Setiap orang tua tentu mengharapkan masa depan yang cerah bagi buah hati mereka, mulai dari aspek kesehatan, jenjang pendidikan, hingga kesuksesan karier di masa depan. Namun, realitanya banyak pendekatan pengasuhan yang justru memicu rasa tidak nyaman hingga membuat anak cenderung bersikap membangkang terhadap orang tua.
Reem Raouda, seorang pelatih pengasuhan anak bersertifikasi dari Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa hasil penelitian menekankan pentingnya rasa aman dan nyaman bagi tumbuh kembang anak. Ia menjelaskan bahwa anak-anak yang merasa aman secara emosional akan tumbuh dengan tingkat kepercayaan diri dan ketahanan mental yang jauh lebih kuat.
Melalui studi yang melibatkan 200 anak, Raouda menemukan fakta bahwa perilaku buruk dan pembangkangan sering kali dipicu oleh rasa tidak nyaman yang dirasakan oleh sang anak. Perasaan aman yang dirasakan anak bersama orang tuanya saat ini akan menjadi fondasi utama dalam membentuk kepribadian mereka ketika dewasa kelak.
Guna membangun rasa aman tersebut, orang tua perlu menerapkan pola pengasuhan yang tepat sejak usia dini agar anak dapat berkembang secara optimal. Berikut adalah enam langkah yang direkomendasikan oleh Raouda untuk membentuk rasa aman pada diri anak.
1. Pahami Perasaan Anak dan Jangan Terburu-buru Merespons
Orang tua sering kali secara spontan berusaha menenangkan anak yang sedang menangis atau marah dengan kalimat seperti "Kamu baik-baik saja" atau "Tenanglah". Menurut Raouda, respons cepat yang bertujuan mematikan emosi anak tersebut sebenarnya kurang tepat untuk dilakukan dalam proses pengasuhan.
Tindakan tersebut justru menghambat anak untuk belajar mengelola emosi secara mandiri karena mereka dipaksa untuk segera menuruti keinginan orang tua agar terlihat tenang. Seharusnya, orang tua memberikan validasi dengan menemani mereka dan menyatakan bahwa menangis atau merasa sedih adalah hal yang wajar serta dapat diterima.
2. Berikan Ruang Berpendapat dan Hindari Membantah Perasaan Anak
Sering kali orang tua membantah pernyataan anak yang dianggap tidak logis, seperti saat anak mengaku lapar padahal baru saja selesai menyantap makanannya. Kesalahan lain yang kerap terjadi adalah ketika orang tua menghakimi perasaan anak terhadap temannya dengan kalimat yang cenderung menekan dan tidak mendukung.
Pernyataan yang bersifat menghakimi ini dapat mengakibatkan anak kehilangan rasa percaya diri serta merasa tidak diberikan ruang untuk mendefinisikan pikiran mereka sendiri. Anak yang perasaannya sering diabaikan berisiko tumbuh menjadi orang dewasa yang selalu meragukan pendapat serta nilai-nilai pribadi mereka dalam kehidupan sosial.
3. Tidak Semua Perilaku Harus Segera Diberikan Respons
Keinginan untuk selalu mengoreksi atau menjelaskan segala hal kepada anak terkadang muncul karena rasa kasih sayang yang berlebihan dari pihak orang tua. Padahal, memberikan respons langsung pada setiap emosi atau perilaku anak justru dapat merampas kesempatan mereka untuk memproses perasaan secara mandiri.
Orang tua disarankan untuk sesekali membiarkan anak mencari solusi atas permasalahan mereka sendiri agar mereka terbiasa mendengarkan suara hati dan pikirannya. Menahan keinginan untuk mengatur setiap momen kecil dalam hidup anak dan memilih untuk sekadar mengamati dapat memberikan dampak yang sangat positif.
4. Fokus pada Pemahaman Bukan Sekadar Penilaian
Dibandingkan hanya memberikan label "bagus" atau "mengecewakan" pada hasil akhir, orang tua sebaiknya menggunakan kalimat yang menunjukkan penghargaan terhadap proses kerja keras anak. Kalimat yang menunjukkan rasa ingin tahu terhadap usaha anak akan meninggalkan kesan mendalam bahwa orang tua benar-benar memperhatikan perjuangan mereka.
Langkah ini menunjukkan bahwa orang tua menghargai jerih payah anak secara tulus tanpa memberikan tekanan terhadap hasil akhir yang dicapai oleh anak tersebut. Jika orang tua menunjukkan ketertarikan yang murni terhadap proses yang dilalui anak, maka rasa aman akan terbentuk dengan sendirinya di dalam diri mereka.
5. Mengenali Perbedaan Anak yang Berkembang Baik dengan yang Sekadar Beradaptasi
Banyak anak yang terlihat berperilaku sopan dan penurut namun sebenarnya mengalami kekacauan emosional karena mereka dipaksa untuk selalu menjaga kedamaian demi hubungan. Mereka cenderung berusaha memenuhi ekspektasi orang lain, terutama orang tua, meskipun secara emosional mereka sebenarnya merasa tidak aman dan tertekan di dalam.
Sebaliknya, anak-anak yang terkadang berani melawan atau mengekspresikan rasa frustrasinya secara terbuka justru merupakan tanda bahwa mereka memiliki rasa aman secara emosional. Keberanian untuk mengekspresikan emosi negatif menunjukkan bahwa anak merasa cukup aman untuk menjadi dirinya sendiri di hadapan orang tua tanpa takut ditolak.
6. Pentingnya Refleksi Emosi Pribadi bagi Orang Tua
Orang tua juga perlu meluangkan waktu untuk mengenali emosi mereka sendiri dan melakukan introspeksi mendalam sebelum menanggapi permasalahan yang dihadapi oleh anak-anak. Anak memiliki kepekaan yang tinggi untuk merasakan apakah orang tua mereka bersikap tulus atau hanya sekadar berpura-pura tenang di hadapan mereka saat itu.
Sebelum bereaksi terhadap kesulitan anak, orang tua sebaiknya mengambil napas sejenak untuk membedakan apakah reaksi tersebut didorong oleh perasaan pribadi atau demi kepentingan anak. Mengenali kondisi emosi diri sendiri adalah langkah krusial sebelum mencoba untuk memahami dan membimbing emosi anak secara lebih bijak dan efektif.