Uni Eropa (UE) kini tengah mengkaji langkah strategis untuk membekukan sementara mekanisme penyesuaian batas harga (price cap) pada minyak asal Rusia. Rencana ini muncul sebagai respons atas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang telah berlangsung selama empat bulan terakhir.
Melansir laporan Bloomberg pada Minggu (31/5/2026), eskalasi konflik yang melibatkan Iran telah menyebabkan gangguan serius pada jalur energi di Selat Hormuz. Hal ini memicu lonjakan harga minyak global yang berisiko mengacaukan skema sanksi ekonomi terhadap Moskwa.
Dampak Ketegangan Timur Tengah Terhadap Batas Harga
Pada tahun lalu, Uni Eropa telah menyepakati mekanisme dinamis untuk menetapkan batas harga minyak mentah jenis Urals milik Rusia. Aturan tersebut mewajibkan harga dipatok 15 persen lebih rendah dari rata-rata harga pasar setiap enam bulan sekali.
Saat ini, batas harga minyak Rusia berada di angka 44,10 dollar AS per barel dan dijadwalkan untuk ditinjau kembali pada musim panas mendatang. Melalui kebijakan ini, perusahaan asal Eropa dilarang keras memberikan layanan transportasi hingga asuransi jika minyak dijual melebihi ambang batas tersebut.
Namun, kondisi perang di Iran dan penutupan jalur Selat Hormuz berpotensi mendorong kenaikan otomatis batas harga tersebut pada evaluasi Juli nanti. Jika mengikuti rumus awal, batas harga minyak Rusia diprediksi bisa melonjak hingga setidaknya 65 dollar AS per barel.
Angka prediksi tersebut melampaui kesepakatan awal dengan negara-negara G7 yang menetapkan batas di level 60 dollar AS. Oleh karena itu, UE sedang merumuskan beberapa opsi agar Rusia tidak mendapatkan keuntungan besar dari situasi krisis energi global saat ini.
Beberapa opsi kebijakan yang tengah dipertimbangkan Uni Eropa meliputi:
- Membekukan batas harga minyak pada level yang berlaku saat ini agar tidak mengalami kenaikan otomatis.
- Menghentikan sementara mekanisme penyesuaian harga hingga akhir tahun akibat kondisi luar biasa di Timur Tengah.
- Membatasi kenaikan harga maksimal hingga 60 dollar AS per barel agar tetap selaras dengan ketentuan G7.
Langkah-langkah di atas bertujuan untuk memastikan efektivitas sanksi ekonomi tanpa memberikan ruang bagi Rusia untuk memperkuat anggaran perangnya lewat ekspor energi.
Bagian dari Paket Sanksi Ke-21
Rencana pembekuan batas harga ini merupakan bagian dari paket sanksi ke-21 yang disiapkan Uni Eropa sejak invasi Rusia ke Ukraina dimulai pada 2022. Paket sanksi terbaru ini diharapkan dapat difinalisasi dan diajukan secara resmi pada awal Juni mendatang.
Selain menyasar sektor minyak, Uni Eropa juga berencana memperluas jangkauan sanksi kepada pihak-pihak yang membantu Rusia menghindari pembatasan. Fokus utama kali ini mencakup sejumlah bank, pedagang minyak, kilang, hingga operator aset kripto di negara ketiga.
Rincian tambahan mengenai daftar sanksi terbaru adalah sebagai berikut:
| Kategori Sanksi | Target Utama |
|---|---|
| Armada Bayangan | Sekitar 20 kapal tanker minyak tambahan milik Rusia. |
| Sektor Gas | Kapal pengangkut gas alam cair (LNG) untuk menekan ekspor gas Kremlin. |
| Layanan Keuangan | Operator aset kripto dan perbankan di negara ketiga. |
Langkah-langkah tersebut diambil untuk menutup celah yang selama ini dimanfaatkan Rusia dalam membangun "armada bayangan". Dengan memperketat aturan pada kapal pengangkut LNG, UE berharap dapat membatasi kemampuan finansial Kremlin secara lebih komprehensif di masa depan.