Lewat Internet Rakyat, WIFI Targetkan 70 Juta Rumah Tangga di 2026

Lewat Internet Rakyat, WIFI Targetkan 70 Juta Rumah Tangga di 2026
Foto: Lewat Internet Rakyat, WIFI Targetkan 70 Juta Rumah Tangga di 2026. (Illustration by Pexels)
Ukuran teks

PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) merasa optimis bahwa layanan Internet Rakyat (IRA) akan menjadi kekuatan baru dalam industri fixed broadband di tanah air. Melalui inovasi ini, perusahaan menargetkan segmen masyarakat menengah ke bawah yang selama ini belum memiliki akses internet rumah.

Pasar potensial yang dibidik mencapai lebih dari 70 juta rumah tangga di seluruh Indonesia. Langkah strategis ini dilakukan melalui anak usaha WIFI, yaitu PT Telemedia Komunikasi Pratama (Telemedia).

Layanan Internet Rakyat telah resmi diluncurkan secara serentak di wilayah Regional I. Cakupan area ini meliputi seluruh Pulau Jawa, Maluku, hingga Papua.

Peluang Besar di Segmen Menengah ke Bawah

Shannedy Ong, selaku Direktur Utama Telemedia dan Direktur WIFI, menjelaskan bahwa pasar fixed broadband di Indonesia masih memiliki ruang tumbuh yang sangat luas. Hal ini didasarkan pada tingkat penetrasi yang saat ini baru menyentuh angka 20 hingga 22 persen.

Menurut Shannedy, layanan internet rumah yang ada saat ini mayoritas masih menyasar konsumen kelas premium. Kondisi tersebut menyisakan ceruk pasar yang sangat besar pada segmen menengah ke bawah yang belum terlayani secara optimal.

Ia mengungkapkan bahwa masyarakat di kategori tersebut merupakan target utama bagi layanan IRA yang menawarkan harga lebih terjangkau. Shannedy menyampaikan hal ini di sela-sela acara peluncuran IRA pada Selasa (26/5/2026).

Meskipun penetrasi internet secara umum di Indonesia sudah mencapai 85 persen, Shannedy menekankan bahwa angka tersebut didominasi oleh penggunaan internet seluler (mobile internet). Kondisi ini berbeda jauh dengan infrastruktur internet rumah atau fixed broadband.

Perbedaan mencolok terlihat jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga yang penetrasi internet rumahnya sudah melampaui angka 50 persen. "Indonesia masih tertinggal jauh karena penetrasi fixed broadband kita hanya berada di kisaran 20-22 persen," jelasnya.

Strategi Harga dan Target Pendapatan

Melalui Internet Rakyat, perusahaan menawarkan kecepatan akses hingga 100 Mbps dengan biaya hanya Rp 100.000 per bulan. Tarif kompetitif ini diharapkan mampu mempercepat peningkatan penetrasi internet rumah secara nasional sekaligus menarik basis pelanggan secara agresif.

Potensi pertumbuhan pelanggan ini diyakini akan memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap pendapatan perusahaan di masa depan. Shannedy memberikan gambaran mengenai potensi keuntungan jika target pelanggan aktif berhasil tercapai.

Ia mencontohkan, apabila layanan IRA mampu menggaet sekitar 5 juta pelanggan pada tahun 2026, maka akumulasi pendapatan perusahaan akan melonjak drastis. Perhitungan sederhana dari jumlah pelanggan dikalikan tarif bulanan menunjukkan nilai ekonomi yang sangat besar.

"Artinya dengan tarif Rp 100.000, bayangkan jika ada 5 juta pelanggan, total pendapatan bisa dihitung sendiri besarnya," ungkap Shannedy memberikan ilustrasi.

Inovasi Model Bisnis yang Berbeda

Di tengah persaingan ketat antar penyedia layanan internet (ISP), Shannedy menegaskan bahwa IRA menggunakan pendekatan bisnis yang berbeda dari para pemain lama. Perusahaan telah melakukan perombakan total pada struktur model bisnis dan desain jaringan mereka.

Strategi distribusi juga ditata ulang agar perusahaan tetap bisa memberikan harga murah tanpa harus mengorbankan kualitas layanan. Pihak manajemen mengaku telah mempelajari model bisnis ISP konvensional selama satu dekade terakhir untuk mencari celah efisiensi.

Beberapa faktor kunci yang membuat layanan Internet Rakyat lebih efisien dibandingkan kompetitor adalah:

  • Penggunaan desain jaringan khusus yang lebih modern dan adaptif terhadap kebutuhan wilayah.
  • Penerapan split ratio yang berbeda dari operator fixed broadband pada umumnya.
  • Kolaborasi strategis dengan ISP lokal melalui skema bagi hasil atau revenue sharing.
  • Optimalisasi biaya operasional agar tarif bulanan tetap ramah di kantong masyarakat luas.

Langkah-langkah tersebut merupakan upaya rekonstruksi menyeluruh agar target harga Rp 100.000 per bulan tetap masuk akal secara bisnis. Shannedy menilai, layanan dengan harga semurah itu akan sangat sulit diwujudkan jika masih menggunakan metode lama seperti mayoritas operator saat ini.

Kehadiran layanan ini diharapkan tidak hanya menguntungkan perusahaan, tetapi juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi digital bagi masyarakat di pelosok daerah. Dengan akses internet yang merata, kesenjangan digital antar wilayah di Indonesia diharapkan dapat segera terkikis.

Artikel terkait

Rekomendasi