Sukuk Tabungan ST016 tampaknya menjadi primadona di tengah kenaikan suku bunga, dengan penjualan hampir mencapai Rp18,76 triliun. Fitur "floating with floor" yang dimiliki produk ini menarik perhatian para investor.
Menurut data dari Bibit, per pukul 10.20 WIB, ST016-T2 hanya menyisakan 0,6% dari target atau senilai Rp76 miliar. Sementara ST016-T4 tersisa 11,6% atau sekitar Rp809,63 miliar dari target totalnya.
Penjualan yang signifikan ini mencerminkan adanya peningkatan kuota yang diberikan DJPPR. ST016-T2 berhasil memperoleh kuota penuh senilai Rp12,66 triliun. Sementara itu, ST016-T4 dengan sisa penjualan 11,6% memiliki target penuh senilai Rp6,97 triliun, menunjukkan bahwa total penjualan mencapai Rp18,76 triliun.
Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Deni Ridwan menyatakan bahwa kuota penjualan produk ini telah dinaikkan sebesar Rp5 triliun menjadi Rp20 triliun. Mengenai kemungkinan penambahan kuota lebih lanjut, pihaknya akan mempertimbangkan kondisi penyerapan pasar.
Deni juga menilai bahwa ST016 menawarkan daya tarik yang tinggi di tengah lesunya pasar surat utang karena imbal hasilnya yang bersifat floating with floor. “Dalam kondisi pasar keuangan yang dinamis, ST016 menjadi pilihan menarik untuk diversifikasi portofolio investasi,” ujarnya.
Menurut prediksi Bibit, setelah kenaikan suku bunga sebesar 50 bps oleh Bank Indonesia, imbal hasil ST016-T2 bisa meningkat dari 6,05% menjadi 6,55%, dan ST016-T4 dari 6,25% menjadi 6,75%. Imbal hasil ini berlaku mulai 10 September 2026 jika BI Rate dipertahankan di level 5,25% hingga 6 Agustus 2026.
Larisnya penjualan ST016 sebelumnya telah diprediksi oleh para analis. Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk. Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan daya beli pasar terhadap ST016 akan kuat.
Minat investor ritel pada produk syariah dengan imbal hasil menarik tampak dari penjualan SR024 yang mencapai Rp17,49 triliun. “ST016 dengan fitur floating with floor tetap menarik di tengah ketidakpastian suku bunga dan volatilitas pasar,” katanya.
Penjualan ST016 juga didukung potensi reinvestasi dari investor ST012 yang jatuh tempo pada 10 Mei 2026. Nilai jatuh tempo ST012-T2 bahkan hampir menyamai target penjualan ST016 secara total.
“Dalam kondisi ekonomi yang masih tumbuh tetapi dibayangi risiko inflasi dan volatilitas rupiah, ST016 menawarkan alternatif bagi investor untuk melindungi nilai kekayaan sekaligus menikmati imbal hasil rutin,” tambahnya.
Henny Eugenia, General Manager Divisi Wealth Management BNI, juga optimis terhadap penjualan ST016. Kepercayaan ini didasari oleh animo masyarakat terhadap SBN Ritel selama 2026.
Dia memperkirakan bahwa ST016-T2 akan lebih diminati karena tenor yang lebih pendek, mengikuti kecenderungan investor ritel yang lebih menyukai investasi berjangka waktu pendek. Hal ini konsisten dengan penjualan SBN Ritel yang lebih laris pada tenor pendek.
“Dalam setiap penerbitan, literasi dan pendalaman pasar menjadi perhatian utama. BNI bersama Kemenkeu terus bersinergi melakukan sosialisasi untuk menjangkau masyarakat lebih luas,” imbuhnya.