisi lain, daya beli masyarakat untuk produk-produk tersebut cenderung menurun.

“Akibatnya, laba perusahaan bisa terjepit dari dua arah, yaitu beban bunga yang terus mendaki dan angka penjualan yang mengalami perlambatan,” ujar Rully memberikan gambaran mendalam mengenai risiko yang dihadapi emiten.

Meski tekanan kian nyata, data menunjukkan bahwa pertumbuhan kredit perbankan sebenarnya masih cukup tangguh. Hingga April 2026, kredit perbankan tercatat masih mampu tumbuh sebesar 9,98% secara tahunan (year-on-year).

Angka pertumbuhan ini menjadi bukti nyata bahwa dunia usaha di Indonesia masih membutuhkan kucuran dana dari perbankan untuk tetap beroperasi. Fokus perusahaan saat ini bukanlah sekadar menghindari utang, melainkan mencari struktur pendanaan yang paling efisien.

Berikut adalah ringkasan strategi pengelolaan keuangan emiten di tengah era suku bunga tinggi :

Strategi Utama Tujuan Utama
Perpanjangan Tenor Pinjaman Mengurangi tekanan cicilan jangka pendek agar arus kas lebih stabil.
Konversi ke Bunga Tetap Melindungi perusahaan dari risiko kenaikan suku bunga lebih lanjut di masa depan.
Pengurangan Utang Valas Menghindari risiko kerugian kurs pada utang luar negeri yang tidak memiliki lindung nilai.
Penundaan Capex Menjaga likuiditas dengan menunda belanja modal yang sifatnya tidak mendesak.

Strategi-strategi tersebut diharapkan dapat membantu perusahaan menjaga kesehatan finansial mereka dalam jangka panjang. Pengelolaan yang hati-hati (prudent) menjadi kunci utama agar perusahaan tetap kompetitif meskipun biaya modal sedang merangkak naik.

Dengan melakukan efisiensi dan pemilihan proyek yang lebih ketat, emiten diharapkan tetap bisa memberikan imbal hasil yang baik bagi para investor. Langkah selektif ini dipandang sebagai bentuk adaptasi yang diperlukan untuk menghadapi dinamika ekonomi yang terus berubah.

Artikel terkait

Rekomendasi