Minuman jenis cold-pressed juice kini tengah menjadi tren dan sering kali dianggap sebagai pilihan yang jauh lebih sehat daripada jus yang dibuat menggunakan blender biasa. Banyak gerai minuman menjual jus ini dengan harga yang lebih mahal karena diklaim mampu menjaga kualitas nutrisi buah dan sayur secara lebih optimal.
Anggapan tersebut didasari oleh cara kerja metode cold-pressed yang mengekstrak sari buah dengan cara menekan bahan tanpa menimbulkan panas berlebih. Berbeda dengan blender berkecepatan tinggi, proses ini minim paparan oksigen sehingga dipercaya efektif dalam melindungi vitamin dan senyawa antioksidan yang sensitif terhadap suhu.
Dampak Metode Pengolahan terhadap Kandungan Nutrisi
Beberapa penelitian memang menunjukkan adanya potensi keunggulan nutrisi pada metode pengolahan dengan kecepatan rendah atau low-speed masticating. Sebagai contoh, studi pada jus anggur menunjukkan bahwa kandungan polifenol dalam metode ini mencapai 327 mg per 100 mL, lebih tinggi dibanding blender yang hanya sekitar 250 mg.
Kadar vitamin C pada metode serupa cold-pressed juga tercatat paling tinggi, yakni sekitar 0,78 mg per 100 mL. Angka tersebut jauh lebih unggul jika dibandingkan dengan penggunaan blender yang berada di angka 0,40 mg dan juicer sentrifugal yang hanya mencapai 0,17 mg.
Berikut adalah ringkasan perbandingan nutrisi pada jus anggur berdasarkan alat pengolahannya:
| Metode Pengolahan | Kandungan Polifenol (mg/100 mL) | Kandungan Vitamin C (mg/100 mL) |
|---|---|---|
| Low-speed/Cold-pressed | 327 | 0,78 |
| Blender Konvensional | 250 | 0,40 |
| Juicer Sentrifugal | 90 | 0,17 |
Data di atas memperlihatkan perbedaan signifikan pada jenis buah tertentu, terutama dalam menjaga senyawa yang mudah rusak akibat panas dan oksidasi. Namun, hasil yang sama tidak selalu ditemukan pada semua jenis buah dan sayuran yang diuji oleh para peneliti.
Fakta Lain Mengenai Klaim Cold-Pressed Juice
Meskipun tampak lebih unggul, penelitian lain pada buah nanas, jambu biji, wortel, dan buah naga justru menunjukkan hasil yang berbeda. Studi tersebut menemukan tidak ada perbedaan mencolok pada kadar vitamin C, total fenolik, karotenoid, maupun kapasitas antioksidan antara metode cold-pressed dan juicer biasa.
Temuan ini memberikan perspektif baru bahwa label cold-pressed bukanlah jaminan mutlak atas kualitas gizi yang jauh lebih tinggi. Para peneliti menekankan bahwa kualitas akhir sebuah jus sangat bergantung pada variabel lain di luar sekadar alat yang digunakan.
Beberapa faktor utama yang memengaruhi kualitas nutrisi dalam segelas jus meliputi:
- Jenis Bahan Baku: Setiap buah dan sayur memiliki karakteristik ketahanan nutrisi yang berbeda terhadap proses pengolahan.
- Teknik Pengolahan: Kecepatan putaran alat dan paparan suhu selama proses ekstraksi berlangsung.
- Durasi Penyimpanan: Lama waktu jus didiamkan setelah dibuat sangat memengaruhi tingkat oksidasi nutrisi.
- Kandungan Serat: Blender biasanya mempertahankan serat (pulp), sementara cold-pressed cenderung hanya mengambil sarinya saja.
Dengan demikian, mengonsumsi jus yang dibuat dengan blender di rumah tetap memberikan manfaat kesehatan yang besar bagi tubuh. Hal terpenting adalah segera meminum jus setelah dibuat agar asupan vitamin dan antioksidan yang didapatkan tetap maksimal.