Nilai tukar rupiah kembali mencatatkan hasil negatif pada penutupan perdagangan hari ini, Selasa (2/6/2026). Mata uang Garuda terlihat kehilangan tenaga saat berhadapan dengan dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan data pasar, rupiah mengalami penyusutan sebesar 34 poin atau sekitar 0,19 persen. Kondisi ini membawa posisi rupiah berakhir di level Rp17.839 per dolar AS.
Pergerakan Kurs Referensi BI dan Kondisi Pasar
Kondisi berbeda justru tampak pada data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia yang menunjukkan sedikit penguatan. Kurs referensi tersebut berada di posisi Rp17.863 per dolar AS.
Angka ini menunjukkan perbaikan tipis jika dibandingkan dengan hari sebelumnya yang sempat menyentuh Rp17.883 per dolar AS. Meskipun ada perlawanan, fluktuasi rupiah masih dipengaruhi oleh dinamika pasar global yang cukup dinamis.
Berikut adalah ringkasan perbandingan nilai tukar rupiah pada perdagangan hari ini:
| Indikator Kurs | Nilai Tukar | Keterangan |
|---|---|---|
| Pasar Spot (Penutupan) | Rp17.839 | Melemah 0,19% |
| JISDOR Bank Indonesia | Rp17.863 | Menguat dari Rp17.883 |
Tabel di atas memperlihatkan adanya perbedaan tipis antara harga penutupan di pasar spot dengan kurs referensi resmi yang dikeluarkan Bank Indonesia. Hal ini mencerminkan dinamika volatilitas yang terjadi sepanjang jam perdagangan.
Dampak Isu Geopolitik Global Terhadap Mata Uang
Ibrahim Assuaibi, seorang pengamat pasar uang, menilai bahwa pelemahan ini berkaitan erat dengan isu geopolitik di Timur Tengah. Kabar terbaru mengenai proses negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu fokus utama pasar.
Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa diskusi dengan pihak Iran sebenarnya masih terus berjalan. Pernyataan ini muncul di tengah laporan media lokal Iran yang menyebutkan bahwa Teheran sempat menangguhkan negosiasi tidak langsung tersebut.
Trump menaruh harapan besar agar segera tercapai kesepakatan untuk memperpanjang masa gencatan senjata. Targetnya, kesepakatan tersebut bisa membuka kembali akses jalur penting di Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Melalui risetnya, Ibrahim juga menyoroti sikap Trump yang tampak tidak keberatan jika pembicaraan tersebut tidak membuahkan hasil. Namun, tak lama kemudian ia menegaskan melalui media sosial bahwa komunikasi dengan Iran tetap berlanjut.
Sentimen Konflik di Lebanon dan Israel
Kabar lain yang turut mewarnai sentimen pasar adalah pengumuman gencatan senjata parsial di Lebanon. Langkah de-eskalasi terbatas ini melibatkan kelompok Hizbullah dan pihak Israel.
Kesepakatan ini diharapkan dapat meredam risiko terjadinya perang yang lebih luas di kawasan tersebut. Ketegangan di Timur Tengah memang selama ini menjadi faktor pemicu penguatan dolar AS sebagai aset aman, yang secara otomatis menekan mata uang negara berkembang seperti rupiah.