Rupiah Melemah 2026, Harga Pangan Terbaru Melonjak Bikin Dapur Rakyat Gelisah

Rupiah Melemah 2026, Harga Pangan Terbaru Melonjak Bikin Dapur Rakyat Gelisah
Foto: Rupiah Melemah 2026, Harga Pangan Terbaru Melonjak Bikin Dapur Rakyat Gelisah. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks
```html

Melemahnya rupiah bukan hanya dirasakan oleh para pelaku pasar keuangan, tetapi juga berdampak pada daftar belanja rumah tangga di dapur-dapur rakyat. Harga pangan, biaya produksi, dan cicilan kredit perlahan bergerak naik. Dampak pelemahan rupiah tersebut tidak hanya terlihat dari nilai tukarnya, tetapi juga dari daya beli masyarakat.

Berdasarkan data BPS dan Bank Indonesia, perekonomian Indonesia pada triwulan I-2026 mencatat pertumbuhan sebesar 5,61 persen tahun ke tahun (yoy), dengan konsumsi rumah tangga naik 5,52 persen. Namun, kenaikan konsumsi ini sebagian besar didorong oleh pemenuhan kebutuhan pokok, bukan peningkatan daya beli.

Kebutuhan pokok meningkat akibat perayaan Tahun Baru, Imlek, dan Idul Fitri, serta belanja pemerintah seperti Gaji ke-14/THR dan bantuan pemerintah yang diterima oleh rumah tangga. Sebagai contoh, pada April 2026, komoditas seperti minyak goreng dan beras menjadi pendorong inflasi meskipun harganya naik. Rumah tangga tetap harus membeli karena ini adalah kebutuhan pokok, bukan pembelian ekstra yang meningkatkan daya beli.

Singkatnya, pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebagian besar masih didorong oleh kebutuhan pokok dan stimulus pemerintah:

  • Minyak goreng berkontribusi pada inflasi sebesar 0,05 persen.
  • Beras memberikan sumbangsih sebesar 0,02 persen pada inflasi.

Di sisi lain, rupiah terus tertekan. Pada 28 Mei 2026, kurs rupiah menurun tajam mencapai Rp 17.858 per dolar AS menurut Data Bloomberg. Kondisi ini dipicu oleh gejolak geopolitik dan kenaikan harga minyak dunia serta ketidakpastian kebijakan pemerintah dan ekonomi domestik.

Akibat pelemahan ini, harga impor melonjak drastis. Data BPS dari Mei 2026 menunjukkan bahwa tekanan dari sisi impor bukan hanya datang dari barang konsumsi. Pada Maret 2026, impor bahan baku dan bahan penolong meningkat 2,15 persen tahun ke tahun menjadi 13,77 miliar dolar AS.

Secara kumulatif dari Januari hingga Maret 2026, nilai impor mencapai 43,17 miliar dolar AS atau tumbuh 6,89 persen. Pelemahan rupiah dan peningkatan impor akan semakin menambah biaya impor, mendorong biaya produksi, dan berimbas pada harga konsumen akhir.

Sektor industri dan pertanian, yang banyak bergantung pada impor, menghadapi ancaman inflasi biaya dorongan karena harga bahan baku dan energi semakin mahal. Dalam praktik ekonomi, fenomena ini dikenal sebagai "exchange rate pass-through," di mana depresiasi mata uang menyebabkan harga barang impor seperti pangan, energi, dan mesin/komponen ikut naik secara bertahap.

```

Artikel terkait

Rekomendasi