Harga minyak mentah dunia kembali mencatatkan kenaikan signifikan lebih dari 1 persen pada penutupan perdagangan Kamis (22/5). Lonjakan harga ini dipicu oleh kabar mengenai kebuntuan proses negosiasi damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Kondisi ini memicu kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar global mengenai stabilitas pasokan energi. Pasar bereaksi terhadap potensi berlanjutnya gangguan distribusi minyak jika ketegangan di Timur Tengah tidak segera mereda.
Instruksi Pemimpin Tertinggi Iran Persulit Kesepakatan
Laporan terbaru menyebutkan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran telah memberikan instruksi tegas terkait program nuklir mereka. Ia melarang pengiriman uranium yang telah diperkaya mendekati tingkat senjata ke luar wilayah Iran.
Keputusan tersebut dinilai memperkeras posisi tawar Teheran terhadap tuntutan utama yang diajukan oleh Amerika Serikat. Hal ini membuat jalan menuju kesepakatan damai menjadi semakin terjal dan penuh komplikasi.
Menurut sumber senior Iran yang dikutip melalui Reuters, langkah tersebut berisiko menghambat upaya diplomatik yang sedang berjalan. Padahal, negosiasi ini sangat krusial untuk mengakhiri konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Pergerakan Harga Minyak Mentah di Pasar Global
Kenaikan harga terjadi pada dua acuan minyak mentah utama dunia dengan persentase yang cukup stabil. Berikut adalah rincian kenaikan harga minyak pada sesi perdagangan tersebut:
Ringkasan harga minyak mentah terbaru:
| Jenis Minyak Mentah | Harga Per Barel | Kenaikan (Nominal) | Kenaikan (Persen) |
|---|---|---|---|
| Brent | USD 106,41 | USD 1,39 | 1,3% |
| West Texas Intermediate (WTI) | USD 99,82 | USD 1,56 | 1,6% |
Data di atas menunjukkan pemulihan harga setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan tajam. Sehari sebelumnya, kedua acuan harga minyak sempat anjlok sekitar 5,6 persen ke level terendah dalam sepekan terakhir.
Dinamika Diplomasi dan Tekanan Global
Meskipun situasi memanas, sejumlah upaya diplomatik dari negara lain masih terus dilakukan. Pakistan dilaporkan mulai meningkatkan peran mereka untuk mempercepat jalannya pembicaraan damai di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Iran saat ini tengah mempelajari respons terbaru yang diberikan oleh pihak Amerika Serikat. Ketidakpastian mengenai hasil tinjauan ini membuat pasar tetap waspada terhadap volatilitas harga ke depan.
Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal bahwa dirinya bersedia memberikan waktu tambahan bagi Iran untuk merespons. Namun, ia tetap menegaskan bahwa opsi aksi militer lanjutan masih terbuka jika kesepakatan tidak tercapai.
Situasi ini menciptakan spekulasi yang beragam di lantai bursa energi global. Para investor kini menantikan langkah konkret dari kedua belah pihak guna menentukan arah harga minyak di masa mendatang.