Pelemahan nilai tukar rupiah diprediksi akan memberikan tekanan besar bagi berbagai sektor ekonomi pada paruh kedua tahun 2026. Industri yang sangat bergantung pada energi dan bahan baku impor diperkirakan akan paling terpengaruh. Wijayanto Samirin, seorang Ekonom Senior dari Universitas Paramadina, mengungkapkan bahwa dampak dari melemahnya nilai tukar tidak terbatas pada sektor tertentu saja, sebab ekonomi global saat ini sudah saling terhubung.
“Masalahnya, saat ini ekonomi dunia sudah merupakan satu ekosistem, apalagi ASEAN. Jadi seluruh sektor akan terpengaruh, apalagi suku bunga juga akan cenderung naik,” ujar Wijayanto kepada Kompas.com, Kamis (28/5/2026).
Sektor yang paling rentan, menurut dia, adalah industri dengan kebutuhan impor tinggi serta berbasis dollar Amerika. Dalam paparan lebih lanjut, ia menyebutkan beberapa sektor yang paling merasakan dampaknya:
- Penerbangan
- Transportasi laut dan darat
- Farmasi
- Petrokimia
- Plastik
- Elektronik
- Otomotif
- Teknologi dan Konstruksi
Pelemahan rupiah ini diprediksi akan membuat biaya untuk impor bahan baku, energi, serta pembayaran utang luar negeri meningkat. Akibatnya, margin usaha tertekan dan harga barang dalam negeri naik. Di sektor penerbangan, sebagai contoh, mayoritas biaya operasional seperti avtur dan sewa pesawat dibayar dalam dollar Amerika, menyebabkan tekanan yang signifikan.
Industri farmasi juga merasakan dampak serupa karena bahan baku obat masih diimpor. Sektor otomotif dan elektronik dikhawatirkan akan menaikkan harga produk karena komponen impor mendominasi rantai produksinya. Kenaikan suku bunga akibat pelemahan rupiah ini juga diprediksi akan menambah beban bagi sektor konstruksi dan properti karena biaya pembiayaan lebih mahal.
Sebelumnya, tercatat rupiah di pasar spot semakin melemah di awal perdagangan, Kamis (28/5/2026). Pada pukul 09.48 WIB, nilai tukar rupiah turun 69 poin atau 0,39 persen, mencapai 17.870 per dollar Amerika Serikat. Hal ini merupakan lanjutan dari penurunan sehari sebelumnya, pada Rabu (27/5/2025), di mana rupiah terkoreksi 0,03 persen ke Rp 17.801 per dollar Amerika Serikat.
KOMPAS.com berkomitmen untuk menyajikan informasi yang jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan fakta-fakta yang jelas dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung dengan KOMPAS.com Plus sekarang.
```