Banyak pelari sering kali merasakan mulas dan sakit perut yang mendadak menjelang garis awal perlombaan. Fenomena ini bahkan sempat viral di media sosial karena beberapa pelari mengaku terpaksa buang air besar (BAB) di celana akibat desakan yang tidak tertahankan.
Kondisi medis yang cukup lazim di kalangan atlet lari ini dikenal dengan istilah runner's trot. Istilah tersebut merujuk pada keinginan kuat untuk buang air besar yang muncul tepat saat sedang berlari atau sesaat setelah aktivitas selesai.
Mengenal Fenomena Runner's Trot
Menurut informasi dari WebMD, dorongan BAB ini sering kali berujung pada diare mendesak bagi para pelari. Situasi ini diperparah oleh waktu pelaksanaan lomba yang biasanya dimulai pada pagi hari, yang secara biologis merupakan waktu rutin BAB bagi banyak orang.
Runner's trot lebih sering menyerang pelari jarak jauh dibandingkan pelari jarak pendek. Selain itu, data menunjukkan bahwa wanita dan pelari berusia muda memiliki risiko lebih tinggi mengalami kondisi ini dibandingkan pria atau pelari yang lebih tua.
Gejala yang Sering Muncul
Gejala yang dialami pelari bisa bervariasi tergantung pada intensitas dan jarak tempuh lari yang dilakukan. Semakin jauh jarak yang dijelajahi, biasanya gejala yang muncul akan terasa semakin berat bagi tubuh.
Beberapa gejala umum yang sering dirasakan oleh para pelari antara lain:
- Perut terasa kembung dan kram yang menyakitkan.
- Diare atau ketidakmampuan mengontrol keluarnya feses (inkontinensia).
- Rasa mual hingga muntah selama aktivitas fisik berlangsung.
- Gejala asam lambung (maag) serta nyeri pada bagian dada.
- Keinginan mendesak untuk BAB hingga kemungkinan adanya darah pada feses.
Berbagai keluhan tersebut menunjukkan bahwa sistem pencernaan sedang mengalami tekanan besar saat tubuh dipaksa bekerja keras dalam waktu lama. Jika gejala berlanjut atau semakin parah, pelari disarankan untuk segera melakukan pemeriksaan medis.
Mengapa Perut Terasa Mulas Saat Berlari?
Kondisi ini umumnya dipicu oleh perubahan aliran darah dalam tubuh saat seseorang sedang berolahraga intens. Darah yang seharusnya mengalir ke sistem pencernaan dialihkan menuju otot-otot kaki yang digunakan untuk berlari.
Akibatnya, usus besar kekurangan pasokan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan untuk bekerja secara normal. Kombinasi antara berkurangnya aliran darah dan dehidrasi inilah yang memicu diare mendesak hingga peradangan usus sementara.
Cara Mencegah Runner's Trot
Untuk menghindari kejadian memalukan atau rasa tidak nyaman saat race, pelari bisa mencoba mengonsumsi obat tertentu seperti loperamide. Namun, sangat penting untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum memutuskan mengonsumsi obat-obatan tersebut.
Selain bantuan medis, pengaturan pola makan sebelum berlari memegang peranan kunci dalam menjaga kestabilan perut. Berdasarkan survei tahun 2020, banyak pelari profesional yang mulai sangat selektif terhadap menu makanan mereka sebelum bertanding.
Daftar hal yang sebaiknya diperhatikan untuk mencegah gangguan pencernaan:
- Hindari makanan tinggi serat, daging, serta produk olahan susu sebelum lomba.
- Batasi konsumsi makanan laut (seafood) dan daging unggas yang sulit dicerna.
- Gunakan pakaian olahraga yang nyaman dan tidak terlalu ketat di bagian perut.
- Pastikan hidrasi tubuh terjaga dengan baik namun tidak berlebihan secara mendadak.
Pakaian yang terlalu ketat diketahui dapat menghambat sirkulasi darah ke saluran pencernaan. Hal ini justru memperburuk gejala diare dan membuat perut terasa semakin tertekan selama perlombaan berlangsung.
Berikut adalah ringkasan panduan pencegahan bagi para pelari:
| Kategori Pencegahan | Tindakan yang Disarankan |
|---|---|
| Nutrisi | Hindari serat tinggi, produk susu, dan daging berat sebelum lari. |
| Pakaian | Gunakan pakaian longgar yang tidak menekan area perut. |
| Medis | Konsultasi dokter terkait penggunaan obat anti-diare jika diperlukan. |
| Waktu Makan | Beri jeda waktu yang cukup antara makan terakhir dan waktu mulai lari. |
Dengan melakukan persiapan yang matang dari sisi asupan nutrisi dan perlengkapan, risiko terkena runner's trot dapat diminimalisir. Hal ini penting agar fokus pelari tetap pada performa dan pencapaian waktu terbaik tanpa terganggu masalah pencernaan.