Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Jumat (5/6/2026) mengalami penurunan. Berdasarkan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui Stockbit, IHSG melemah 4,20 persen sebesar 245,02 poin, berakhir di posisi 5.594,76. Hampir seluruh sektor mengalami penurunan, dengan sektor barang baku mengalami pelemahan paling signifikan sebesar 9,05 persen.
Sektor lainnya seperti energi dan infrastruktur masing-masing menurun sebesar 5,61 persen dan 5,05 persen. Penurunan juga terlihat pada sektor kesehatan dan transportasi yang masing-masing turun 4,36 persen dan 4,15 persen, serta barang konsumer primer yang melemah sebesar 3,99 persen.
Sektor perindustrian dan properti mengalami pelemahan masing-masing sebesar 3,54 persen dan 3,48 persen. Diikuti oleh barang konsumer primer sebesar 3,23 persen, sektor teknologi 2,93 persen, dan sektor keuangan yang turun 1,76 persen. Total volume saham yang diperdagangkan mencapai 38,04 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 31,72 triliun.
Tercatat sebanyak 626 saham menurun, 108 saham mengalami kenaikan, dan 81 saham tidak mengalami perubahan. Meskipun IHSG tertekan, investor asing tetap melakukan pembelian bersih terhadap 10 emiten IHSG. PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mencatat pembelian terbesar, didorong oleh penurunan nilai sahamnya yang cukup signifikan.
Sebanyak 10 saham dengan net buy terbesar oleh investor asing pada Jumat (5/6/2026) antara lain:- PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) sebesar Rp 21,36 miliar
- PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sebesar Rp 19,04 miliar
- PT Timah Tbk (TINS) sebesar Rp 15,29 miliar
- PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) sebesar Rp 12,53 miliar
- PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) sebesar Rp 12,25 miliar
- PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) sebesar Rp 7,57 miliar
- PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) sebesar Rp 5,7 miliar
- PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) sebesar Rp 4,88 miliar
- PT Bumi Resources Tbk (BUMI) sebesar Rp 4,5 miliar
- PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI) sebesar Rp 4,38 miliar
Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS ditutup menguat 13 poin di posisi Rp 18.036 pada akhir perdagangan Jumat (5/6/2026). Penguatan ini dipicu oleh respons positif pasar terhadap laporan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dinilai baik.
Meski demikian, rupiah secara tren mingguan masih termasuk dalam kategori melemah. Pada Senin (9/6/2026), rupiah diproyeksikan masih berada pada kisaran Rp 18.000 per dollar AS. Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat Mata Uang dan Komoditas, menyebut, "Sedangkan untuk satu pekan di range 17.950-18.250," seperti dikutip dari Kompas.com.