Ponaryo Astaman Kenang Momen Bersejarah Tukar Jersey dengan Bima Sakti, Perbincangan Hangat di 2026

Ponaryo Astaman Kenang Momen Bersejarah Tukar Jersey dengan Bima Sakti, Perbincangan Hangat di 2026
Foto: Ponaryo Astaman Kenang Momen Bersejarah Tukar Jersey dengan Bima Sakti, Perbincangan Hangat di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

Dunia sepak bola selalu memiliki kisah menarik tentang hubungan antara pemain muda dengan para senior yang mereka kagumi. Seperti halnya Bambang Pamungkas yang sangat mengidolakan sosok Kurniawan Dwi Yulianto, legenda hidup Timnas Indonesia lainnya, Ponaryo Astaman, juga memiliki cerita serupa mengenai sosok inspiratif di balik kariernya.

Mantan jenderal lapangan tengah skuad Garuda tersebut secara terbuka mengungkapkan bahwa Bima Sakti adalah sosok yang ia jadikan panutan sejak lama. Kekaguman ini bukan tanpa alasan, mengingat keduanya memiliki latar belakang posisi bermain yang sama dan sejarah panjang dalam perkembangan sepak bola tanah air.

Kedekatan Emosional dan Latar Belakang Daerah yang Sama

Ponaryo Astaman menjelaskan bahwa salah satu alasan utama ia sangat mengidolakan Bima Sakti adalah faktor kedaerahan. Keduanya diketahui sama-sama berasal dari Balikpapan, Kalimantan Timur, yang menjadi ikatan emosional kuat bagi mereka.

Selain berasal dari kota yang sama, Ponaryo juga memiliki hubungan pertemanan yang cukup dekat dengan keluarga Bima Sakti. Ia merupakan teman satu sekolah sekaligus rekan setim adik kandung Bima Sakti saat masih meniti karier di level junior.

Fakta menarik mengenai hubungan awal Ponaryo Astaman dan Bima Sakti:

  • Ponaryo Astaman merupakan teman sekolah adik kandung Bima Sakti di Balikpapan.
  • Keduanya pernah bermain bersama di tim Persiba junior dalam turnamen Piala Suratin.
  • Selisih usia antara Ponaryo dan Bima Sakti adalah sekitar empat tahun.
  • Ponaryo lahir di Balikpapan pada tanggal 25 September 1979.

Hubungan personal ini membuat Ponaryo selalu mengikuti perkembangan karier Bima Sakti yang lebih dulu sukses menembus level nasional dan internasional. Hal ini menjadi motivasi besar bagi Ponaryo untuk mengikuti jejak sang idola di kemudian hari.

Momen Ikonik Pertukaran Jersey di Final Liga Indonesia

Pertemuan yang paling berkesan bagi Ponaryo terjadi pada partai puncak Divisi Utama Liga Indonesia musim 1999/2000. Saat itu, Ponaryo yang masih muda membela PKT Bontang, sementara Bima Sakti menjadi pilar utama PSM Makassar.

Pertandingan yang digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno pada 23 Juli 2000 tersebut berlangsung sangat sengit. Meskipun PKT Bontang harus kalah tipis dengan skor 2-3 dari PSM Makassar, momen setelah peluit panjang berakhir justru menjadi kenangan manis bagi Ponaryo.

Sebagaimana tradisi dalam sepak bola, Ponaryo Astaman tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bertukar seragam dengan pemain lawan. Tanpa ragu, ia langsung menghampiri Bima Sakti untuk meminta jerseynya sebagai bentuk penghormatan tertinggi.

Momen bersejarah ini kembali ia ceritakan dalam sebuah wawancara di kanal YouTube milik pengamat sepak bola, Bung Binder. Ponaryo mengakui bahwa saat itu ia merasa sangat bangga bisa bertukar kaos dengan pemain yang selama ini ia kagumi dari jauh.

Kekaguman Terhadap Generasi PSSI Primavera

Bima Sakti bukan sekadar pemain biasa di mata Ponaryo, melainkan representasi dari kesuksesan program PSSI Primavera. Program tersebut mengirimkan talenta muda terbaik Indonesia untuk belajar sepak bola modern di Italia pada periode 1993 hingga 1995.

Keberhasilan Bima Sakti menembus tim utama di Italia dan menjadi kapten tim nasional membuat banyak pemain muda di daerah merasa takjub. Ponaryo mengenang bagaimana ia dan rekan-rekannya di Balikpapan selalu memantau aksi para alumnus Primavera tersebut.

Daftar pemain legendaris lulusan PSSI Primavera yang menjadi inspirasi:

  • Bima Sakti: Gelandang tangguh yang dikenal dengan tendangan gledek dan kepemimpinannya.
  • Kurniawan Dwi Yulianto: Penyerang tajam yang pernah merumput di Liga Italia dan Swiss.
  • Kurnia Sandy: Penjaga gawang andalan yang memiliki pengalaman internasional.
  • Yeyen Tumena: Bek tangguh yang menjadi tembok pertahanan Timnas Indonesia.
  • Anang Ma'ruf: Bek sayap lincah yang sangat konsisten di level klub maupun timnas.

Nama-nama tersebut di bawah arahan pelatih legendaris Danurwindo telah menjadi standar baru bagi pesepak bola Indonesia kala itu. Ponaryo merasa bahwa melihat mereka bermain di Stadion Utama Senayan adalah sebuah mimpi yang ingin ia wujudkan juga.

Kesuksesan Karier Ponaryo yang Mengikuti Jejak Sang Idola

Perjalanan karier Ponaryo Astaman setelah membela PKT Bontang terbukti sangat cemerlang hingga ia dianggap sebagai salah satu gelandang terbaik Indonesia. Ia pernah memperkuat klub-klub besar seperti PSM Makassar, Arema Malang, Persija Jakarta, hingga Sriwijaya FC.

Puncak prestasi Ponaryo di level klub terjadi saat ia berseragam Sriwijaya FC dengan meraih berbagai gelar prestisius. Ia berhasil membawa Laskar Wong Kito menjuarai Indonesia Super League musim 2011/2012 dan beberapa turnamen bergengsi lainnya.

Ringkasan pencapaian trofi Ponaryo Astaman bersama Sriwijaya FC:

Nama Kompetisi Tahun Prestasi
Indonesia Super League (ISL) 2011/2012
Piala Indonesia 2010
Indonesian Community Shield 2010
Indonesian Inter Island Cup 2010, 2012

Data di atas menunjukkan betapa dominannya Ponaryo saat memimpin lini tengah Sriwijaya FC di masa jayanya. Prestasi ini semakin mengukuhkan namanya sebagai salah satu legenda sepak bola modern di tanah air.

Warisan Kepemimpinan di Timnas Indonesia

Tidak hanya sukses di level klub, Ponaryo juga menjadi pilar yang tak tergantikan di Timnas Indonesia selama sepuluh tahun, yakni dari 2003 hingga 2013. Menariknya, ia berhasil mengikuti jejak Bima Sakti dengan dipercaya menjabat sebagai kapten skuad Garuda.

Bersama Tim Merah Putih, ia berhasil mencatatkan prestasi sebagai runner-up Piala AFF 2004 dan juara Indonesian Independence Cup 2008. Dedikasinya di lapangan tengah selalu diingat karena visi bermain yang cerdas dan kepemimpinan yang tenang.

Setelah memutuskan pensiun di Borneo FC pada tahun 2017, Ponaryo tidak benar-benar meninggalkan dunia kulit bundar. Saat ini, ia tetap aktif berkontribusi bagi kemajuan sepak bola Indonesia dengan menjabat sebagai Direktur Utama atau CEO di tim Pesut Etam.

Kisah antara Ponaryo Astaman dan Bima Sakti ini membuktikan bahwa rasa hormat kepada senior dapat menjadi bahan bakar utama bagi seorang pemain untuk meraih kesuksesan. Dari seorang penggemar yang meminta jersey, Ponaryo tumbuh menjadi sosok yang sejajar dengan idolanya tersebut.

Artikel terkait

Rekomendasi