Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menepis anggapan bahwa program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pemicu kekhawatiran lembaga pemeringkat internasional terhadap kesehatan fiskal Indonesia.
Berdasarkan pertemuan terbaru dengan S&P Global Ratings, Purbaya menegaskan bahwa lembaga tersebut sebenarnya tidak mempermasalahkan dampak program MBG terhadap APBN.
Sentimen Pasar Jadi Fokus Utama
Purbaya menjelaskan bahwa fokus utama S&P saat ini lebih tertuju pada dinamika dan sentimen negatif yang sedang berkembang di pasar keuangan domestik.
"Waktu saya bertemu S&P terakhir, mereka tidak meributkan itu. Mereka justru mempertanyakan sentimen negatif di pasar," ungkapnya dalam konferensi pers di Gedung DPR/MPR RI, Sabtu (6/6/2026).
Kondisi pasar modal Indonesia memang sedang menghadapi tekanan berat, terlihat dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang terkoreksi sekitar 20 persen dalam setahun terakhir.
Jika diukur dari titik puncaknya, penurunan IHSG bahkan telah menyentuh angka 38 persen, melampaui kedalaman koreksi yang terjadi saat pandemi Covid-19 lalu.
Aliran Modal Asing dan Isu Tata Kelola
Kepercayaan investor asing tampak memudar yang dibuktikan dengan keluarnya modal asing (outflow) mencapai Rp 78 triliun dalam periode 12 bulan terakhir.
Kondisi ini diperparah oleh keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang melakukan interim freeze pada akhir Februari 2026 silam.
Faktor-faktor utama yang memengaruhi pandangan pasar keuangan saat ini:
- Penurunan tajam IHSG yang melebihi level terendah saat masa pandemi.
- Besarnya arus keluar modal asing dari pasar modal dalam satu tahun terakhir.
- Isu transparansi dan tata kelola pasar modal yang disoroti oleh indeks MSCI.
- Tekanan eksternal akibat konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Berbagai faktor tersebut secara kolektif membentuk persepsi risiko di mata investor global terhadap stabilitas ekonomi nasional di luar kebijakan program pemerintah.
Tantangan Fiskal dan Tekanan Global
Selain masalah pasar modal, lembaga pemeringkat seperti Moody’s, Fitch, dan S&P tetap memantau ketat kondisi anggaran negara Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Meningkatnya tensi konflik antara Amerika Serikat dan Iran telah memicu lonjakan harga minyak dunia yang berdampak langsung pada beban belanja negara.
Kenaikan harga energi ini berisiko memperlebar defisit fiskal sekaligus memicu inflasi dari sisi biaya produksi atau cost-push inflation.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah berencana melakukan diplomasi ekonomi ke beberapa negara untuk menjaga kepercayaan investor terhadap surat utang negara.
| Indikator Ekonomi | Kondisi / Data Terkini |
|---|---|
| Koreksi IHSG (Tahunan) | Turun sekitar 20% |
| Koreksi dari Titik Tertinggi | Turun mencapai 38% |
| Aliran Modal Asing (Outflow) | Rp 78 Triliun (12 bulan terakhir) |
| Status MSCI | Interim Freeze sejak 28 Februari 2026 |
Tabel di atas merangkum sejumlah data krusial yang menunjukkan tekanan signifikan pada stabilitas pasar modal Indonesia dalam setahun belakangan.