Wisatawan Berulah, Destinasi Ternama di Jogja Ditutup Sementara: Mengejutkan!

Wisatawan Berulah, Destinasi Ternama di Jogja Ditutup Sementara: Mengejutkan!
Foto: Wisatawan Berulah, Destinasi Ternama di Jogja Ditutup Sementara: Mengejutkan!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Karena aksi tak terpuji para wisatawan, kawasan heritage Between Two Gates (BTG) di Kotagede, Yogyakarta, ditutup sementara. Pengelola menjelaskan bagaimana ulah tersebut mengakibatkan penutupan selama dua hari.

Joko Nugroho, pengelola BTG, menyebutkan bahwa penutupan dilakukan Minggu (31/5) pagi setelah dua bus wisatawan asing datang tanpa pemberitahuan. Kedatangan mendadak ini mengganggu kenyamanan warga sekitar.

"Ada dua bus wisatawan asing, katanya dari Asia, datang pagi sekali dan membuat ramai serta berisik," ucap Joko pada Rabu (3/6).

Seorang warga bertanya mengapa tidak ada pemberitahuan. Karena banyaknya pengunjung yang datang, BTG akhirnya ditutup untuk menghindari gangguan lebih lanjut.

Destinasi BTG terletak 350 meter di selatan Pasar Kotagede, tepatnya di Kelurahan Purbayan, Kecamatan Kotagede. Tempat ini merupakan halaman belakang rumah warga yang membentuk gang menarik.

Joko menjelaskan, meskipun menarik, BTG tetaplah area privat. "Ini sebenarnya halaman rumah yang disebut sebagai jalan bantuan sejak dulu," katanya.

Rumah-rumah di Jawa biasanya terdiri dari dua bagian dengan halaman di tengah yang menghadap selatan, seolah membentuk gang kecil.

Keberadaan media sosial membuat tempat ini viral, menarik pengunjung yang ingin berfoto atau membuat konten. Namun, kejadian Minggu lalu adalah puncak dari ketidaknyamanan warga.

Pengunjung mandiri tanpa informasi yang tepat dari media sosial cenderung mengabaikan aturan dan perilaku yang baik, berbeda dengan kelompok wisata yang dipandu.

"Sebenarnya hari Minggu itu puncaknya, tapi sebelumnya sudah ada keluhan warga," ungkap Joko. Wisatawan mandiri sering kali kurang literasi mengenai sopan santun.

Sudah Ada Papan Informasi untuk Pengunjung:

Joko menuturkan bahwa BTG sudah menyediakan papan informasi tentang etiket yang harus dijaga. Namun, aturan ini sering diabaikan oleh wisatawan mandiri.

Berbeda dengan rombongan yang dipandu, pemandu wisata biasanya memberi arahan untuk berperilaku sopan.

Untuk mengantisipasi insiden serupa, warga akan mengadakan rapat guna mencari solusi yang tepat.

Joko menambahkan, "Besok kita akan bertemu untuk memutuskan langkah ke depan, seperti apa yang harus kita lakukan di pintu utama."

Bahkan, meski sudah dibuka kembali, kesepakatan warga sembilan rumah di lokasi tersebut sangat penting untuk menentukan kebijakan ke depan.

Artikel terkait

Rekomendasi