Suku Bunga SRBI Tembus 6,45%, BI Catat Inflow Rp93,5 Triliun Terbaru!

Suku Bunga SRBI Tembus 6,45%, BI Catat Inflow Rp93,5 Triliun Terbaru!
Foto: Suku Bunga SRBI Tembus 6,45%, BI Catat Inflow Rp93,5 Triliun Terbaru!. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Bank Indonesia (BI) baru saja merilis pembaruan terkait kondisi moneter nasional, khususnya mengenai suku bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Per 13 Mei 2026, bank sentral telah menetapkan penyesuaian bunga instrumen tersebut untuk berbagai tenor investasi.

Langkah ini diambil guna menjaga daya tarik pasar keuangan domestik di tengah dinamika global. Melalui kebijakan ini, diharapkan stabilitas nilai tukar rupiah dan ketersediaan likuiditas tetap terjaga dengan baik.

Detail Kenaikan Suku Bunga SRBI

Kenaikan bunga SRBI dilakukan secara bervariasi tergantung pada jangka waktu atau tenor yang dipilih oleh investor. Berikut adalah rincian tingkat suku bunga terbaru yang ditetapkan oleh Bank Indonesia:

Tenor Investasi Tingkat Suku Bunga
Tenor 6 Bulan 6,21%
Tenor 9 Bulan 6,31%
Tenor 12 Bulan 6,45%

Tabel di atas menunjukkan bahwa BI menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif bagi para pemilik modal. Penyesuaian ini mulai diberlakukan secara efektif sejak pertengahan Mei 2026 sebagai bagian dari strategi moneter bank sentral.

Arus Modal Asing Masuk Secara Signifikan

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa berbagai respons kebijakan yang diterapkan telah membuahkan hasil positif bagi perekonomian nasional. Salah satu dampaknya adalah kembalinya aliran investasi portofolio asing ke tanah air pada kuartal kedua tahun ini.

Berdasarkan data hingga 18 Mei 2026, tercatat capaian arus modal masuk sebagai berikut:

  • Total net inflows atau aliran modal masuk bersih mencapai US$5,5 miliar.
  • Jika dikonversikan ke mata uang lokal, nilai tersebut setara dengan Rp93,5 triliun.
  • Asumsi kurs yang digunakan dalam perhitungan ini adalah Rp17.000 per dolar AS.
  • Peningkatan aliran modal ini didominasi oleh penempatan dana pada instrumen SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN).

Perry menegaskan bahwa ketertarikan investor global ini sangat dipengaruhi oleh tingkat imbal hasil yang semakin menarik di kedua instrumen tersebut. Pernyataan ini disampaikan secara resmi dalam forum Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Rabu, 20 Mei 2026.

Posisi Cadangan Devisa dan Ketahanan Ekonomi

Selain membahas aliran modal, Perry juga memaparkan kondisi terkini cadangan devisa Indonesia yang terpantau masih sangat kuat. Hingga akhir April 2026, posisi cadangan devisa tercatat berada di level US$146,2 miliar.

Jumlah cadangan tersebut dinilai sangat mencukupi untuk mendukung ketahanan sektor eksternal Indonesia. Angka ini setara dengan pembiayaan impor selama 5,8 bulan, atau 5,6 bulan jika digabung dengan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Posisi cadangan devisa tersebut masih berada jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya dipatok pada kisaran 3 bulan impor. Hal ini memberikan rasa aman bagi pelaku pasar terhadap kemampuan Indonesia dalam menghadapi tekanan ekonomi dari luar.

Proyeksi Defisit Transaksi Berjalan 2026

Bank Indonesia juga memberikan gambaran mengenai prospek defisit transaksi berjalan untuk sepanjang tahun 2026. Bank sentral memprediksi angka defisit akan tetap terkendali dalam batas yang aman bagi stabilitas ekonomi makro.

Estimasi kisaran defisit transaksi berjalan untuk tahun berjalan adalah:

  • Target batas bawah defisit berada di angka 0,5% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
  • Target batas atas defisit diprediksi tidak akan melebihi 1,3% dari PDB.
  • Proyeksi ini menunjukkan optimisme BI terhadap kinerja ekspor dan impor Indonesia.

Rentang proyeksi tersebut mengindikasikan bahwa meskipun terjadi defisit, skalanya masih sangat proporsional terhadap ukuran ekonomi nasional secara keseluruhan. BI berkomitmen untuk terus memantau perkembangan global yang berpotensi memengaruhi indikator tersebut.

Dinamika Ekonomi Global dan Lokal Lainnya

Di sisi lain, publik juga menaruh perhatian pada beberapa isu ekonomi terkini seperti kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25%. Langkah ini diambil sebagai respons atas memburuknya prospek ekonomi global yang memicu pelarian modal dari negara berkembang.

Peningkatan suku bunga acuan tersebut berdampak langsung pada pasar obligasi yang mulai menuntut yield atau imbal hasil lebih tinggi. Meskipun BI Rate naik, bunga kredit perbankan dilaporkan hanya turun tipis sekitar 44 bps ke level 8,76% pada periode yang sama.

Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan per April 2026 tercatat tumbuh 9,9% yang mayoritas didorong oleh permintaan kredit investasi. Untuk pertumbuhan ekonomi nasional tahun 2026 secara keseluruhan, Bank Indonesia mematok target ambisius di rentang 4,9% hingga 5,7%.

Artikel terkait

Rekomendasi