Prediksi Rupiah 2026: Intip Syarat Utama Agar Kurs Kembali Menguat Tajam

Prediksi Rupiah 2026: Intip Syarat Utama Agar Kurs Kembali Menguat Tajam
Foto: Prediksi Rupiah 2026: Intip Syarat Utama Agar Kurs Kembali Menguat Tajam. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia, Fakhrul Fulvian, melihat adanya peluang besar bagi nilai tukar rupiah untuk kembali menguat. Potensi rebound ini sangat bergantung pada perbaikan bauran kebijakan (policy mix) serta pembagian beban yang seimbang antara sektor fiskal dan moneter.

Fakhrul memproyeksikan rupiah bisa kembali ke kisaran Rp 16.800 hingga Rp 17.000 per dollar AS. Syarat utamanya adalah koordinasi yang solid antara kebijakan fiskal pemerintah dan kebijakan moneter Bank Indonesia.

Kondisi saat ini menunjukkan tekanan yang cukup berat di pasar internasional. Pada periode libur Hari Raya Idul Adha, Rabu (27/5/2026) dan Kamis (28/5/2026), nilai tukar rupiah di pasar offshore sempat menyentuh angka Rp 17.800 per dollar AS.

Menurut Fakhrul, posisi rupiah saat ini sudah terlalu rendah dan tidak mencerminkan kapasitas ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Ia menegaskan bahwa upaya menjaga stabilitas mata uang tidak bisa hanya mengandalkan Bank Indonesia (BI) semata.

Sinergi Kebijakan dan Stabilitas Moneter

Pasar keuangan saat ini tengah memantau seberapa konsisten pemerintah dan BI dalam menjalankan arah kebijakan mereka. Koordinasi yang sinkron dianggap krusial, terutama di tengah ketidakpastian kondisi global yang sangat dinamis.

Fakhrul memperingatkan bahwa tekanan terhadap rupiah akan tetap besar jika komunikasi kebijakan tidak sejalan. Meskipun BI sudah memperketat kebijakan moneter, posisi fiskal juga harus mendukung langkah tersebut agar hasilnya optimal.

Sebagai langkah antisipasi, BI baru saja menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin hingga mencapai level 5,25 persen. Keputusan ini dinilai penting untuk mengembalikan kepercayaan pasar terhadap kredibilitas bank sentral.

Langkah BI ini menunjukkan keseriusan dalam mengendalikan inflasi jangka menengah dan menjaga stabilitas kurs. Fakhrul menilai BI kini mulai kembali menerapkan strategi yang proaktif, seperti yang pernah dilakukan pada tahun 2018 silam.

Tantangan Fiskal dan Realitas Global Baru

Pemerintah juga didorong untuk menyesuaikan kebijakan fiskal dengan perubahan realitas global yang semakin kompleks. Tantangan saat ini mencakup inflasi struktural yang tinggi, konflik geopolitik, hingga mahalnya biaya energi dunia.

Beberapa faktor global yang memengaruhi kebijakan ekonomi nasional saat ini antara lain:

  • Tingkat inflasi struktural global yang cenderung bertahan tinggi.
  • Fragmentasi geopolitik yang mengganggu stabilitas perdagangan internasional.
  • Kenaikan biaya energi yang membebani neraca perdagangan.
  • Rantai pasok global yang semakin rumit dan menantang.

Kondisi tersebut menuntut kewaspadaan ekstra terhadap persepsi investor di pasar obligasi. Fakhrul mengingatkan bahwa kekhawatiran terkait pembiayaan APBN dan skema subsidi dapat memicu kenaikan premi risiko.

Normalisasi Likuiditas dan Struktur Ekonomi

Meskipun instrumen seperti SRBI efektif menjaga rupiah dalam jangka pendek, penggunaannya yang terlalu lama memiliki risiko tersendiri. Hal ini dapat menyedot likuiditas pasar dan menghambat penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif.

Berikut adalah ringkasan pandangan mengenai struktur suku bunga dan langkah pemulihan:

Instrumen/Sektor Dampak Saat Ini Langkah yang Diperlukan
Suku Bunga SRBI Menjaga stabilitas rupiah jangka pendek. Perlu evaluasi agar tidak menyedot likuiditas terlalu lama.
Yield Curve SBN Masih belum sepenuhnya sehat. Normalisasi bertahap untuk menarik aliran modal asing.
Sektor Riil Terbebani biaya dana yang tinggi. Dukungan kredit produktif melalui likuiditas yang cukup.

Setelah stabilitas pulih, kurva imbal hasil SBN harus segera dinormalisasi agar modal asing kembali masuk secara bertahap. Langkah ini penting untuk menyehatkan kembali struktur suku bunga domestik secara keseluruhan.

Secara umum, Indonesia perlu membangun struktur ekonomi yang lebih tangguh dan tidak rapuh (anti-fragile). Pembagian beban harus terdistribusi merata antara otoritas fiskal, moneter, serta sektor energi dan riil.

Fakhrul menutup pandangannya dengan menekankan pentingnya keseimbangan ini agar volatilitas tidak terus berulang. Jika beban hanya ditumpukan pada nilai tukar, rupiah akan selalu menjadi sasaran utama setiap kali terjadi guncangan ekonomi.

Artikel terkait

Rekomendasi