Peluang investasi di dunia startup saat ini menghadapi tantangan besar akibat dampak dari masa "tech winter" yang masih belum menunjukkan tanda-tanda kapan akan berakhir. Situasi yang tidak menentu ini memaksa para investor dan perusahaan modal ventura untuk bersikap lebih selektif dalam mendanai perusahaan rintisan baru.
Di wilayah Indonesia dan Asia Tenggara, banyak startup kini memilih untuk fokus pada aspek efisiensi, profitabilitas, dan keberlanjutan bisnis daripada melakukan ekspansi yang terlalu agresif. "Tech winter" merujuk pada periode di mana pendanaan dari investor menjadi lebih ketat, dipengaruhi oleh kenaikan suku bunga, ketidakpastian geopolitik, serta tekanan makroekonomi lainnya yang menaikkan biaya modal.
Laporan Indonesia Startup Report 2026 oleh DiscoveryShift, yang didukung oleh GarudaSpark Innovation Hub di bawah naungan Kementerian Komunikasi dan Digital Indonesia, menunjukkan bahwa penurunan pendanaan startup lebih banyak disebabkan oleh pengetatan likuiditas global serta kenaikan suku bunga AS, bukan karena kelemahan struktural dari ekonomi digital Indonesia.
Ada beberapa hal penting dari laporan tersebut, yaitu meski total pendanaan mengalami penurunan signifikan dibandingkan masa booming 2020–2022, pendanaan untuk tahap lanjutan atau later-stage funding masih tetap stabil. Transaksi besar pada tahap Seri B dan Seri C berhasil menyerap sebagian besar modal yang tersedia.
Data dalam laporan tersebut memperlihatkan bahwa 67% transaksi startup terjadi di tahap awal atau early stage. Namun, hanya 15% dari startup tahap seed yang berhasil mendapatkan pendanaan ke tahap Seri A, mencerminkan persaingan ketat dan proses pemilihan investor yang semakin selektif.
Dalam hal sektor, aliran modal sepanjang 2025 masih didominasi oleh New Retail, Fintech, dan E-commerce. Namun, ekosistem startup di Indonesia saat ini juga sedang menghadapi tantangan lain, yaitu meningkatnya kekhawatiran terhadap tata kelola perusahaan dan akuntabilitas para pendiri startup.
Selama beberapa tahun terakhir, industri startup mengalami gelombang PHK massal, penutupan usaha, dan langkah efisiensi yang agresif sebagai upaya menghadapi penurunan pendanaan. Masalah ini awalnya lebih banyak dikaitkan dengan kondisi makroekonomi, termasuk kenaikan suku bunga dan perubahan tren investasi global.
Namun sekarang, perhatian mulai bergeser ke arah kualitas kepemimpinan dan standar tata kelola dari dalam startup itu sendiri. Beberapa kontroversi yang melibatkan pendiri dan tim manajemen startup memicu diskusi yang lebih luas mengenai transparansi, akuntabilitas, dan keberlanjutan ekonomi digital di Indonesia.
```