Istilah work-life balance atau keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan belakangan ini menjadi sorotan setelah seorang pimpinan perusahaan global menyebutnya sebagai tanda bahaya atau red flag. Inaki Ereno, yang menjabat sebagai CEO di salah satu perusahaan perawatan kesehatan terbesar di dunia, mengungkapkan pandangan kontroversial bahwa memprioritaskan keseimbangan tersebut justru mencerminkan adanya masalah dalam pekerjaan seseorang.
Ereno berpendapat bahwa ketika seseorang terus-menerus merisaukan pembagian waktu antara kantor dan urusan pribadi, hal itu menandakan ketidakcocokan dengan profesi yang dijalani saat ini. Melansir dari Fortune, ia menegaskan bahwa jika seseorang benar-benar mencintai dan menikmati apa yang mereka kerjakan, maka batasan antara waktu kerja dan kehidupan akan memudar dengan sendirinya tanpa terasa sebagai beban.
Menurut perspektif Ereno, individu seharusnya memiliki kecintaan yang sangat besar terhadap karier mereka sehingga kebutuhan untuk menyeimbangkan hidup tidak lagi menjadi isu yang dominan. Ia menilai bahwa menerapkan batas waktu yang kaku, seperti berhenti bekerja tepat pukul 17.00, tidak relevan bagi mereka yang benar-benar berdedikasi dan memiliki gairah tinggi terhadap pekerjaannya.
Jika seorang karyawan terus-menerus menghitung menit demi menit agar hari segera berakhir, Ereno menganggap itu sebagai sinyal kuat adanya ketidakselarasan antara individu dan tugasnya. Pandangan ini sejalan dengan pendapat beberapa tokoh dunia lain, seperti CEO Nvidia Jensen Huang dan mantan Presiden AS Barack Obama, yang meyakini bahwa kesuksesan luar biasa menuntut fase kerja tanpa henti.
Dampak Buruk Ketidakseimbangan Kehidupan dan Pekerjaan
Meskipun gaya kerja intensif tersebut berhasil bagi beberapa tokoh besar, para ahli memperingatkan bahwa pola ini tidak selalu bisa diterapkan secara sehat bagi semua orang. Menukil dari laman Meavo, mengabaikan keseimbangan hidup demi pekerjaan secara terus-menerus justru dapat memicu dampak negatif yang serius, baik bagi kesehatan fisik maupun kondisi mental karyawan.
Risiko pertama yang paling nyata adalah munculnya burnout atau kelelahan kronis akibat stres yang berkepanjangan tanpa adanya jeda istirahat yang memadai. Berdasarkan data terkini, sekitar 50 persen karyawan di seluruh dunia telah mengalami burnout, dan persentase ini ditemukan jauh lebih tinggi pada kelompok pekerja berusia muda.
Selain kelelahan emosional, tekanan kerja yang berlebihan tanpa waktu pemulihan yang cukup juga secara signifikan meningkatkan risiko gangguan kecemasan serta depresi. Kondisi di mana otak terus berada dalam mode siaga tanpa kesempatan untuk rileks akan menguras energi psikologis dan merusak stabilitas mental seseorang dalam jangka panjang.
Masalah fisik juga turut mengintai para pekerja yang abai pada keseimbangan hidup, mulai dari pola makan yang berantakan, kurang tidur, hingga minimnya aktivitas fisik. Dampak akumulatif dari gaya hidup yang tidak sehat ini dalam jangka panjang dapat memicu penyakit mematikan seperti serangan jantung dan risiko stroke.
Statistik dan Fakta Terkait Kepuasan Kerja
| Kategori Statistik | Data Persentase |
|---|---|
| Karyawan yang mengalami burnout saat ini | 50% |
| Pekerja yang tidak puas dengan keseimbangan hidupnya | 72% |
| Proporsi pekerja Indonesia yang mengalami overwork | 25% (Seperempat) |
Banyak orang keliru menganggap bahwa bekerja dengan durasi yang lebih lama secara otomatis akan meningkatkan produktivitas dan hasil akhir yang lebih baik. Padahal, kondisi kelelahan yang ekstrem justru menurunkan kemampuan otak untuk fokus, menghambat kreativitas, serta merusak kemampuan dalam pengambilan keputusan yang krusial.
Alih-alih dianggap sebagai red flag, konsep work-life balance seharusnya dipandang sebagai kebutuhan fundamental di tengah era industri yang serba cepat dan penuh tekanan. Walaupun pekerjaan bisa menjadi sumber kebahagiaan bagi segelintir orang, batasan yang sehat tetaplah cara terbaik bagi mayoritas pekerja untuk bertahan dan berkembang secara berkelanjutan.