Racikan Stimulus Terbaru Jadi "Jamu" Ampuh Agar Rupiah Tak Loyo di 2026

Racikan Stimulus Terbaru Jadi "Jamu" Ampuh Agar Rupiah Tak Loyo di 2026
Foto: Racikan Stimulus Terbaru Jadi "Jamu" Ampuh Agar Rupiah Tak Loyo di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Mata uang rupiah membutuhkan dorongan dari berbagai kebijakan terpadu agar bisa segera keluar dari tren pelemahan. Penguatan nilai tukar ini dinilai dapat tercapai melalui kombinasi peningkatan imbal hasil instrumen keuangan serta sinyal kebijakan pemerintah yang tegas.

Syafruddin Karimi, Ekonom sekaligus Guru Besar Universitas Andalas, mengungkapkan bahwa penarikan modal asing memerlukan instrumen yang instan dan kompetitif. Hal ini mencakup imbal hasil rupiah yang menarik, ketersediaan lindung nilai valas yang likuid, serta langkah kebijakan yang jelas.

Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dianggap masih sangat relevan dalam situasi saat ini. Instrumen ini menawarkan imbal hasil yang kompetitif dengan risiko tenor atau jangka waktu yang lebih singkat bagi para investor.

Beberapa elemen penting yang dibutuhkan pasar saat ini meliputi:

  • Ketersediaan pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) yang memadai.
  • Kedalaman pasar swap agar investor dapat masuk ke aset rupiah dengan risiko kurs yang lebih rendah.
  • Penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) yang terukur dan tetap menjaga disiplin fiskal.
  • Independensi Bank Indonesia agar tidak terdesak untuk membiayai defisit anggaran pemerintah.

Syafruddin menambahkan bahwa kredibilitas kebijakan merupakan kunci utama dalam memulihkan kepercayaan investor global. Ia menekankan pentingnya komunikasi yang konsisten antara otoritas fiskal dan moneter untuk mengurangi kekhawatiran pasar.

Investasi asing diprediksi akan kembali masuk ke Indonesia jika nilai rupiah terjaga stabil dan risiko kebijakan menurun. Selain itu, daya tarik imbal hasil yang ditawarkan harus tetap kompetitif dibandingkan instrumen negara lain.

Fokus pada Instrumen Pasar Keuangan Jangka Pendek

Senada dengan hal tersebut, Nanang Wahyudin dari Valbury Asia Futures menilai instrumen pasar keuangan memiliki dampak yang lebih instan dibanding sektor riil. Fokus utama saat ini adalah memperkuat daya tarik aset-aset berbasis rupiah di mata investor asing.

Regulator diharapkan dapat menyesuaikan kembali imbal hasil pada instrumen jangka pendek yang bersifat pro-market. Langkah ini penting untuk memperlebar selisih imbal hasil atau yield spread terhadap surat utang Amerika Serikat, US Treasuries.

Berikut adalah ringkasan strategi utama untuk memperkuat nilai tukar rupiah:

Kategori Kebijakan Instrumen Utama Tujuan Strategis
Pasar Moneter SRBI & SBN Tenor Pendek Meningkatkan daya tarik imbal hasil bagi investor sensitif suku bunga.
Mitigasi Risiko DNDF & Pasar Swap Menyediakan fasilitas lindung nilai (hedging) yang likuid.
Intervensi Pasar Operasi Valas Meredam volatilitas nilai tukar secara langsung di pasar.
Kredibilitas Disiplin Fiskal Membangun kepercayaan investor terhadap stabilitas ekonomi nasional.

Tabel di atas merincikan bagaimana sinergi antara instrumen moneter dan kepastian kebijakan dapat menekan depresiasi mata uang. Fokus utama terletak pada penyediaan instrumen yang likuid agar investor bisa bertransaksi dengan biaya minimal.

Nanang juga mengingatkan pentingnya memastikan likuiditas di pasar sekunder baik untuk SRBI maupun SBN tetap tinggi. Hal ini krusial agar investor memiliki kepercayaan diri untuk masuk atau keluar dari pasar modal Indonesia tanpa potongan harga yang besar.

Terakhir, penguatan operasional valuta asing dan perbaikan mikrostruktur pasar dianggap menjadi stimulus tambahan yang diperlukan saat ini. Langkah-langkah teknis ini diharapkan dapat menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan ekonomi global.

Artikel terkait

Rekomendasi