Banyak masyarakat Indonesia yang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya mengalami kondisi intoleransi laktosa dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan data dari Jurnal Pangan Halal Volume 4 Nomor 1 yang terbit pada April 2022, prevalensi malabsorbsi laktosa di tanah air menunjukkan angka yang cukup signifikan pada berbagai kelompok usia anak-anak.
Statistik menunjukkan bahwa anak usia 3 hingga 5 tahun memiliki tingkat prevalensi sebesar 21,3 persen, sementara pada usia 6 hingga 11 tahun angkanya melonjak drastis hingga 57,8 persen. Untuk kelompok remaja usia 12 sampai 14 tahun, persentase tersebut mencapai titik tertinggi yakni sebesar 73 persen dari total populasi yang diteliti.
| Kategori Usia / Kelompok | Prevalensi Intoleransi Laktosa |
|---|---|
| Anak Usia 3-5 Tahun | 21,3% |
| Anak Usia 6-11 Tahun | 57,8% |
| Anak Usia 12-14 Tahun | 73% |
| Anak Rutin Minum Susu | 56,2% |
| Anak Tidak Rutin Minum Susu | 52,1% |
Ahli Nutrisi Vrischika Chabella mengungkapkan bahwa banyak kasus intoleransi laktosa di Indonesia yang tidak terdeteksi karena pola konsumsi masyarakat yang tinggi akan makanan olahan. Menurutnya, dominasi produk pangan ultra-proses (UPF) membuat seseorang sulit membedakan apakah gejala perut kembung disebabkan oleh susu atau bahan makanan tambahan lainnya.
Kondisi ini diperumit dengan fakta bahwa produk susu kini menjadi bahan baku yang sangat umum digunakan dalam berbagai kreasi kuliner modern seperti campuran kopi atau matcha. Vrischika menjelaskan bahwa spektrum intoleransi laktosa sangat luas, sehingga reaksi yang ditimbulkan pada setiap individu bisa bervariasi dari tingkat yang sangat ringan hingga taraf yang membahayakan.
Pada penderita dengan kondisi yang parah, mengonsumsi sedikit saja susu yang mengandung laktosa dapat berdampak buruk bagi kesehatan mereka secara keseluruhan. Gejala ekstrem yang mungkin muncul adalah gangguan sistem pencernaan yang serius, termasuk kemungkinan timbulnya darah saat melakukan buang air besar.
Sebaliknya, bagi mereka yang hanya memiliki gejala ringan, susu dan produk turunannya sebenarnya masih dapat dinikmati dalam batas tertentu meskipun mereka sering tidak menyadari kondisinya. Untuk mendeteksi kondisi ini secara mandiri, Vrischika menyarankan agar seseorang mengeliminasi makanan pemicu alergen lain terlebih dahulu sebelum mencoba mengonsumsi susu murni.
Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa gejala seperti perut kembung atau bloating benar-benar berasal dari reaksi laktosa dan bukan dari faktor makanan lain. Kecepatan reaksi tubuh setiap orang berbeda-beda, di mana gejala awal seperti perut kembung atau bergas bisa muncul hanya dalam waktu sepuluh menit setelah mengonsumsi susu.
Efek jangka panjang yang mungkin timbul juga bisa bermanifestasi pada kesehatan kulit, seperti munculnya jerawat pada wajah maupun area punggung atau yang dikenal sebagai bacne. Selain itu, gangguan pencernaan seperti diare kronis juga menjadi indikasi kuat bahwa tubuh seseorang tidak mampu memproses laktosa dengan baik dalam durasi yang lama.
Vrischika memberikan kiat praktis dengan menyarankan untuk mencoba minum susu dalam takaran kecil terlebih dahulu guna menguji sensitivitas sistem pencernaan secara bertahap. Melalui metode ini, setiap individu dapat memahami ambang batas atau volume susu yang masih dapat ditoleransi oleh tubuh mereka tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman.
Pilihan Produk Susu yang Lebih Ramah Pencernaan
Bagi mereka yang telah terdiagnosis memiliki intoleransi laktosa, susu nabati atau produk khusus yang sudah bebas laktosa kini telah banyak tersedia di pasaran sebagai alternatif. Namun, penderita gejala ringan ternyata masih bisa menikmati susu sapi asalkan memperhatikan dengan saksama cara pengolahan serta kualitas dari produk susu tersebut.
Penelitian menunjukkan bahwa kualitas pengolahan susu sangat memengaruhi tingkat penerimaan tubuh penderita intoleransi terhadap produk hewani tersebut. Vrischika menyebutkan bahwa penderita intoleransi laktosa cenderung lebih mampu mencerna susu pasteurisasi dibandingkan dengan susu yang diproses melalui metode Ultra High Temperature (UHT).
Perbedaan ini terjadi karena suhu pemanasan pada proses UHT jauh lebih tinggi sehingga mengubah struktur protein dan karakteristik alami susu menjadi sangat berbeda dari aslinya. Sementara itu, suhu pemanasan pada proses pasteurisasi jauh lebih rendah sehingga struktur asli susu tetap terjaga dan lebih mudah diterima oleh sistem pencernaan manusia.
Selain susu pasteurisasi, yogurt juga menjadi produk turunan susu yang sangat direkomendasikan bagi mereka yang memiliki sensitivitas laktosa pada tingkat ringan. Proses fermentasi dalam yogurt melibatkan bakteri baik yang membantu memecah laktosa sehingga beban kerja sistem pencernaan saat mengonsumsinya menjadi jauh lebih ringan.
Meskipun demikian, perlu diingat kembali bahwa setiap orang memiliki spektrum toleransi yang unik dan tidak semua produk fermentasi bisa cocok untuk setiap individu. Memahami cara kerja tubuh sendiri serta mengenali reaksi fisik setelah makan adalah kunci utama dalam mengelola kondisi intoleransi laktosa dengan bijak.