Istilah neuroscience atau ilmu saraf semakin sering terdengar dalam percakapan sehari-hari, terutama dalam beberapa tahun terakhir. Istilah ini kerap muncul saat masyarakat membahas topik seputar pengendalian emosi hingga isu kesehatan mental yang kini kian populer.
Lantas, apa sebenarnya yang dipelajari dalam bidang ilmu saraf ini? Trisa Triandesa, seorang neuroscience communicator, memberikan penjelasan mendalam mengenai disiplin ilmu yang mempelajari organ paling kompleks dalam tubuh manusia tersebut.
Menurut Trisa, secara sederhana neuroscience adalah studi yang mengeksplorasi struktur dan fungsi otak manusia secara mendalam. Hal ini menjadi krusial karena otak merupakan pusat pengendali dari segala aspek kehidupan yang dialami manusia setiap harinya.
Segala sesuatu yang kita rasakan, apa yang terlintas dalam pikiran, hingga perilaku yang ditunjukkan, semuanya bermuara dan terjadi di dalam otak. Mempelajari ilmu ini membantu kita memahami bagaimana organ tersebut memengaruhi cara berpikir dan bertindak seseorang.
Mengenal Berbagai Cabang Ilmu Neuroscience
Bidang studi neuroscience ternyata sangat luas dan memiliki banyak spesialisasi, tidak terbatas pada satu fokus saja. Trisa memberikan gambaran bahwa bidang ini memiliki keragaman yang mirip dengan dunia kedokteran yang memiliki banyak spesialis.
Sebagaimana kedokteran memiliki dokter spesialis mata, kulit, atau THT, ilmu saraf juga memiliki banyak turunan disiplin ilmu. Beberapa di antaranya meliputi cognitive neuroscience, affective neuroscience, hingga cellular neuroscience yang mempelajari tingkat sel.
Selain itu, terdapat pula cabang lain seperti educational neuroscience yang berfokus pada dunia pendidikan. Ada juga computational neuroscience yang menggabungkan prinsip matematika dan simulasi komputer untuk memahami cara kerja otak.
Trisa sendiri merupakan lulusan MSc Cognitive Neuroscience and Neuropsychology dari Birkbeck, University of London. Sebelumnya, ia menempuh pendidikan sarjana di jurusan psikologi Universitas Kristen Maranatha Bandung yang menjadi landasan bagi studi lanjutannya.
Pilihan Jurusan Bagi Peminat Ilmu Saraf
Banyak yang bertanya-tanya apakah ilmu saraf termasuk dalam kategori STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika) atau justru masuk dalam bidang humaniora. Trisa menjelaskan bahwa hal tersebut sangat bergantung pada konsentrasi atau cabang yang dipilih oleh mahasiswa.
Berikut adalah beberapa jalur akademik yang bisa ditempuh untuk mendalami neuroscience :
- Lulusan Psikologi: Sangat relevan jika ingin melanjutkan studi ke arah cognitive neuroscience karena memiliki dasar pemahaman perilaku manusia yang kuat.
- Lulusan Teknik Informatika atau Komputer: Dapat mengambil spesialisasi computational neuroscience untuk merancang model simulasi fungsi otak melalui bahasa pemrograman atau coding.
- Lulusan Kedokteran atau Biologi: Sangat cocok jika ingin mendalami sisi medis melalui clinical neuroscience atau meneliti mekanisme biologis di cellular neuroscience.
Penulis buku "Moving Forward Not Moving On: Belajar Ngerti Perasaan Sendiri Lewat Neurosains" ini menekankan pentingnya mengetahui minat spesifik sebelum memilih jurusan. Luasnya cakupan ilmu ini memungkinkan individu dari berbagai latar belakang pendidikan untuk berkontribusi sesuai keahliannya.
Apa Saja yang Dipelajari Selama Kuliah?
Selama menempuh studi jenjang S2, Trisa mengungkapkan bahwa ia banyak mempelajari anatomi dan struktur fisik otak manusia. Materi kuliahnya juga mencakup ilmu biologi guna memahami bagaimana fungsi-fungsi organ tubuh saling berkaitan satu sama lain.
Terkait penggunaan kadaver atau jenazah untuk praktikum, Trisa menyebutkan bahwa hal tersebut biasanya bergantung pada konsentrasi yang diambil. Mahasiswa di bidang clinical atau cellular neuroscience mungkin lebih sering berinteraksi langsung dengan spesimen otak fisik.
Selain anatomi, mahasiswa juga dibekali dengan kemampuan menggunakan berbagai teknologi pemindaian otak yang canggih. Teknologi ini digunakan untuk melihat aktivitas saraf secara langsung tanpa harus melakukan tindakan pembedahan yang berisiko.
Beberapa teknologi dan alat riset yang sering digunakan dalam studi neuroscience antara lain :
- Elektroensefalografi (EEG): Alat ini berfungsi untuk mengukur dan merekam aktivitas listrik yang terjadi di dalam otak melalui sensor di permukaan kepala.
- Magnetic Resonance Imaging (MRI): Prosedur pemindaian medis menggunakan medan magnet kuat dan gelombang radio untuk menghasilkan citra detail struktur otak tanpa paparan radiasi.
- Neuroimaging: Berbagai teknik pemindaian lainnya yang digunakan untuk memetakan fungsi serta struktur otak secara visual dalam riset-riset ilmiah.
Trisa menceritakan pengalamannya saat mengerjakan disertasi yang mengharuskannya melakukan penelitian di laboratorium dengan menggunakan alat EEG. Sementara itu, rekan-rekan mahasiswanya yang lain ada yang lebih fokus menggunakan data-data hasil pemindaian MRI sesuai kebutuhan riset masing-masing.
Tantangan Belajar dan Mata Pelajaran yang Harus Dikuasai
Mempelajari ilmu saraf diakui Trisa memiliki tantangan tersendiri karena sifatnya yang multidisipliner. Belajar tentang otak tidak hanya soal biologi, namun juga melibatkan pemahaman mendalam tentang prinsip-prinsip fisika dan reaksi kimia.
Dalam cognitive neuroscience, tantangannya adalah memahami bagaimana otak memproses informasi yang dipengaruhi oleh multifaktor. Hal ini mencakup pengaruh lingkungan sekitar hingga latar belakang budaya yang membentuk persepsi dan respons seseorang terhadap informasi tersebut.
Meskipun sulit, Trisa merasa proses belajar ini sangat menyenangkan karena memberikan perspektif yang lebih utuh mengenai manusia. Ia bisa melihat keterkaitan antara struktur biologis dengan perilaku kompleks yang ditunjukkan individu dalam kehidupan sosial.
Bagi para pelajar yang tertarik untuk menekuni bidang ini di masa depan, Trisa memberikan saran mengenai mata pelajaran yang harus diperkuat. Fondasi yang kuat di bangku sekolah akan sangat membantu saat memasuki jenjang perkuliahan yang lebih spesifik.
Daftar mata pelajaran utama yang menjadi fondasi penting untuk belajar neuroscience :
| Mata Pelajaran | Alasan dan Kegunaan |
|---|---|
| Biologi | Merupakan dasar utama untuk memahami struktur sel saraf dan anatomi organ manusia. |
| Fisika | Dibutuhkan untuk memahami cara kerja mesin pemindaian otak seperti MRI dan pembacaan datanya. |
| Kimia | Penting untuk memahami proses transmisi sinyal kimiawi antar saraf di dalam otak. |
Meskipun fisika dan kimia tidak perlu dipelajari hingga sangat mendalam, pemahaman yang cukup tetap diperlukan untuk mengoperasikan teknologi medis. Namun, Trisa menegaskan bahwa biologi tetap menjadi mata pelajaran yang paling krusial bagi siapa pun yang ingin menjadi pakar ilmu saraf.
Bagi kamu yang memiliki minat besar pada cara kerja pikiran dan kesehatan mental, bidang neuroscience menawarkan peluang karier yang menjanjikan. Dengan persiapan yang matang sejak dini, memahami misteri di balik otak manusia bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.