Pernahkah Anda merasa mulas mendadak sesaat sebelum atau ketika sedang mengikuti perlombaan lari? Bagi para pelari, keinginan mendesak untuk buang air besar (BAB) ini sering kali menjadi momen yang sangat menyebalkan.
Kondisi ini semakin sulit karena fasilitas toilet di lokasi perlombaan biasanya sangat terbatas. Selain harus mengantre lama, pelari juga harus berkejaran dengan waktu serta target pribadi mereka dalam lomba tersebut.
Rupanya, rasa mulas saat berolahraga bukan sekadar sugesti atau rasa gugup belaka. Dalam dunia medis, fenomena ini disebut dengan istilah runner's trot atau gangguan pencernaan yang dipicu oleh aktivitas fisik.
Kondisi ini umumnya dialami oleh atlet olahraga ketahanan atau endurance, seperti pelari half marathon (HM) maupun full marathon (FM). Dokter spesialis olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan, SpKO, memberikan penjelasan mendalam mengenai hal ini.
Menurut dr. Andi, istilah medis yang tepat untuk fenomena ini adalah exercise-induced gastrointestinal distress. Ia menyebutkan bahwa masalah ini sebenarnya sangat lazim terjadi di kalangan pelari jarak jauh.
Berdasarkan data medis yang dipaparkan oleh dr. Andi Kurniawan:
- Kondisi ini diperkirakan dialami oleh sekitar 30 hingga 50 persen pelari jarak jauh di seluruh dunia.
- Meskipun sering terjadi, topik ini jarang dibahas secara terbuka karena dianggap sebagai hal yang memalukan atau tabu.
Ia menjelaskan bahwa setidaknya ada tiga faktor utama yang memicu munculnya rasa ingin BAB saat sedang berlomba. Faktor-faktor tersebut meliputi splanchnic ischemia, guncangan mekanis, hingga perubahan hormon dalam tubuh.
Splanchnic ischemia terjadi saat tubuh melakukan lari dengan intensitas tinggi. Pada kondisi ini, tubuh akan secara otomatis memprioritaskan aliran darah ke otot-otot yang bekerja dan ke area kulit untuk membuang panas.
Akibatnya, aliran darah menuju sistem pencernaan atau usus dapat menurun drastis hingga mencapai angka 80 persen. Usus yang mengalami kekurangan oksigen ini kemudian menjadi sangat sensitif dan pola gerakannya menjadi kacau.
Faktor kedua adalah mechanical jostling atau guncangan fisik yang terjadi secara berulang-ulang. Guncangan ini muncul dari gerakan lari yang menghentak organ pencernaan di dalam rongga perut.
Dalam satu kali perlombaan marathon, seorang pelari bisa melakukan lebih dari 40.000 kali langkah kaki. Hentakan kaki yang masif ini memberikan agitasi mekanis yang signifikan terhadap stabilitas usus manusia.
Terakhir, terdapat faktor perubahan hormonal yang terjadi selama aktivitas fisik yang berat. Tubuh akan melepaskan lonjakan hormon adrenalin atau katekolamin serta hormon motilin ke dalam sistem peredaran darah.
Lonjakan hormon-hormon tersebut ternyata memiliki efek langsung untuk merangsang kontraksi pada usus. Inilah yang kemudian memicu rasa mulas yang luar biasa hebat saat pelari sedang beraksi di lintasan.
Bagaimana Cara Menghadapi Kondisi Ini?
Ketika rasa mulas menyerang di tengah perlombaan, pelari biasanya dihadapkan pada dua pilihan sulit. Sebagian akan memilih terus memaksakan diri hingga garis finis, sementara sebagian lainnya memilih untuk berhenti atau Did Not Finish (DNF).
Dokter Andi menegaskan bahwa kedua pilihan tersebut merupakan keputusan pribadi yang sah-sah saja diambil oleh pelari. Namun, ia mengingatkan agar para pelari tetap mengutamakan keselamatan diri di atas ambisi mencapai podium.
Ada beberapa tanda bahaya atau red flags yang mengharuskan pelari segera berhenti demi alasan kesehatan:
- Ditemukannya darah pada tinja, baik yang berwarna merah segar maupun hitam pekat seperti aspal.
- Kondisi tersebut bisa menjadi indikasi awal dari ischemic colitis, sebuah komplikasi medis yang jarang terjadi namun sangat serius.
- Nyeri pada bagian perut yang sangat hebat dan terasa berbeda dari kram perut biasa.
- Munculnya gejala pusing yang berat, mata berkunang-kunang, atau perasaan seperti akan pingsan.
- Tanda-tanda dehidrasi akut, seperti urine yang sangat pekat atau tubuh berhenti berkeringat meskipun cuaca terasa panas.
- Mengalami demam atau terjadinya muntah secara berulang kali selama atau setelah perlombaan.
Selama tanda-tanda bahaya tersebut tidak muncul, secara medis kondisi runner's trot biasanya tidak sampai mengancam nyawa. Pelari bisa melanjutkan lomba jika merasa sanggup menanggung konsekuensi rasa tidak nyaman yang timbul.
Meski begitu, dr. Andi memberikan pesan penutup yang sangat penting bagi setiap pegiat olahraga lari. Menurutnya, mengejar prestasi atau podium dengan cara mengabaikan sinyal bahaya dari tubuh sendiri adalah sebuah pertaruhan yang berisiko tinggi.