PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) telah mengumumkan rencana strategis mereka terkait efisiensi sumber daya manusia untuk tahun mendatang. Perusahaan telekomunikasi plat merah ini menyiapkan anggaran yang cukup besar, yakni berkisar antara Rp1 triliun hingga Rp1,2 triliun, khusus untuk mendanai program pensiun dini atau Early Retirement Program (ERP) pada tahun 2026.
Direktur Telkom, Arthur Angelo Syailendra, memberikan penjelasan mendalam mengenai alokasi dana tersebut dalam sesi earning calls yang berlangsung pada Selasa, 2 Juni 2026. Menurutnya, penambahan dana untuk program ERP ini merupakan bagian dari kelanjutan strategi perusahaan dalam mengoptimalkan struktur organisasi di seluruh lini bisnis Telkom Group.
Fokus Transformasi pada Level Anak Usaha
Berbeda dengan pelaksanaan program serupa di periode sebelumnya, Telkom kini mengarahkan sasaran peserta pensiun dini ke lingkup yang lebih spesifik. Arthur Angelo memproyeksikan bahwa sebagian besar karyawan yang akan berpartisipasi dalam program ini berasal dari level anak perusahaan.
Pergeseran fokus ini menandai tahap baru dalam restrukturisasi internal perusahaan setelah sebelumnya fokus pada entitas induk. Angelo menegaskan bahwa langkah ini tidak lagi berpusat pada tingkat holding company seperti yang telah dijalankan secara masif sepanjang tahun 2025.
Sebagai gambaran mengenai efektivitas program yang telah berjalan sebelumnya, berikut adalah data realisasi pensiun dini Telkom:
| Indikator Program | Realisasi Kuartal IV/2025 | Rencana Tahun 2026 |
|---|---|---|
| Alokasi Anggaran | Sekitar Rp937 Miliar | Rp1 Triliun – Rp1,2 Triliun |
| Fokus Peserta | Induk Perusahaan (Holding) | Anak Perusahaan (Subsidiary) |
| Jumlah Karyawan | 612 Orang | Dalam Proses Proyeksi |
Data di atas menunjukkan bahwa pada penghujung tahun 2025, perusahaan telah berhasil menyerap sekitar 612 karyawan dalam program ERP tingkat induk. Dengan anggaran yang lebih besar untuk tahun 2026, Telkom berupaya melanjutkan efisiensi ini guna mencapai struktur organisasi yang lebih lincah dan kompetitif.
Dampak Terhadap Kinerja Keuangan dan Margin
Langkah korporasi ini tentu tidak lepas dari perhatian para pelaku pasar dan analis sektor telekomunikasi. Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan, analis dari BRI Danareksa Sekuritas, memberikan pandangan teknis mereka melalui riset terbaru mengenai dampak finansial dari kebijakan ini.
Dalam laporan riset tersebut, mereka memaparkan bahwa program pensiun dini ini berpotensi memberikan tekanan tambahan pada beban operasional perusahaan. Secara spesifik, pengeluaran besar di awal untuk ERP akan mempengaruhi operational expenditure (Opex) TLKM dalam jangka pendek.
Para analis BRI Danareksa Sekuritas memproyeksikan pergerakan margin EBITDA Telkom sebagai berikut:
- Tahun 2026: Margin EBITDA diprediksi berada di angka 48,7% akibat tekanan biaya program ERP.
- Tahun 2027: Diperkirakan mulai terjadi pemulihan margin ke level 50,0% seiring berkurangnya beban tenaga kerja.
- Tahun 2028: Tren positif berlanjut dengan proyeksi kenaikan margin mencapai 50,3%.
Meskipun terdapat tekanan biaya dalam waktu dekat, para analis meyakini bahwa langkah ini merupakan investasi untuk efisiensi jangka panjang. Pengurangan jumlah karyawan di level anak usaha diharapkan dapat menekan beban gaji secara signifikan pada tahun-tahun mendatang.
Rekomendasi Saham dan Target Harga TLKM
Berdasarkan analisis tersebut, BRI Danareksa Sekuritas memutuskan untuk tetap mempertahankan rekomendasi "Buy" atau beli untuk saham TLKM. Kendati demikian, mereka melakukan penyesuaian terhadap target harga saham perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia ini.
Target harga saham TLKM kini dipatok pada level Rp3.750 per lembar saham, sedikit lebih rendah dari target sebelumnya. Penurunan target ini mencerminkan adanya pemangkasan estimasi EBITDA untuk periode 2026 hingga 2028 sebesar 3,7% sampai 5,4%.
Untuk jangka pendek atau dalam kurun waktu tiga bulan ke depan, analis masih mempertahankan pandangan netral. Sikap hati-hati ini dipengaruhi oleh pelemahan musiman pada bisnis seluler yang biasanya terjadi pada kuartal kedua tahun 2026.
Selain faktor internal ERP, kondisi makroekonomi juga turut membayangi pergerakan saham dan belanja modal perusahaan. Terdapat potensi revisi naik pada panduan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang saat ini dipatok di kisaran 17% hingga 19% dari total pendapatan.
Kenaikan anggaran belanja modal ini diperkirakan akan dipicu oleh depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Selain itu, Telkom juga perlu menyiapkan dana tambahan untuk memperkuat implementasi spektrum 5G guna menjaga kualitas layanan data di masa depan.
Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data publik dan hasil riset analis, bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Segala keputusan investasi dan risiko yang menyertainya merupakan tanggung jawab pribadi masing-masing investor.