Waspada Perubahan Kulit, Gejala Kanker Darah Terbaru 2026 Ini Sering Diabaikan

Waspada Perubahan Kulit, Gejala Kanker Darah Terbaru 2026 Ini Sering Diabaikan
Foto: Waspada Perubahan Kulit, Gejala Kanker Darah Terbaru 2026 Ini Sering Diabaikan. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Leukemia atau kanker darah dikenal sebagai kondisi medis yang memicu pertumbuhan cepat sel-sel darah yang tidak normal dalam tubuh manusia.

Pada jenis leukemia myeloid, penyakit ini mengganggu pembentukan awal sel darah merah, sel darah putih, hingga trombosit. Sementara itu, leukemia limfositik berfokus pada perkembangan sel darah putih yang abnormal.

Lonjakan sel darah yang tidak sehat ini akhirnya menimbulkan beragam keluhan kesehatan pada pasien. Salah satu indikasi yang sering luput dari perhatian adalah munculnya perubahan tertentu pada permukaan kulit.

Tanda Kanker Darah yang Muncul di Kulit

Informasi yang dihimpun dari Medical News Today serta Everyday Health menyebutkan ada beberapa gejala spesifik pada kulit yang perlu diwaspadai.

Berikut adalah beberapa jenis perubahan kulit yang berpotensi menjadi indikasi adanya kanker darah:

  • Mudah Mengalami Memar: Tubuh pasien kanker darah cenderung lebih sensitif dan mudah memar meskipun tidak mengalami benturan yang keras. Hal ini terjadi akibat rendahnya jumlah trombosit yang berfungsi membekukan darah saat terjadi pendarahan.
  • Folikulitis: Kondisi ini ditandai dengan munculnya benjolan gatal yang menyerupai jerawat akibat infeksi bakteri atau jamur pada pori-pori kulit. Pelemahan sel darah putih membuat sistem imun gagal menghalau infeksi kulit tersebut.
  • Infeksi Kurap (Tinea): Kurap merupakan infeksi jamur yang sangat mudah menular melalui kontak fisik maupun lingkungan yang lembap. Pasien kanker darah memiliki risiko lebih tinggi terkena infeksi ini karena sistem kekebalan tubuh mereka yang sedang menurun.
  • Vaskulitis: Gangguan ini terjadi akibat peradangan pada pembuluh darah yang memicu penyempitan dan kerusakan jaringan. Gejalanya pada kulit sering kali terlihat seperti bintik-bintik kecil berwarna kemerahan, ungu, atau kecokelatan akibat pendarahan bawah kulit.
  • Leukemia Cutis: Gejala ini biasanya ditemukan pada stadium lanjut yang muncul dalam bentuk ruam atau benjolan padat yang disebut papula. Kondisi ini juga bisa memicu peradangan kulit luas yang berbahaya bagi keselamatan jiwa pasien.

Menurut penjelasan dari Firas El Chaer, MD, seorang spesifik hematologi-onkologi dari Miami Cancer Institute, memar pada pasien kanker darah memiliki pola yang berbeda dengan orang sehat.

Memar tersebut bisa muncul lebih sering secara spontan karena produksi trombosit dalam tubuh tidak lagi mampu menutup luka atau menghentikan pendarahan secara optimal.

Di sisi lain, vaskulitis juga menjadi perhatian serius bagi tim medis karena dapat menyerang organ lain selain kulit. Peradangan ini mampu berdampak buruk pada sistem pencernaan hingga organ paru-paru pasien jika tidak segera ditangani.

Selain bintik-bintik, penderita leukemia cutis terkadang juga menunjukkan gejala lesi dengan warna yang bervariasi. Jaringan abnormal tersebut bisa tampak berwarna abu-abu, biru, kuning, hingga warna gelap lainnya tergantung pada tingkat kerusakan jaringan.

Risiko Kanker Darah pada Anak-Anak

Berdasarkan data statistik dari Global Burden of Cancer periode 2008-2022, kanker darah tercatat sebagai jenis kanker yang paling banyak menyerang anak-anak.

Meski penyebab pastinya masih terus diteliti, para ahli mulai melihat adanya kaitan erat antara kondisi fisik anak dengan risiko penyakit mematikan ini.

Beberapa faktor risiko utama kanker darah pada anak dirangkum dalam daftar di bawah ini:

  • Kondisi Obesitas: Anak yang memiliki berat badan berlebih cenderung mengalami peradangan kronis di dalam tubuhnya.
  • Gangguan Metabolisme: Kelebihan jaringan lemak memicu ketidakseimbangan hormon yang bisa mempercepat pertumbuhan sel jahat.
  • Kadar Insulin Tinggi: Peningkatan kadar insulin dalam tubuh anak obesitas dapat menjadi pemicu mutasi sel yang tidak terkendali.

Penjelasan mengenai faktor risiko ini turut diperkuat oleh Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Universitas Airlangga, Prof. Dr. dr. I Dewa Gede Ugrasena, SpA (K).

Beliau menyebutkan bahwa obesitas telah diidentifikasi sebagai salah satu pemicu utama karena lemak berlebih dalam tubuh menciptakan lingkungan peradangan yang menetap.

Peradangan kronis tersebut kemudian menjadi landasan bagi pertumbuhan sel-sel abnormal yang merupakan bibit dari kanker darah pada anak-anak.

Selain faktor peradangan, gangguan pada insulin growth factor juga memiliki peran besar dalam proses pembelahan sel yang tidak beraturan.

Penyimpangan fungsi hormon ini dikhawatirkan memicu mutasi sel atau proliferasi yang tidak terkendali, sehingga kanker darah lebih mudah berkembang.

Walaupun demikian, Prof. Ugrasena menegaskan bahwa keterkaitan antara obesitas dan leukemia masih membutuhkan penelitian lebih mendalam di masa depan.

Orang tua diimbau untuk selalu waspada terhadap perubahan fisik sekecil apa pun pada anak, termasuk tanda-tanda yang muncul di permukaan kulit mereka.

Artikel terkait

Rekomendasi