Kondisi ekonomi yang dinamis mulai berdampak langsung pada sektor perdagangan hewan ternak menjelang perayaan Idul Adha. Salah satu pedagang sapi di kawasan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Haikal F. Marham (25), mengungkapkan bahwa omzet penjualannya mengalami penurunan drastis tahun ini.
Hingga memasuki tanggal 12 Dzulhijjah, lapak tempat Haikal bekerja tercatat baru berhasil menjual sebanyak 67 ekor sapi. Angka ini menunjukkan penurunan yang signifikan jika dibandingkan dengan pencapaian pada periode Idul Adha tahun sebelumnya.
Haikal mengenang bahwa pada tahun lalu, permintaan masyarakat jauh lebih tinggi dengan total penjualan mencapai sekitar 130 ekor sapi. Perbedaan jumlah penjualan yang hampir mencapai dua kali lipat ini menunjukkan adanya perubahan pola konsumsi masyarakat dalam berkurban.
Pola Pembelian yang Berubah dan Lesu
Tidak hanya dari segi jumlah, waktu puncak pembelian pun mengalami pergeseran yang cukup terasa bagi para pedagang. Pada tahun 2025, konsumen sudah mulai ramai memesan hewan kurban sejak dua minggu sebelum hari raya tiba.
Kondisi berbeda terjadi tahun ini, di mana keramaian pembeli baru terlihat saat mendekati hari pelaksanaan atau sekitar H-4 dan H-3. Namun, Haikal menyebutkan bahwa peningkatan di hari-hari terakhir tersebut tetap tidak seramai biasanya dan tergolong biasa saja.
Meskipun pasar sapi sedang lesu, penjualan hewan kurban jenis kambing relatif masih stabil di angka 150 ekor. Hal ini dikarenakan lapak tempatnya bekerja sudah memiliki basis pelanggan tetap yang rutin memesan kambing setiap tahunnya.
Faktor Ekonomi dan Daya Beli Masyarakat
Penurunan minat beli sapi ini diduga kuat berkaitan erat dengan prioritas pengeluaran masyarakat yang kini lebih fokus pada kebutuhan pokok. Haikal menilai daya beli warga sedang terjepit sehingga banyak yang memilih untuk menahan dana mereka.
Fenomena ini ternyata tidak hanya terjadi di Jagakarsa, melainkan merata di berbagai wilayah penyangga ibu kota lainnya. Melalui jaringan sesama pedagang, Haikal mendapatkan informasi bahwa lesunya pasar juga dirasakan oleh rekan-rekannya.
Beberapa wilayah yang juga melaporkan penurunan tren penjualan hewan kurban di antaranya adalah:
- Wilayah Tangerang yang mengalami pergerakan pasar cenderung lambat di pertengahan musim.
- Daerah Bekasi yang melaporkan kondisi serupa dengan para pedagang yang saling berkoordinasi.
- Kawasan Depok yang juga merasakan imbas dari melemahnya faktor ekonomi nasional terhadap penjualan ternak.
Para pedagang hewan kurban ini umumnya mengambil pasokan ternak dari sumber yang sama, yakni peternak di wilayah Lampung. Komunikasi antar pedagang lintas wilayah ini menjadi tolok ukur bahwa kondisi pasar saat ini memang sedang mengalami tantangan besar.
Haikal menyimpulkan bahwa merosotnya kondisi ekonomi memberikan dampak domino yang langsung menyentuh para pelaku usaha di sektor peternakan. Harapannya, kondisi ini dapat segera membaik agar gairah ibadah kurban dan ekonomi kerakyatan kembali meningkat.