Rupiah Terperosok ke Rp17.887 per Dolar AS Pagi Ini, Terendah di 2026?

Rupiah Terperosok ke Rp17.887 per Dolar AS Pagi Ini, Terendah di 2026?
Foto: Rupiah Terperosok ke Rp17.887 per Dolar AS Pagi Ini, Terendah di 2026?. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Nilai tukar rupiah mengawali perdagangan pada Rabu, 3 Juni 2026 dengan pergerakan yang kurang menggembirakan. Mata uang Garuda terpantau melemah cukup dalam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di pasar spot pagi ini.

Berdasarkan data terbaru dari RTI Infokom pada pukul 09.15 WIB, kurs rupiah kini bertengger di posisi Rp17.887 per dolar AS. Angka tersebut menunjukkan adanya koreksi sebesar 0,39% jika dibandingkan dengan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya.

Kondisi yang dialami rupiah saat ini berbanding terbalik dengan mayoritas mata uang negara-negara di kawasan Asia. Sebagian besar nilai tukar di wilayah tersebut justru terpantau bergerak di zona hijau melawan greenback.

Sebagai contoh, dolar Taiwan tercatat menguat tipis sebesar 0,05% dan dolar Singapura juga naik 0,02%. Begitu pula dengan won Korea Selatan yang terapresiasi 0,02%, yen Jepang naik 0,06%, serta dolar Hong Kong yang menguat tipis 0,01%.

Hanya baht Thailand yang bernasib serupa dengan rupiah karena mengalami tekanan di pembukaan pasar. Mata uang Negeri Gajah Putih tersebut tercatat melemah 0,06% terhadap dolar AS pagi ini.

Pemicu Pelemahan Rupiah dari Sisi Global

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan analisis terkait faktor yang menekan posisi rupiah. Menurutnya, ketidakpastian seputar konflik geopolitik di tingkat global menjadi sentimen negatif utama bagi pasar.

Salah satu fokus utama investor adalah dinamika hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang terus berubah. Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa komunikasi dengan Teheran masih berjalan, meski pihak Iran sempat menyebut negosiasi tengah ditangguhkan.

Ibrahim menjelaskan bahwa Trump sempat memberikan pernyataan yang kontradiktif melalui wawancara publik dan media sosial. Meski awalnya mengaku tidak keberatan jika pembicaraan buntu, Trump kemudian menyatakan harapan akan adanya kesepakatan baru.

Kesepakatan yang diharapkan tersebut mencakup perpanjangan masa gencatan senjata serta upaya pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat. Jalur pelayaran ini merupakan titik vital bagi distribusi energi dunia yang sering terganggu akibat konflik.

Selain itu, terdapat kabar mengenai perkembangan situasi di Lebanon yang mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel. Langkah de-eskalasi terbatas ini diharapkan bisa meredam meluasnya perang yang melibatkan Iran secara langsung.

Kondisi Ekonomi Domestik dan Sektor Riil

Selain faktor eksternal, para pelaku pasar juga sedang mencermati sejumlah indikator ekonomi nasional yang baru saja dirilis. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa angka inflasi tahunan pada Mei 2026 menyentuh level 3,08% (YoY).

Terjadi kenaikan pada Indeks Harga Konsumen (IHK) dari posisi 111,09 pada April menjadi 111,40 pada bulan Mei. Data ini mencerminkan adanya kenaikan harga barang dan jasa di tingkat konsumen dalam satu bulan terakhir.

Dari sisi industri, laporan Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia menunjukkan performa yang cukup lega. Angka PMI Manufaktur naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah sebelumnya sempat terkontraksi di level 49,1 pada April.

Meskipun PMI sudah kembali ke zona ekspansi, Ibrahim mengingatkan bahwa sektor industri masih menghadapi tantangan berat. Lonjakan biaya bahan baku dan kendala pada rantai pasokan menjadi faktor penghambat produksi yang perlu diwaspadai.

Berikut adalah ringkasan data ekonomi terbaru yang memengaruhi pasar keuangan :

  • Nilai Tukar Rupiah: Melemah ke level Rp17.887 per dolar AS pada pembukaan perdagangan pagi.
  • Inflasi Mei 2026: Tercatat sebesar 3,08% secara tahunan (Year-on-Year).
  • Indeks Harga Konsumen: Mengalami kenaikan posisi menjadi 111,40.
  • PMI Manufaktur: Kembali ke level ambang batas 50,0 setelah sempat turun ke bawah level 50.
  • Sentimen Global: Ketidakpastian negosiasi AS-Iran dan perkembangan konflik di Timur Tengah.

Data-data di atas menunjukkan bahwa meskipun ada sinyal pemulihan pada sektor manufaktur, tekanan dari sisi biaya tetap tinggi. Hal inilah yang membuat investor cenderung bersikap hati-hati dalam menempatkan aset pada mata uang pasar berkembang seperti rupiah.

Proyeksi Pergerakan Kurs Hingga Penutupan

Melihat berbagai sentimen yang berkembang, Ibrahim memperkirakan tren pelemahan rupiah masih akan berlanjut sepanjang hari ini. Ketidakpastian global dianggap masih terlalu kuat untuk diimbangi oleh data domestik yang ada.

Prediksi rentang pergerakan rupiah untuk perdagangan hari ini adalah sebagai berikut :

Indikator Pergerakan Estimasi Nilai / Kondisi
Rentang Harga Terendah Rp17.840 per dolar AS
Rentang Harga Tertinggi Rp17.900 per dolar AS
Prediksi Penutupan Melemah secara fluktuatif

Tabel di atas menggambarkan estimasi volatilitas rupiah yang diperkirakan akan bergerak dalam rentang yang cukup lebar. Investor disarankan untuk memantau perkembangan berita geopolitik terbaru yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Pejabat pemerintah, termasuk Menteri PU, sebelumnya sempat menyatakan bahwa pelemahan kurs belum berdampak signifikan pada proyek infrastruktur. Namun, banyak pelaku usaha mulai mewaspadai potensi kenaikan biaya produksi yang bisa memicu risiko PHK jika tren ini berlanjut.

Secara keseluruhan, pasar uang hari ini akan sangat bergantung pada hasil negosiasi internasional dan stabilitas harga komoditas global. Rupiah diharapkan mampu menemukan titik keseimbangan baru meskipun tekanan dolar AS masih sangat dominan di pasar global.

Artikel terkait

Rekomendasi