Bursa Efek Indonesia (BEI) baru-baru ini menyambut kedatangan sejumlah emiten yang tercatat dalam daftar pemegang saham terkonsentrasi atau High Shareholder Concentration (HSC).
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari upaya Bursa untuk memastikan perusahaan-perusahaan tersebut menyesuaikan struktur kepemilikan saham mereka sesuai regulasi.
Jeffrey Hendrik, selaku PJS Direktur Utama BEI, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menerima beberapa permohonan diskusi melalui surat resmi.
Ia menegaskan bahwa seluruh permintaan audiensi tersebut dilayani dengan baik guna menjaga komunikasi yang efektif antara regulator dan emiten.
Transparansi dan Penyesuaian Emiten
Meskipun jadwal pertemuan telah disusun untuk beberapa perusahaan, Jeffrey memilih untuk tidak merinci apakah emiten tersebut merupakan milik konglomerat tertentu.
Hingga saat ini, sudah ada sekitar satu hingga dua perusahaan yang telah melakukan audiensi langsung di Gedung BEI.
Pihak Bursa menyatakan keterbukaannya bagi setiap emiten dalam daftar HSC untuk melaporkan langkah-langkah strategis yang telah mereka ambil.
Pelaporan ini mencakup berbagai upaya nyata untuk mendistribusikan kepemilikan saham agar tidak lagi terkonsentrasi pada segelintir pihak saja.
Daftar emiten dengan konsentrasi saham tinggi berdasarkan data terbaru:
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan mencapai 97,31 persen.
- PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA): Mencatatkan persentase konsentrasi saham sebesar 95,76 persen.
- PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK): Menjadi salah satu yang tertinggi dengan angka 99,85 persen.
- PT Ifishdeco Tbk (IFSH): Memiliki tingkat konsentrasi saham sebesar 99,77 persen di tangan pemegang saham pengendali.
- PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS): Tercatat memiliki konsentrasi kepemilikan sebesar 98,35 persen.
Data di atas menunjukkan tingginya porsi saham yang dikuasai oleh kelompok tertentu dibandingkan dengan porsi yang tersedia bagi publik.
Upaya Peningkatan Saham Publik
Selain fokus pada isu konsentrasi, Jeffrey juga menyoroti pentingnya kepatuhan terhadap aturan porsi saham beredar di publik atau free float.
Sesuai ketentuan yang berlaku, setiap perusahaan terbuka diharapkan memiliki porsi free float yang ideal sesuai ambang batas yang ditetapkan.
BEI mengapresiasi adanya progres positif dari beberapa emiten yang mulai aktif meningkatkan jumlah saham publik mereka.
Koordinasi intensif juga terus dilakukan bersama Asosiasi Emiten Indonesia guna memastikan aturan ini berjalan maksimal di pasar modal.
Berikut adalah ringkasan beberapa emiten lain yang masuk dalam kategori pemegang saham terkonsentrasi:
| Kode Emiten | Nama Perusahaan | Tingkat Konsentrasi (%) |
|---|---|---|
| RLCO | PT Abadi Lestari Indonesia Tbk | 95,35% |
| MGLV | PT Panca Anugrah Wisesa Tbk | 95,94% |
| AGII | PT Samator Indo Gas Tbk | 97,75% |
| WBSA | PT BSA Logistics Indonesia Tbk | 95,82% |
| LUCY | PT Lima Dua Lima Tiga Tbk | 95,47% |
Tabel ini menyajikan data per April 2026 yang menunjukkan masih adanya tantangan likuiditas pada saham-saham tersebut di pasar sekunder.
BEI berharap melalui audiensi dan pelaporan rutin, emiten dapat segera memenuhi standar transparansi dan distribusi saham yang lebih merata.