Kementerian Kesehatan Republik Indonesia melaporkan temuan sebanyak 23 kasus hantavirus yang muncul selama periode tiga tahun ke belakang di berbagai wilayah. Berbeda dengan jenis virus andes yang memicu wabah di kapal pesiar MV Hondius, seluruh kasus yang terdeteksi di Indonesia dikonfirmasi sebagai varian seoul virus.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI, Aji Muhawarman, menjelaskan bahwa penularan virus ini berkaitan erat dengan kontak langsung terhadap tikus sebagai sumber infeksi utama. Risiko infeksi meningkat signifikan melalui aktivitas hobi seperti olahraga luar ruangan atau wisata alam, termasuk kegiatan mendaki gunung hingga berkemah di hutan.
Potensi Bahaya Aktivitas Luar Ruangan dan Pekerjaan Tertentu
Paparan hantavirus dapat terjadi ketika seseorang berada di lingkungan yang terkontaminasi oleh urine, feses, air liur, maupun debu yang mengandung virus dari hewan pengerat. Aktivitas alam terbuka seperti hiking sering dilakukan di lokasi dengan sanitasi terbatas yang menjadi habitat tikus liar, sehingga meningkatkan peluang paparan patogen.
Para pendaki juga menghadapi ancaman serius dari aerosol debu yang tercemar ekskresi tikus di dalam tenda, gudang penyimpanan logistik, maupun bangunan kosong di sepanjang jalur pendakian. Selain wisatawan alam, Kemenkes mengidentifikasi sejumlah profesi berisiko tinggi seperti petugas kebersihan, petani, pekerja konstruksi, pengendali hama, hingga pembersih saluran air atau selokan.
Pihak berwenang juga menyoroti kerentanan para staf laboratorium yang bertugas menangani hewan reservoir virus karena risiko paparan yang konsisten di tempat kerja. Jalur transmisi virus ini sangat beragam, mulai dari gigitan tikus secara langsung hingga menghirup partikel debu yang telah terkontaminasi oleh sekresi atau saliva hewan tersebut.
Statistik Kasus dan Tingkat Kematian di Indonesia
Dari total 23 pasien yang terkonfirmasi positif mengidap hantavirus di Indonesia, mayoritas penderita dilaporkan berhasil pulih sepenuhnya setelah menjalani perawatan medis. Aji Muhawarman merinci bahwa terdapat 20 orang yang dinyatakan sembuh, sementara tiga orang pasien lainnya dilaporkan meninggal dunia akibat komplikasi infeksi tersebut.
Tingkat fatalitas kasus atau case fatality rate (CFR) untuk jenis seoul virus ini mencapai angka sekitar 13 persen dari total kejadian yang ditemukan. Tingginya angka kematian ini tidak hanya dipicu oleh infeksi virus semata, melainkan juga dipengaruhi faktor ko-infeksi seperti penyakit kanker hati serta kegagalan multiorgan pada pasien.
Memasuki tahun 2026, tercatat adanya penambahan sebanyak lima kasus baru yang memperpanjang daftar kumulatif sebaran virus ini di tingkat nasional. Distribusi kasus seoul hantavirus terlihat paling menonjol di wilayah DKI Jakarta dan DI Yogyakarta dibandingkan provinsi lainnya yang juga melaporkan temuan serupa.
| Provinsi Sebaran Kasus | Jumlah Kasus Terkonfirmasi |
|---|---|
| Sumatera Barat | 1 kasus |
| Banten | 1 kasus |
| DKI Jakarta | 6 kasus |
| Jawa Barat | 5 kasus |
| Jawa Timur | 1 kasus |
| DI Yogyakarta | 6 kasus |
| Nusa Tenggara Timur (NTT) | 1 kasus |
| Kalimantan Barat | 1 kasus |
| Sulawesi Utara | 1 kasus |
Status Penularan Antarmanusia dan Risiko Global
Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan satu pun bukti klinis mengenai penularan hantavirus antarmanusia yang terjadi di wilayah Indonesia. Risiko masuknya varian virus andes yang dapat menular antarmanusia ke tanah air masih dikategorikan rendah karena jenis tersebut umumnya hanya terbatas di Amerika Selatan.
Kekhawatiran publik terhadap hantavirus kembali mencuat setelah adanya lonjakan kasus di kapal pesiar mewah MV Hondius yang melibatkan varian virus andes yang mematikan. Namun, para pakar dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) juga memperkuat pernyataan bahwa varian andes tersebut belum terdeteksi keberadaannya di lingkungan domestik Indonesia.
Masyarakat diminta tetap waspada terhadap keberadaan tikus di lingkungan rumah maupun tempat beraktivitas guna meminimalisir segala bentuk kontak yang memicu infeksi. Meskipun penularan antarmanusia belum terjadi, risiko kesehatan dari paparan ekskresi hewan pengerat tetap menjadi fokus utama dalam upaya pencegahan penyakit ini di masyarakat.