BEI Kantongi Pipeline 11 Calon Emiten Aset Jumbo Terbaru di 2026

BEI Kantongi Pipeline 11 Calon Emiten Aset Jumbo Terbaru di 2026
Foto: BEI Kantongi Pipeline 11 Calon Emiten Aset Jumbo Terbaru di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat antrean panjang perusahaan yang bersiap melantai di pasar modal melalui skema penawaran umum perdana atau initial public offering (IPO). Hingga tanggal 22 Mei 2026, pipeline pencatatan saham di otoritas bursa didominasi oleh perusahaan dengan skala aset yang besar.

Setidaknya ada 11 calon emiten dengan aset jumbo yang saat ini masuk dalam daftar tunggu untuk merealisasikan rencana melantai di bursa. Secara keseluruhan, terdapat 15 perusahaan yang tengah memproses pendaftaran saham mereka di BEI.

Dominasi Perusahaan Beraset Skala Besar

I Gede Nyoman Yetna, selaku Direktur Penilaian Perusahaan BEI, menjelaskan bahwa mayoritas calon emiten yang ada dalam pipeline memiliki kepemilikan aset bernilai tinggi. Fenomena ini menunjukkan minat yang kuat dari perusahaan-perusahaan besar untuk mencari pendanaan melalui pasar modal.

Berdasarkan klasifikasi yang ditetapkan dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK), sebanyak 11 perusahaan tersebut masuk kategori aset skala besar. Kategori ini mencakup perusahaan-perusahaan yang memiliki nilai aset di atas Rp250 miliar.

Sementara itu, sisa antrean dalam pipeline diisi oleh 4 perusahaan yang masuk dalam kategori aset skala menengah. Perusahaan dalam kelompok menengah ini tercatat memiliki aset dengan rentang nilai antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar.

Menariknya, data terbaru menunjukkan belum ada perwakilan dari kelompok perusahaan beraset skala kecil dalam daftar tunggu saat ini. Kelompok skala kecil sendiri merujuk pada perusahaan yang memiliki nilai aset di bawah Rp50 miliar.

Hingga periode 22 Mei 2026, otoritas bursa baru meresmikan pencatatan satu emiten baru sejak awal tahun berjalan. Dari aksi korporasi tersebut, total dana yang berhasil dihimpun mencapai angka Rp300 miliar.

Peta Sebaran Sektor Calon Emiten

Data dari Bursa Efek Indonesia mengungkapkan bahwa minat korporasi untuk melakukan IPO tersebar secara merata di berbagai lini bisnis. Sektor konsumer dan kesehatan menjadi penggerak utama dalam daftar antrean calon emiten kali ini.

Berikut adalah rincian sebaran sektor dari 15 perusahaan yang masuk dalam pipeline IPO BEI:

  • Sektor Konsumer Non-Cyclicals: Sebanyak 3 calon emiten berasal dari sektor barang konsumen nonprimer.
  • Sektor Konsumer Cyclicals: Terdapat 3 perusahaan yang bergerak di bidang barang konsumen primer.
  • Sektor Kesehatan: Sektor ini turut menyumbangkan 3 calon emiten dalam daftar tunggu.
  • Sektor Infrastruktur: Terdapat 2 perusahaan infrastruktur yang sedang bersiap melantai.
  • Sektor Teknologi: Bidang teknologi juga menempatkan 2 perwakilannya di dalam pipeline.
  • Sektor Energi: Sebanyak 1 calon emiten berasal dari industri energi.
  • Sektor Keuangan: Terdapat 1 perusahaan jasa keuangan yang tengah memproses pendaftaran saham.

Meskipun sebaran sektor cukup beragam, terdapat beberapa bidang usaha yang terpantau masih absen dari permohonan IPO. Sektor-sektor tersebut meliputi bahan baku, industri, properti, serta bidang transportasi dan logistik.

Sinyal IPO Jumbo Sektor Hiburan

Pihak Bursa Efek Indonesia sebelumnya telah memberikan bocoran mengenai kehadiran calon emiten baru dari sektor hiburan. Perusahaan tersebut diprediksi akan menghimpun dana dalam jumlah yang sangat besar atau jumbo melalui proses IPO.

I Gede Nyoman Yetna memberikan gambaran bahwa calon emiten ini memiliki karakteristik bisnis hiburan riil. Perusahaan tersebut bergerak di bidang edukasi satwa atau pengelola kebun binatang yang dapat dinikmati langsung oleh masyarakat.

Hingga saat ini, otoritas bursa masih merahasiakan identitas lengkap dari perusahaan yang dimaksud. Nyoman menekankan bahwa bisnis ini berbeda dengan rumah produksi atau production house karena memiliki aset fisik berupa tempat hiburan edukatif.

"Bukan production house, tetapi itu terkait dengan secara riil dapat kita nikmati hiburannya. Artinya, kalau dari sisi anak-anak ingin kita edukasi, ada kebun binatangnya, itu kan relatif secara riil bisa kita lihat," ujar Nyoman di Gedung BEI.

Nilai indikatif penggalangan dana dari pengelola kebun binatang ini diperkirakan menjadi yang paling besar di antara seluruh perusahaan dalam pipeline. Angka perolehan dananya disebut-sebut melampaui calon emiten lain dari sektor serupa.

Nyoman menambahkan bahwa nilai emisi dari perusahaan hiburan ini jauh lebih masif dibandingkan dengan calon emiten production house yang juga mengantre. Perbandingannya pun cukup signifikan bagi pasar modal Indonesia.

Perbandingan potensi dana yang dihimpun antara sektor hiburan riil dan rumah produksi adalah sebagai berikut:

Kategori Calon Emiten Estimasi Perolehan Dana (Proceed)
Sektor Hiburan (Kebun Binatang) 3 Kali Lipat Lebih Besar
Sektor Production House (PH) Standar Sektor Serupa

Data di atas menunjukkan betapa besarnya potensi penyerapan dana dari perusahaan hiburan yang memiliki aset fisik riil. Hal ini diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi likuiditas pasar modal di masa mendatang.

Peningkatan jumlah calon emiten beraset besar ini memberikan optimisme bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Partisipasi perusahaan-perusahaan jumbo mencerminkan kepercayaan pelaku usaha terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.

Para investor kini terus memantau perkembangan terkini mengenai waktu pasti pelaksanaan pencatatan saham perdana dari belasan perusahaan tersebut. Kehadiran emiten baru dengan fundamental kuat diharapkan mampu memperkuat indeks harga saham gabungan.

Artikel terkait

Rekomendasi