PT Pertamina Patra Niaga terus menunjukkan komitmennya dalam menyokong ketahanan pangan nasional di Indonesia. Langkah ini diwujudkan melalui inisiatif Community Involvement and Development (CID) yang mengedepankan pemberdayaan potensi lokal.
Program pemberdayaan ini tidak hanya fokus pada penyediaan stok pangan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan. Lebih dari itu, inisiatif ini dirancang untuk menciptakan peluang ekonomi baru yang mandiri dan berkelanjutan.
Salah satu penerima manfaat, Asih, yang tergabung dalam Kelompok Habonaron, mengungkapkan dampak positif yang dirasakan langsung oleh keluarganya. Ia menjelaskan bahwa bantuan dari perusahaan telah membantu memenuhi kebutuhan gizi harian anak-anaknya.
Menurut Asih, hasil dari kegiatan peternakan yang dikelola kelompoknya kini bisa diandalkan untuk menyediakan sarapan bergizi bagi buah hatinya. Hal ini menunjukkan bahwa program tersebut memberikan solusi nyata bagi kebutuhan dasar rumah tangga.
Inovasi Bioflok di Wilayah Pesisir Dumai
Salah satu proyek percontohan yang menjadi sorotan berlokasi di Kelurahan Mundam, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Riau. Di wilayah ini, Pertamina Patra Niaga memperkenalkan budidaya ikan nila dengan memanfaatkan teknologi bioflok.
Kehadiran teknologi ini menjadi angin segar bagi masyarakat pesisir yang selama ini sangat bergantung pada hasil tangkapan laut. Melalui metode ini, warga kini memiliki alternatif penghasilan yang tidak lagi terhambat oleh faktor cuaca ekstrem.
Beberapa kendala utama yang dihadapi nelayan setempat sebelum adanya program ini antara lain:
- Ketergantungan tinggi pada kondisi cuaca yang sering tidak menentu untuk melaut.
- Terbatasnya sarana dan prasarana perikanan yang dimiliki oleh masyarakat tradisional.
- Ancaman abrasi pantai yang merusak area pemukiman dan tempat mata pencaharian.
- Masa tunggu panen yang lama jika menggunakan metode budidaya konvensional.
Penerapan sistem bioflok memungkinkan masyarakat memanen ikan nila dalam kurun waktu empat hingga enam bulan saja. Metode ini terbukti lebih efisien dan stabil dibandingkan harus melaut di tengah ketidakpastian kondisi alam.
Integrasi Energi Terbarukan dan Dampak Lingkungan
Program budidaya di Dumai ini juga mengadopsi prinsip ramah lingkungan dengan mengintegrasikan energi terbarukan. Fasilitas budidaya tersebut dilengkapi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai sumber energi utama.
PLTS yang dipasang memiliki kapasitas sebesar 4,4 kWp yang digunakan untuk mendukung operasional alat-alat budidaya. Penggunaan energi surya ini terbukti mampu menekan biaya operasional secara signifikan bagi kelompok masyarakat.
Berikut adalah ringkasan manfaat teknis dan ekonomis dari penggunaan teknologi PLTS tersebut:
| Kategori Manfaat | Detail Pencapaian |
|---|---|
| Kapasitas Listrik | 4,4 kWp (Kilowatt Peak) |
| Efisiensi Biaya | Hemat Rp9,3 Juta per tahun |
| Dampak Lingkungan | Reduksi emisi 5,52 ton CO2 per tahun |
| Fokus Teknologi | Integrasi Energi Hijau dan Pangan |
Data tersebut menunjukkan bahwa sinergi antara teknologi pangan dan energi hijau memberikan dampak ganda bagi warga. Selain mendapatkan keuntungan ekonomi, masyarakat juga berkontribusi langsung dalam upaya pengurangan emisi karbon dunia.
Melalui berbagai inovasi ini, Pertamina Patra Niaga berupaya memastikan bahwa ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan dapat berjalan beriringan. Perusahaan berharap model pemberdayaan ini dapat terus berkembang dan menginspirasi wilayah lain di Indonesia.