Tips Aman Makan Jeroan Tanpa Takut Asam Urat Kambuh Menurut Dokter Spesialis 2026

Tips Aman Makan Jeroan Tanpa Takut Asam Urat Kambuh Menurut Dokter Spesialis 2026
Foto: Tips Aman Makan Jeroan Tanpa Takut Asam Urat Kambuh Menurut Dokter Spesialis 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Menjelang perayaan Idul Adha, berbagai hidangan berbahan dasar jeroan seperti sate hati, gulai babat, hingga paru goreng sering menjadi primadona di meja makan. Meski menggugah selera, banyak masyarakat yang merasa khawatir karena jeroan dianggap sebagai pemicu utama kolesterol dan asam urat.

Kekhawatiran ini memang beralasan menurut pandangan medis profesional. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Aru Ariadno, SpPD-KGEH, memberikan penjelasannya terkait hal tersebut.

Ia membenarkan bahwa bagian dari hewan kurban yang memiliki risiko paling tinggi dalam memicu lonjakan kolesterol dan asam urat adalah jeroan. "Jika berbicara mengenai hewan, bagian yang paling signifikan meningkatkan kadar kolesterol dan asam urat memang berasal dari jeroan," ungkap dr. Aru saat ditemui pada Kamis (21/5/2026).

Perbedaan Risiko Antara Daging dan Jeroan

Meskipun jeroan memiliki risiko tinggi, dr. Aru memberikan catatan penting mengenai konsumsi daging merah biasa. Menurutnya, daging murni tidak secara otomatis berbahaya selama dikonsumsi dalam batas yang wajar oleh masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa meskipun daging tetap memiliki potensi meningkatkan kolesterol dan asam urat, dampaknya tidak sedrastis bagian organ dalam. "Daging sendiri sebenarnya tidak terlalu besar pengaruhnya terhadap kenaikan kolesterol atau asam urat, walaupun potensi itu tetap ada," tambahnya.

Masalah kesehatan biasanya mulai muncul ketika seseorang mengonsumsi jeroan dan daging secara berlebihan dalam satu waktu. Hal ini sering terjadi saat Idul Adha karena pola makan masyarakat cenderung berubah drastis menjadi lebih konsumtif terhadap produk hewani.

Dokter Aru menekankan pentingnya menjaga prinsip moderasi dalam bersantap selama hari raya kurban. Ia menyarankan agar setiap orang tetap makan dengan porsi yang biasa dilakukan sehari-hari dan menghindari sikap "kalap" atau berlebihan.

Dampak Medis Menurut Penelitian

Pernyataan dr. Aru tersebut sejalan dengan temuan ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases. Riset tersebut mengonfirmasi kaitan erat antara pola makan dan risiko gangguan kesehatan sendi.

Studi tersebut mengungkapkan bahwa mengonsumsi makanan yang mengandung purin tinggi, khususnya dari sumber hewani, dapat memicu serangan gout berulang. Bahkan, risikonya bisa meningkat hingga hampir lima kali lipat dibandingkan pola makan biasa.

Dalam analisis penelitian tersebut, organ dalam atau jeroan dikategorikan sebagai kelompok makanan dengan kadar purin paling tinggi. Berikut adalah beberapa dampak kesehatan yang harus diwaspadai akibat asupan jeroan yang tidak terkontrol.

Beberapa risiko kesehatan yang muncul akibat konsumsi purin berlebih adalah:

  • Terjadinya gangguan metabolisme purin yang memicu lonjakan kadar asam urat secara signifikan di dalam aliran darah.
  • Munculnya peradangan pada sendi yang dikenal sebagai artritis gout, yang ditandai dengan rasa nyeri hebat serta pembengkakan.
  • Risiko terbentuknya kristal asam urat yang dapat memicu terjadinya batu saluran ginjal jika kadar asam urat tetap tinggi dalam waktu lama.
  • Gangguan pada sistem persendian lainnya yang dapat menghambat mobilitas dan aktivitas sehari-hari penderitanya.

Dokter Aru mengingatkan bahwa pada sebagian individu, kondisi ini bisa berkembang menjadi masalah kronis. "Akibatnya, terjadi penumpukan asam urat di tubuh yang memicu berbagai gangguan, mulai dari artritis gout hingga batu ginjal," tuturnya menjelaskan dampak jangka panjangnya.

Tips Mengelola Pola Makan Saat Idul Adha

Mengingat adanya risiko tersebut, dr. Aru mengimbau agar masyarakat lebih bijak dalam mengatur porsi makan mereka. Sangat penting untuk menyesuaikan konsumsi hidangan kurban dengan kondisi kesehatan pribadi masing-masing individu.

Bagi mereka yang sudah memiliki riwayat medis tertentu, kewaspadaan ekstra sangat diperlukan. Hal ini berlaku terutama bagi penderita hipertensi, penderita kolesterol tinggi, serta orang yang sudah sering mengalami serangan asam urat.

Berikut adalah ringkasan perbandingan antara daging biasa dan jeroan terkait risikonya:

Kategori Bahan Kandungan Utama Tingkat Risiko Kesehatan
Daging Merah Biasa Protein dan Lemak Sedang Rendah hingga Sedang (jika porsinya wajar)
Jeroan (Hati, Babat, Paru) Purin Tinggi dan Kolesterol Tinggi (berisiko memicu gout dan lonjakan kolesterol)

Tabel di atas menunjukkan bahwa jeroan memang memerlukan perhatian lebih karena kandungan purinnya yang sangat pekat. Dengan memahami perbedaan ini, masyarakat diharapkan bisa lebih selektif dalam memilih bagian hewan yang akan dikonsumsi.

Sebagai penutup, menikmati hidangan khas Idul Adha bukanlah hal yang dilarang, namun kontrol diri adalah kunci utamanya. Tetaplah memperhatikan asupan gizi seimbang dan jangan lupa untuk mengimbangi konsumsi daging dengan sayuran serta air putih yang cukup.

Artikel terkait

Rekomendasi