Tips Mencegah GERD Kambuh Usai Makan Daging Kurban, Ini Saran Terbaru Dokter Pencernaan 2026

Tips Mencegah GERD Kambuh Usai Makan Daging Kurban, Ini Saran Terbaru Dokter Pencernaan 2026
Foto: Tips Mencegah GERD Kambuh Usai Makan Daging Kurban, Ini Saran Terbaru Dokter Pencernaan 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Momen Iduladha identik dengan berbagai hidangan lezat berbahan dasar daging kambing maupun sapi. Namun, tidak sedikit orang yang merasa khawatir akan mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsinya secara berlebih.

Beberapa keluhan yang sering muncul di antaranya adalah perut terasa begah, kembung, hingga naiknya asam lambung. Fenomena ini sering kali dikaitkan oleh masyarakat dengan kambuhnya penyakit Gastroesophageal Reflux Disease atau GERD.

Menanggapi kekhawatiran tersebut, dr. Aru Ariyanto, SpPD-KGEH, seorang spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, memberikan penjelasannya. Menurut beliau, keluhan-keluhan tersebut sebenarnya lebih disebabkan oleh faktor jumlah konsumsi dan karakteristik daging itu sendiri.

Ia menegaskan bahwa proses pencernaan daging secara alami membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dibandingkan dengan jenis makanan lainnya. Oleh karena itu, dr. Aru mengingatkan masyarakat agar tetap menjaga porsi makan dan tidak berlebihan saat menyantap olahan daging kurban.

Penyebab Perut Terasa Begah Setelah Konsumsi Daging

Rasa tidak nyaman seperti perut penuh atau kembung usai menyantap sate maupun gulai sebenarnya memiliki penjelasan medis yang sederhana. Hal ini berkaitan erat dengan durasi pengolahan makanan di dalam sistem pencernaan manusia.

Berdasarkan berbagai penelitian, dr. Aru mengungkapkan bahwa daging membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa dicerna sepenuhnya oleh lambung. Proses pemecahan protein hewani memang jauh lebih berat bagi organ pencernaan kita.

Fakta mengenai durasi pencernaan daging di dalam tubuh manusia:

  • Daging memerlukan waktu setidaknya hingga 5 jam agar bisa diproses secara tuntas oleh sistem pencernaan.
  • Konsumsi dalam jumlah besar dapat menyebabkan konstipasi karena lambatnya pergerakan sisa makanan di usus.

Kondisi inilah yang memicu sensasi penuh dan begah pada perut. Ketika seseorang makan daging dalam jumlah yang terlalu banyak, beban kerja sistem pencernaan akan meningkat drastis untuk mengolah protein tersebut.

Benarkah Daging Memicu Gejala GERD?

Terkait anggapan bahwa daging adalah pemicu langsung penyakit GERD, dr. Aru memberikan klarifikasi yang penting untuk dipahami. Ia menjelaskan bahwa daging sebenarnya tidak memicu GERD secara langsung atau spontan.

Meski demikian, makan daging dalam porsi yang terlalu besar tetap memberikan tekanan ekstra pada saluran cerna. Beban kerja yang berat ini akhirnya bisa memicu rasa tidak nyaman yang menyerupai gejala asam lambung pada sebagian individu.

Daging memiliki struktur yang lebih kompleks dibandingkan karbohidrat, sehingga usus harus bekerja ekstra keras. Jika kapasitas lambung terlampaui, maka risiko munculnya keluhan begah, kembung, hingga sensasi asam lambung akan semakin besar.

Tips Agar Pencernaan Tetap Nyaman Selama Iduladha

Untuk meminimalisir risiko gangguan pencernaan, dr. Aru menyarankan masyarakat untuk menyeimbangkan asupan daging dengan serat yang cukup. Serat memegang peranan kunci dalam melancarkan proses pembuangan dan membantu kerja usus.

Berikut adalah beberapa rekomendasi untuk menjaga kesehatan pencernaan:

  • Mengonsumsi sayur-sayuran dan buah-buahan dalam jumlah cukup sebagai pendamping hidangan daging.
  • Memilih metode pengolahan daging yang lebih sehat dan ringan, seperti sop bening atau sate tanpa lemak berlebih.
  • Menghindari penggunaan santan yang terlalu pekat karena dapat memperberat kerja lambung dan usus.

Kehadiran serat akan membantu tubuh dalam mengolah protein hewani dengan lebih efisien. Dengan demikian, rasa begah dan kembung yang biasanya muncul setelah makan besar dapat diredam atau hilang lebih cepat.

Selain memperhatikan jenis makanan, cara memasak juga sangat berpengaruh pada kenyamanan perut. Dr. Aru menilai olahan yang tidak terlalu berminyak jauh lebih ramah bagi saluran pencernaan dibandingkan makanan bersantan kental.

Secara keseluruhan, kunci utama untuk menikmati hidangan Iduladha tanpa keluhan kesehatan adalah moderasi. Dengan menjaga porsi makan dan mengombinasikannya dengan nutrisi yang seimbang, risiko GERD maupun gangguan pencernaan lainnya dapat dihindari dengan baik.

Bagi Anda yang memiliki riwayat penyakit lambung, sangat disarankan untuk tetap waspada dan mengikuti anjuran medis di atas. Menikmati momen hari raya tentu akan lebih berkesan jika tubuh tetap berada dalam kondisi yang bugar dan sehat.

Artikel terkait

Rekomendasi