Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri perdagangan pekan ini dengan berada di zona merah. Pada penutupan Jumat (29/5/2026), pergerakan indeks ditandai dengan aksi jual bersih yang cukup masif oleh investor asing.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) yang dihimpun dari Stockbit dan Kontan, IHSG terpantau terkoreksi tipis sebesar 0,05 persen. Angka tersebut membawa indeks parkir di level 6.127,38 pada akhir sesi perdagangan hari ini.
Kondisi ini menambah daftar panjang tren negatif bursa domestik dalam beberapa hari terakhir. Secara akumulatif, indeks menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan mencapai 3,02 persen sepanjang pekan ini.
Penyebab Utama Pelemahan IHSG
Penurunan indeks kali ini dipicu oleh rontoknya sejumlah indeks sektoral yang memberikan tekanan bagi pasar. Sektor kesehatan menjadi yang paling terpuruk dengan mengalami koreksi sebesar 1,49 persen.
Sektor properti dan real estate menyusul di posisi berikutnya dengan penurunan sebesar 1,09 persen. Selain itu, sektor keuangan juga melemah 1,04 persen, disusul barang konsumer primer 0,64 persen, dan sektor teknologi 0,63 persen.
Meski demikian, terdapat beberapa sektor yang berhasil menguat dan menahan agar IHSG tidak jatuh lebih dalam. Sektor infrastruktur memimpin penguatan sebesar 2,89 persen, diikuti oleh barang baku yang naik 2,65 persen.
Sektor energi juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 1,95 persen pada hari ini. Sementara itu, barang konsumer non-primer menguat 1,17 persen, transportasi 0,77 persen, dan perindustrian naik tipis 0,31 persen.
Data Transaksi dan Aksi Jual Asing
Aktivitas perdagangan pada penutupan Jumat tercatat sangat aktif dengan total volume transaksi mencapai 47,21 miliar saham. Nilai transaksi secara keseluruhan menyentuh angka yang cukup fantastis, yakni sebesar Rp50,14 triliun.
Investor asing terlihat banyak melepas kepemilikan saham mereka, terutama pada emiten di sektor perbankan kelas atas. Aksi net sell ini menjadi sorotan utama yang memengaruhi dinamika pasar saham sepanjang hari.
Daftar 10 saham dengan nilai penjualan bersih terbesar oleh investor asing adalah sebagai berikut:
| Nama Emiten | Kode Saham | Nilai Net Sell |
|---|---|---|
| Bank Central Asia Tbk | BBCA | Rp1,96 Triliun |
| Chandra Asri Pacific Tbk | TPIA | Rp1,95 Triliun |
| Amman Mineral Internasional Tbk | AMMN | Rp1,61 Triliun |
| Bank Rakyat Indonesia Tbk | BBRI | Rp738,04 Miliar |
| Bank Mandiri Tbk | BMRI | Rp389,8 Miliar |
| Sumber Alfaria Trijaya Tbk | AMRT | Rp366,39 Miliar |
| Aneka Tambang Tbk | ANTM | Rp263,13 Miliar |
| Barito Renewables Energy Tbk | BREN | Rp253,82 Miliar |
| Barito Pacific Tbk | BRPT | Rp201,42 Miliar |
| Dian Swastatika Sentosa Tbk | DSSA | Rp172,68 Miliar |
Data di atas memperlihatkan tekanan jual yang sangat besar pada saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip. Khususnya pada sektor perbankan dan sumber daya alam yang mendominasi daftar penjualan asing tersebut.
Pelepasan aset oleh investor luar negeri ini sejalan dengan beberapa sentimen pasar global maupun domestik. Hal ini membuat pergerakan harga saham perbankan besar seperti BBCA dan BBRI terus berada di bawah bayang-bayang tekanan.