Strategi IMC Pelita (PSSI) Jaga Likuiditas di Tengah Risiko Harga BBM 2026

Strategi IMC Pelita (PSSI) Jaga Likuiditas di Tengah Risiko Harga BBM 2026
Foto: Strategi IMC Pelita (PSSI) Jaga Likuiditas di Tengah Risiko Harga BBM 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

PT IMC Pelita Logistik Tbk. (PSSI) menghadapi tantangan besar di kuartal I/2026 akibat kenaikan harga bahan bakar yang berdampak langsung pada biaya operasional. Direktur Utama PSSI, Yolanda Watulo, menyatakan bahwa perusahaan akan tetap fokus menjaga stabilitas operasional serta pengelolaan usaha di tengah dinamika industri logistik dan energi nasional.

"Kuartal I/2026 cukup menantang, terutama karena penyesuaian volume pengangkutan dan tekanan margin operasional," ungkapnya pada Rabu (27/5/2026). Dia menjelaskan, saat ini perusahaan lebih memprioritaskan stabilisasi operasional dan kesehatan keuangan ketimbang pertumbuhan agresif.

PSSI berfokus pada efisiensi biaya, menjaga utilisasi armada optimal, serta mempertahankan arus kas dan likuiditas yang sehat. Meski belum memberikan panduan spesifik terkait target pendapatan maupun laba bersih tahun ini, fundamental perusahaan dinilai cukup solid.

Bahan bakar menjadi salah satu komponen biaya terbesar dalam pelayaran, sehingga kenaikan harga BBM non-subsidi langsung meningkatkan beban operasional. Namun, dampaknya dapat dikelola karena sebagian kontrak memiliki mekanisme pass-through atau penyesuaian tarif kepada pelanggan, terutama untuk kontrak berbasis time charter.

PSSI terus memperkuat langkah efisiensi operasional dengan mengelola konsumsi bahan bakar, optimalisasi perjalanan, maintenance preventif, dan peningkatan utilisasi armada agar margin usaha tetap terjaga di tengah kondisi industri yang fluktuatif. Per 31 Maret 2026, perusahaan membukukan kas dan setara kas sebesar US$58,7 juta dengan debt to equity ratio 0,06 kali dan current ratio yang sehat.

Di tengah tekanan industri, perusahaan tetap melanjutkan pengembangan strategis secara selektif dan bertahap untuk mendukung pertumbuhan jangka panjang. Dia memperkirakan industri logistik maritim masih menghadapi tantangan, termasuk volatilitas harga BBM, tekanan tarif angkutan, margin operasional, hingga fluktuasi volume pengangkutan.

Meskipun demikian, terdapat katalis positif yang dapat menopang bisnis pelayaran hingga akhir tahun. Kebutuhan distribusi energi domestik, logistik batu bara, serta aktivitas transshipment tetap menjadi penopang utama permintaan jasa logistik maritim.

PSSI menegaskan akan tetap fokus menjaga utilisasi armada, meningkatkan kualitas operasional, memperkuat efisiensi biaya, dan menjaga kesehatan arus kas sambil melanjutkan pengembangan usaha secara hati-hati. PSSI juga menyiapkan ekspansi armada secara selektif dengan menambah dua set tug & barge serta dua unit barge yang ditargetkan selesai pada akhir kuartal III/2026 dan awal kuartal IV/2026. Selain itu, PSSI mulai menjajaki bisnis di segmen liquid bulk untuk memperluas sumber pendapatan di luar angkutan batubara.

PSSI mencatat pendapatan sebesar US$ 10,59 juta di kuartal I/2026, menurun 29,51% dibandingkan US$ 15,02 juta pada tahun sebelumnya. Penurunan pendapatan ini menyebabkan kerugian meningkat menjadi US$ 1,28 juta dibanding US$ 464,50 ribu di kuartal I/2025.

Artikel terkait

Rekomendasi