Pasar modal Indonesia dalam sepekan terakhir menunjukkan dinamika yang menarik dengan adanya penguatan signifikan pada sejumlah emiten dari berbagai sektor. Berdasarkan data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), deretan saham di bidang energi dan infrastruktur tercatat mendominasi panggung pasar saham.
Menariknya, mayoritas saham yang mencatatkan kenaikan tertinggi atau top gainers merupakan perusahaan yang berada di bawah naungan konglomerat Prajogo Pangestu. Kinerja positif ini menjadi sorotan utama bagi para investor yang memantau pergerakan pasar sepanjang periode perdagangan tersebut.
Saham Barito Renewables Energy Memimpin Penguatan
PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) resmi menduduki posisi puncak dalam daftar saham dengan kenaikan paling tajam pekan ini. Emiten yang fokus pada sektor energi terbarukan ini berhasil mencatatkan lonjakan harga sebesar 34,69 persen.
Harga saham BREN melesat dari angka 2.450 pada penutupan pekan lalu menjadi 3.300 pada akhir pekan ini. Penambahan nilai sebesar 850 poin ini menjadikannya sebagai instrumen investasi dengan performa paling gemilang di bursa.
Di posisi berikutnya, terdapat saham PT Indonesia Prima Property Tbk. (OMRE) yang kinerjanya juga tak kalah impresif. Emiten properti ini mengalami penguatan sebesar 33,33 persen dengan kenaikan harga dari level 780 hingga menyentuh angka 1.040.
Sektor agribisnis pun ikut memberikan kontribusi melalui PT Aman Agrindo Tbk. (GULA). Saham ini terpantau melonjak hingga 28,54 persen dan mengakhiri perdagangan pekan ini di posisi harga 545 per lembar saham.
Tren positif berlanjut pada saham PT Krida Jaringan Nusantara Tbk. (KJEN) yang nilainya terapresiasi sebesar 28,48 persen ke level 212. Selain itu, sektor perbankan digital juga unjuk gigi melalui kenaikan saham PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI).
Saham BBHI terpantau menguat cukup signifikan sebesar 26,75 persen sepanjang pekan ini. Harga saham bank milik CT Corp tersebut bergerak naik dari posisi 785 menuju level 995 pada penutupan perdagangan terakhir.
Dominasi Emiten Grup Prajogo Pangestu Lainnya
Selain BREN, entitas bisnis lain milik Prajogo Pangestu juga menunjukkan taringnya di pasar modal. Salah satunya adalah PT Petrosea Tbk. (PTRO) yang harga sahamnya meroket hingga 24,53 persen dan ditutup pada harga 4.670.
Keberhasilan ini diikuti oleh emiten tambang lainnya, yaitu PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN). Saham CUAN berhasil membukukan kenaikan harga sebesar 22,33 persen sehingga kini berada pada level 630.
Kenaikan harga saham yang merata pada grup konglomerasi ini membuat kekayaan Prajogo Pangestu dikabarkan bertambah hingga puluhan triliun rupiah dalam satu hari saja. Kondisi ini memberikan dampak psikologis positif bagi para pemegang saham emiten terkait.
Berikut adalah rincian lengkap emiten yang masuk ke dalam jajaran sepuluh besar top gainers selama sepekan terakhir:
Daftar lengkap saham dengan performa tertinggi pada pekan ini:
- PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN): Naik 34,69% ke level 3.300.
- PT Indonesia Prima Property Tbk. (OMRE): Naik 33,33% ke level 1.040.
- PT Aman Agrindo Tbk. (GULA): Naik 28,54% ke level 545.
- PT Krida Jaringan Nusantara Tbk. (KJEN): Naik 28,48% ke level 212.
- PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI): Naik 26,75% ke level 995.
- PT Petrosea Tbk. (PTRO): Naik 24,53% ke level 4.670.
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN): Naik 22,33% ke level 630.
- PT Fortune Indonesia Tbk. (FORU): Naik 21,95% ke level 1.500.
- PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU): Naik 21,00% ke level 5.300.
- PT Barito Pacific Tbk. (BRPT): Naik 20,87% ke level 1.940.
Data di atas memperlihatkan bahwa variasi sektor yang mengalami penguatan cukup beragam, mulai dari energi, perbankan, hingga jasa periklanan dan infrastruktur. Investor cenderung merespons positif aksi korporasi maupun sentimen industri dari masing-masing emiten tersebut.
Performa IHSG dan Aktivitas Investor Asing
Meskipun banyak saham individual yang melesat tinggi, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ditutup di zona merah. IHSG tercatat mengalami pelemahan tipis sebesar 0,56 persen dalam kurun waktu satu pekan.
Posisi indeks menurun ke level 6.127,381 dibandingkan dengan posisi penutupan pekan sebelumnya yang berada di angka 6.162,045. Penurunan ini sejalan dengan adanya perubahan aktivitas transaksi harian di bursa saham domestik.
Rata-rata frekuensi transaksi harian selama sepekan mengalami penurunan sebesar 10,87 persen menjadi 2,11 juta kali transaksi. Padahal, pada periode pekan sebelumnya, aktivitas transaksi harian mampu mencapai angka 2,37 juta kali.
Volume transaksi harian di Bursa Efek Indonesia juga mencatatkan koreksi sebesar 15,60 persen. Total volume perdagangan turun dari 36,67 miliar saham pada pekan lalu menjadi sekitar 30,95 miliar lembar saham pada pekan ini.
Kondisi pasar juga dipengaruhi oleh aksi jual bersih yang dilakukan oleh para investor mancanegara. Pada akhir pekan perdagangan saja, investor asing mencatatkan nilai jual bersih atau net sell mencapai Rp8,519 triliun.
Jika ditarik lebih jauh sepanjang tahun 2026, akumulasi nilai jual bersih investor asing telah mencapai angka yang cukup fantastis. Total nilai net sell asing secara year-to-date tercatat sebesar Rp53,971 triliun.
Berikut adalah tabel ringkasan kinerja pasar modal Indonesia untuk memberikan gambaran yang lebih jelas:
Ringkasan indikator pasar saham Indonesia pekan ini:
| Indikator Pasar | Posisi Pekan Lalu | Posisi Pekan Ini | Persentase Perubahan |
|---|---|---|---|
| IHSG | 6.162,045 | 6.127,381 | -0,56% |
| Rata-rata Frekuensi Transaksi | 2,37 Juta Kali | 2,11 Juta Kali | -10,87% |
| Rata-rata Volume Transaksi | 36,67 Miliar Lembar | 30,95 Miliar Lembar | -15,60% |
| Nilai Jual Bersih Asing (Sepekan) | - | Rp8,519 Triliun | - |
| Nilai Jual Bersih Asing (YtD 2026) | - | Rp53,971 Triliun | - |
Data tabel di atas menunjukkan bahwa meskipun pasar secara keseluruhan mengalami tekanan dari investor asing, minat beli lokal tetap kuat. Hal ini terlihat dari reli harga pada saham-saham tertentu yang tetap mampu tumbuh secara signifikan meski indeks utama melemah.
Kondisi ini menegaskan bahwa meskipun arah pasar global masih dibayangi ketidakpastian, saham-saham dengan fundamental kuat tetap menjadi incaran. Fokus pasar selanjutnya diperkirakan akan tetap tertuju pada pergerakan saham lapis kedua dan emiten grup besar yang memiliki volatilitas tinggi.