Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah mengambil langkah strategis dengan mengirimkan surat resmi kepada Badan Gizi Nasional (BGN). Upaya ini dilakukan guna mendorong penyerapan stok telur dari peternak lokal di tengah kondisi pasar yang sedang lesu.
Langkah tersebut diambil menyusul merosotnya harga telur di tingkat peternak sejak awal Mei lalu. Dirjen PKH Agung Suganda berharap Badan Gizi Nasional dapat menginstruksikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk memprioritaskan telur lokal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dukungan untuk Peternak Lokal Melalui Program MBG
Agung Suganda menjelaskan bahwa usulan ini bertujuan agar menu pangan dalam program Makan Bergizi Gratis lebih banyak menggunakan telur peternak rakyat. Hal ini disampaikan secara resmi melalui keterangan tertulis pada Minggu (7/6/2026).
Kementan mendorong agar SPPG membeli telur langsung dari produsen dengan mengacu pada Harga Acuan Pembelian (HAP) sebesar Rp26.500 per kilogram. Dengan penetapan harga ini, diharapkan para peternak tidak mengalami kerugian akibat fluktuasi harga pasar yang tidak menentu.
Respons positif diberikan oleh Badan Gizi Nasional dengan menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor SE/01/06/V/2026. Edaran tersebut menginstruksikan seluruh satuan layanan di bawah koordinasi mereka untuk menyerap produksi telur lokal sesuai standar harga yang telah disepakati.
Koordinasi Pemerintah Atasi Anjloknya Harga Telur
Masalah jatuhnya harga telur ini juga menjadi pembahasan utama dalam Rapat Koordinasi (Rakortas) di Kementerian Perdagangan pada Kamis (4/6/2026). Menteri Perdagangan Budi Santoso menekankan pentingnya intervensi pemerintah di daerah-daerah sentra produksi.
Beberapa poin utama hasil koordinasi antar kementerian dan lembaga terkait meliputi:
- Instruksi kepada Badan Gizi Nasional untuk melakukan penyerapan telur di wilayah dengan harga jual yang paling rendah.
- Pemberian izin penggunaan telur ayam ras dan daging sebagai komponen bantuan pangan nasional saat harga pasar sedang jatuh.
- Upaya menstabilkan kembali harga jual di tingkat produsen agar kembali menyentuh angka Harga Acuan Pembelian (HAP).
- Fokus penyerapan pada daerah sentra peternakan, khususnya di wilayah Jawa Timur seperti Blitar yang terdampak paling signifikan.
Kebijakan ini diharapkan mampu mendongkrak harga telur yang sempat tertekan. Melalui mekanisme bantuan pangan dan program gizi, kelebihan pasokan di pasar dapat dialihkan secara produktif untuk masyarakat.
Faktor Penyebab Turunnya Harga Telur
Sekretaris Jenderal Kementan, Suwandi, memaparkan bahwa ada beberapa faktor teknis yang memicu penurunan harga telur belakangan ini. Salah satunya adalah lonjakan produksi di berbagai pusat peternakan ayam petelur yang tidak dibarengi dengan kenaikan permintaan.
Kondisi ini diperparah oleh lambatnya serapan pasar selama periode libur panjang di bulan Mei. Akibatnya, stok di tingkat peternak menumpuk dan menekan harga jual hingga di bawah batas normal.
Berikut adalah ringkasan situasi pasar telur terkini:
| Indikator Pasar | Kondisi Terkini |
|---|---|
| Harga Acuan Pembelian (HAP) | Rp26.500 per kilogram |
| Wilayah Terdampak Parah | Blitar dan Jawa Timur |
| Penyebab Utama | Produksi melimpah dan serapan liburan rendah |
| Solusi Pemerintah | Penyerapan melalui program Makan Bergizi Gratis |
Data di atas menunjukkan perlunya langkah konkret pemerintah untuk menjaga keseimbangan antara ketersediaan barang dan daya beli masyarakat. Meskipun sempat tertekan, saat ini kondisi pasar mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan.
Suwandi menambahkan bahwa seiring berakhirnya masa libur, aktivitas distribusi dan perdagangan kini mulai kembali ke pola normal. Peningkatan serapan di pasar tradisional diharapkan dapat segera menstabilkan pendapatan para peternak rakyat secara berkelanjutan.